- Peneliti menemukan fenomena unik gerakan cacing di ruang sempit.
- Gerakan cacing di ruang sempit melaju cepat layaknya peluru.
- Prinsip gerakan cacing di ruang sempit diadaptasi untuk robotik.
Suara.com - Bagi manusia, berlari di lapangan terbuka jelas jauh lebih cepat dibandingkan harus merangkak di dalam terowongan sempit. Namun, hal unik justru terjadi pada cacing hitam California (Lumbriculus variegatus).
Cacing mungil ini ternyata bisa bergerak jauh lebih cepat saat melewati ruang yang terbatas dibandingkan ketika berada di area terbuka.
Temuan yang telah dipublikasikan di jurnal Physical Review Letters ini berawal dari eksperimen para peneliti menggunakan cacing air berukuran lebar 0,05 sentimeter dan panjang sekitar 2,5 hingga 5 sentimeter.
Dikutip dari Science News, dalam pengujian di saluran kaca berisi air, saat lebar saluran disesuaikan hanya sekitar dua kali lipat lebar tubuhnya, cacing tersebut mampu melesat cepat dan mencapai ujung lainnya hanya dalam waktu satu menit.
Sebaliknya, ketika diletakkan di saluran yang lebih lebar, cacing justru membutuhkan waktu hingga lima kali lebih lama untuk sampai ke ujung. Para peneliti juga memperkuat temuan ini melalui simulasi komputer yang menunjukkan pola pergerakan serupa pada saluran sempit.
Rahasianya ternyata terletak pada prinsip fisika gerakan dan kelenturan tubuh cacing. Di ruang yang luas, cacing cenderung banyak menggeliat tidak beraturan saat berusaha menyesuaikan diri dengan sekelilingnya.
Namun, dinding di ruang yang sempit justru membatasi gerakan meliuk-liuk tersebut, sehingga cacing memanfaatkan dinding saluran sebagai pijakan untuk meluncur lurus ke depan tanpa gangguan.
Semakin sempit ruangannya, fleksibilitas liukannya semakin berkurang sehingga cacing melaju lurus layaknya peluru.
Fenomena ini tergolong sangat langka di alam bebas. Berbeda dengan ular yang cenderung bergerak lebih lambat saat melewati celah sempit, cacing justru memanfaatkan kesempitan ruang untuk meningkatkan kecepatannya.
Penelitian ini belum membuktikan bahwa semua jenis atau spesies cacing (seperti cacing tanah biasa) memiliki kemampuan atau perilaku yang sama di ruang sempit.
Para peneliti dan insinyur kini berencana menerapkan prinsip fisika dari gerakan cacing ini untuk merancang robot lunak otonom (soft robots).
Teknologi robot mirip cacing ini diharapkan bisa membantu proses pencarian korban di reruntuhan bangunan pasca gempa bumi, memeriksa bagian dalam pipa, hingga mengirimkan obat ke dalam saluran tubuh manusia.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah