- Asia Pasifik (APAC) menunjukkan adopsi AI mingguan sebesar 78%, didorong oleh konektivitas konsumen dan populasi muda yang melek teknologi.
- Perkembangan AI mendefinisikan ulang ancaman siber, dengan deepfake menjadi arus utama dan meningkatnya kualitas konten palsu secara umum.
- AI akan menjadi alat lintas rantai dalam serangan siber, namun juga meningkatkan kemampuan pertahanan melalui analisis dan pengambilan keputusan yang lebih cerdas.
Suara.com - Kawasan Asia Pasifik (APAC), sebanyak 78 persen profesional yang disurvei sudah menggunakan AI setidaknya setiap minggu, dibandingkan dengan 72 persen secara global.
Hal ini menyoroti adopsi AI yang cepat dan luas di kawasan ini dalam alur kerja sehari-hari.
Namun, yang benar-benar membedakan Asia Pasifik adalah bagaimana AI berakar, yakni adopsi meningkat didukung oleh konsumen yang sangat terhubung, penetrasi perangkat yang masif, dan populasi muda yang melek teknologi yang mengintegrasikan AI ke dalam pengalaman sehari-hari mereka jauh sebelum banyak perusahaan secara resmi meluncurkannya.
Momentum dari bawah ke atas ini, diperkuat oleh investasi yang kuat, strategi yang dipimpin CEO, dan perkembangan pesat pasar digital.
Kondisi ini mengubah Asia Pasifik menjadi tempat pembuktian AI paling dinamis di dunia, tempat perusahaan "AI Frontier" lahir dan tempat masa depan transformasi perusahaan muncul pertama kali.
Seiring percepatan adopsi AI di seluruh kawasan ini, implikasinya meluas jauh melampaui produktivitas perusahaan dan pengalaman pelanggan.
Bagi para pemimpin keamanan siber, posisi Asia Pasifik di bidang inovasi AI menjadikannya model sekaligus peringatan bahwa teknologi yang sama yang mendorong transformasi bisnis juga mendefinisikan ulang bagaimana ancaman siber dibuat, diotomatisasi, dan disebarkan.
Para ahli Kaspersky menguraikan bagaimana perkembangan AI membentuk kembali lanskap keamanan siber pada tahun 2026, baik untuk pengguna individu maupun bisnis.
LLM (Learning and Learning Models) memengaruhi kemampuan pertahanan sekaligus memperluas peluang bagi pelaku ancaman.
Baca Juga: 7 HP Kamera AI Terbaik Harga Rp1 Jutaan, Foto Auto Jernih Tanpa Editing
1. Deepfake menjadi teknologi arus utama, dan kesadaran akan terus meningkat.
Perusahaan semakin banyak membahas risiko konten sintetis dan melatih karyawan untuk mengurangi kemungkinan menjadi korban.
Seiring bertambahnya volume deepfake, semakin beragam pula format kemunculannya.
Pada saat yang sama, kesadaran meningkat tidak hanya di dalam organisasi tetapi juga di antara pengguna biasa, dimana konsumen akhir lebih sering menemukan konten palsu dan lebih memahami sifat ancaman tersebut.
Akibatnya, deepfake menjadi elemen tetap dalam agenda keamanan, yang membutuhkan pendekatan sistematis untuk pelatihan dan kebijakan internal.
2. Kualitas deepfake akan meningkat melalui audio yang lebih baik dan hambatan masuk yang lebih rendah.