- Eksperimen BioAsteroid di ISS gunakan jamur untuk ekstraksi logam dari meteorit.
- Jamur terbukti lebih agresif memproduksi asam karboksilat dalam kondisi gravitasi mikro.
- Sebanyak 18 elemen, termasuk platinum, berhasil diekstraksi secara stabil menggunakan mikroba.
Suara.com - Seiring ambisi manusia untuk menjelajah lebih jauh ke luar angkasa, membawa logistik dari Bumi menjadi semakin tidak praktis dan mahal.
Solusinya? Kita harus belajar memanfaatkan sumber daya lokal di antariksa. Salah satu target paling potensial adalah meteorit atau asteroid yang kaya akan logam berharga seperti platinum.
Kabar terbarunya, sebuah eksperimen di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berhasil membuktikan bahwa mikroorganisme jamur bisa menjadi kunci utama dalam menambang harta karun di langit tersebut.
Proyek BioAsteroid: Melibatkan Bakteri dan Jamur
Dalam sebuah proyek penelitian bertajuk BioAsteroid, Profesor Charles Cockell dari University of Edinburgh bersama timnya menguji kemampuan ekstraksi elemen dari material asteroid jenis L-chondrite.
Mereka tidak bekerja sendirian, melainkan "mempekerjakan" dua jenis mikroba: bakteri Sphingomonas desiccabilis dan jamur Penicillium simplicissimum.
Eksperimen ini sangat krusial karena merupakan salah satu pengujian pertama yang dilakukan langsung di ISS menggunakan material meteorit asli dalam kondisi gravitasi mikro.
Dr. Rosa Santomartino, peneliti dari Cornell University dan University of Edinburgh, menjelaskan pentingnya keberagaman spesies dalam riset ini.
"Ini adalah dua spesies yang sepenuhnya berbeda, dan mereka akan mengekstraksi hal yang berbeda pula. Kami ingin memahami mekanisme perilaku mikroba di luar angkasa yang selama ini belum banyak diketahui," ungkapnya.
Baca Juga: ISS Pensiun! NASA Akan Jatuhkan Stasiun Luar Angkasa Raksasa ke 'Kuburan Satelit' pada 2031
Rahasia di Balik Asam Organik
Mengapa mikroba ini begitu sakti? Rahasianya terletak pada kemampuan mereka memproduksi asam karboksilat. Molekul karbon ini mampu "mengikat" mineral melalui proses kompleksasi, yang kemudian memicu pelepasan logam dari batuan.
Untuk melihat perbedaannya, astronot NASA Michael Scott Hopkins menjalankan eksperimen ini di ISS (gravitasi mikro), sementara para peneliti menjalankan kontrol serupa di laboratorium Bumi (gravitasi normal).
![Gambar mikroskop elektron pemindaian (SEM) dari fragmen L-kondrit dalam dua kondisi gravitasi. [Santomartino dkk]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/20/61440-gambar-mikroskop-elektron-pemindaian.jpg)
Hasilnya sangat menarik. Dari 44 elemen yang diuji, sebanyak 18 elemen berhasil diekstraksi secara biologis. Dr. Alessandro Stirpe mencatat sebuah temuan unik.
"Kami membagi analisis ke setiap elemen tunggal. Apakah ekstraksi di luar angkasa berbeda dengan di Bumi? Kami memang tidak melihat perbedaan masif secara keseluruhan, tapi ada beberapa detail yang sangat menarik." jelasnya.
Jamur Lebih Agresif di Luar Angkasa
Salah satu temuan paling menonjol adalah pada subjek jamur. Analisis metabolisme menunjukkan bahwa di luar angkasa, jamur meningkatkan produksi molekulnya secara signifikan, termasuk asam karboksilat.
Efeknya? Proses pelepasan logam mulia seperti palladium dan platinum menjadi jauh lebih efektif.
Menariknya lagi, jika ekstraksi kimia biasa (tanpa mikroba) cenderung kurang efektif dalam kondisi gravitasi mikro, kehadiran mikroba justru menjaga tingkat ekstraksi tetap stabil.
"Mikroba mungkin tidak selalu meningkatkan kecepatan ekstraksi secara drastis, tapi mereka menjaga level ekstraksi tetap stabil tanpa memedulikan kondisi gravitasi," tambah Dr. Santomartino.
Masa Depan Koloni Luar Angkasa
Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal npj Microgravity ini memberikan harapan besar bagi masa depan kolonisasi planet lain. Dengan memanfaatkan jamur dan bakteri, manusia tidak perlu lagi membawa mesin tambang berat ke luar angkasa.
Cukup bawa "bibit" mikroba ini, dan mereka akan membantu kita membangun peradaban baru dari material meteorit yang ada di sana.
Teknologi biomining ini membuktikan bahwa masa depan eksplorasi ruang angkasa mungkin tidak hanya bergantung pada roket besar, tapi juga pada organisme kecil yang bekerja dalam diam.