Paspor hingga Kartu Identitas Dijual Mulai Rp250 Ribuan di Dark Web

Dythia Novianty Suara.Com
Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:39 WIB
Paspor hingga Kartu Identitas Dijual Mulai Rp250 Ribuan di Dark Web
Ilustrasi KTP. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Riset Kaspersky sepanjang Januari hingga September 2025 mengungkap 88,5% serangan siber fokus mencuri kredensial akun daring.
  • Dokumen pribadi seperti paspor dan kartu identitas dijual ilegal di dark web dengan harga rata-rata Rp253.637.
  • Data curian dikumpulkan, digabungkan, dan dijual kembali, dengan akses perbankan online paling mahal seharga Rp5,92 juta.

Suara.com - Ancaman phishing dan penipuan digital semakin mengkhawatirkan. Riset terbaru Kaspersky mengungkap bahwa dokumen pribadi seperti paspor dan kartu identitas kini diperjualbelikan secara ilegal dengan harga rata-rata sekitar Rp250 ribuan di pasar gelap internet atau dark web.

Dalam analisis kampanye phishing dan penipuan yang diamati sepanjang Januari hingga September 2025, Kaspersky menemukan bahwa 88,5 persen serangan siber bertujuan mencuri kredensial akun online, mulai dari username hingga kata sandi.

Sementara itu, 9,5 persen serangan menyasar data pribadi seperti nama lengkap, alamat, dan tanggal lahir, dan 2 persen lainnya menargetkan detail kartu perbankan.

Berdasarkan riset tersebut, sebagian besar halaman phishing menyalurkan data curian melalui email, bot Telegram, atau panel khusus yang dikendalikan pelaku, sebelum akhirnya masuk ke jalur penjualan ulang secara ilegal.

Menariknya, data yang dicuri melalui phishing jarang dimanfaatkan hanya sekali.

Kredensial dari berbagai kampanye biasanya dikumpulkan, digabungkan, lalu dijual kembali sebagai kumpulan data di dark web. Dalam beberapa kasus, harga data ini dipatok serendah 50 dolar AS atau sekitar Rp845 ribuan.

Setelah dibeli, data tersebut akan disortir dan diverifikasi ulang oleh pembeli untuk memastikan akun masih aktif dan dapat digunakan di berbagai layanan digital.

Menurut laporan Kaspersky Digital Footprint Intelligence, harga rata-rata data curian sepanjang 2025 sangat bervariasi.

Ilustrasi Phising. [Freepik]
Ilustrasi Phising. [Freepik]

Akses ke portal internet global dijual mulai 0,90 dolar AS, sementara akun platform kripto bisa mencapai 105 dolar AS atau sekitar Rp1,78 juta.

Baca Juga: Waspada! Serangan Phishing Lewat Kode QR Meledak hingga 5 Kali Lipat di Paruh Kedua 2025

Adapun akses perbankan online menjadi yang paling mahal, dengan harga mencapai 350 dolar AS atau sekitar Rp5,92 juta.

Tak hanya akun digital, dokumen pribadi seperti paspor atau kartu identitas juga menjadi komoditas bernilai.

Kaspersky mencatat, dokumen tersebut dijual dengan harga rata-rata sekitar 15 dolar AS atau Rp253.637, tergantung pada usia akun, saldo, metode pembayaran yang terhubung, serta pengaturan keamanannya.

Ketika kumpulan data ini terus diperkaya dan digabungkan, pelaku kejahatan siber dapat membangun profil digital yang sangat detail.

Profil tersebut kemudian digunakan untuk melancarkan serangan tertarget terhadap eksekutif perusahaan, staf keuangan, administrator TI, hingga individu yang memiliki aset bernilai atau dokumen sensitif.

“Sebagian besar kampanye phishing saat ini dibangun di sekitar pencurian kredensial karena akses, bukan satu titik data, menciptakan nilai jangka panjang bagi penyerang,” ujar Olga Altukhova, Analis Konten Web Senior di Kaspersky, dalam keterangan resminya, Sabtu (17/1/2026).

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI