- Diproyeksikan 678 juta perangkat IoT akan beredar di Indonesia pada 2025 dengan potensi nilai pasar mencapai 40 miliar dolar AS.
- Penguatan fondasi nasional mencakup standar, regulasi, dan ketersediaan 11.800 engineer IoT bersertifikasi untuk mendukung pertumbuhan.
- Indonesia harus mengatasi ketergantungan impor komponen sekaligus memastikan keamanan siber menghadapi peningkatan risiko global.
Suara.com - Ledakan perangkat terhubung di Indonesia memasuki babak baru. Jika sebelumnya Internet of Things (IoT) identik dengan konektivitas, kini arah pembahasannya bergeser, menjadi bagaimana jutaan sensor dan mesin itu membentuk “kecerdasan kolektif” untuk industri dan ekonomi nasional.
Dalam Musyawarah Nasional (Munas) III, Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) memaparkan proyeksi ambisius. Pada 2025, diperkirakan ada 678 juta perangkat IoT beredar di Indonesia dengan nilai pasar sekitar 40 miliar dolar AS atau setara Rp673 triliun.
Industri ini diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 14,7 persen, dan jumlah perangkat berpotensi menembus 800 juta unit dalam beberapa tahun ke depan.
Dari Standar hingga 11.800 Engineer
Ketua ASIOTI periode 2022–2025, Teguh Prasetya, menegaskan bahwa lonjakan perangkat harus diimbangi penguatan fondasi nasional, mulai dari standar hingga talenta.
“Pengembangan solusi IoT nasional menjadi kebutuhan mendesak seiring masifnya pertumbuhan perangkat di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resminya, Jumat (13/2/2026).
Sejak awal, ASIOTI mendorong penyusunan SNI IoT, penguatan regulasi, hingga best practice implementasi. Di sisi sumber daya manusia, asosiasi ini telah melahirkan 11.800 engineer IoT bersertifikasi yang diakui secara regional.
Namun, Teguh mengingatkan bahwa tantangan utama masih klasik: pemerataan jaringan. Tidak semua wilayah Indonesia memiliki kualitas konektivitas yang memadai untuk menopang sensor, perangkat monitoring, dan otomasi industri.
Pemanfaatan frekuensi unlicensed 433 MHz dan 920 MHz menjadi salah satu opsi untuk memperluas jangkauan.
Indonesia: Raksasa Pasar atau Pemain Industri?
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Reza, menyoroti posisi Indonesia dalam peta digital global. Dengan nilai ekonomi digital mencapai 130 miliar dolar AS, terbesar di Asia Tenggara, IoT dinilai krusial untuk mendongkrak daya saing industri.
Namun ia memberi catatan keras, yakni Indonesia masih terlalu dominan sebagai pasar.
Ketergantungan pada impor microcontroller dan mikroprosesor dinilai membuat rantai nilai industri IoT belum sepenuhnya dikuasai di dalam negeri.
Senada, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Ismail, M.T., menekankan bahwa IoT adalah pilar penting ekosistem digital karena menjadi ujung tombak optimalisasi sensor dan pemantauan jarak jauh.
Sementara itu, Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, mengingatkan bahwa IoT bukan semata urusan teknologi.