- Zimbra mengimbau organisasi di Indonesia memperbaiki celah keamanan server email dalam waktu 24 hingga 72 jam.
- BSSN mencatat 5,16 miliar anomali lalu lintas internet pada tahun 2025 yang didominasi oleh perangkat lunak berbahaya.
- CYFIRMA menemukan tingkat keberhasilan serangan phishing berbantuan kecerdasan buatan mencapai 54 hingga 60 persen.
Suara.com - Organisasi di Indonesia diminta mempercepat penanganan celah keamanan pada server email, terutama ketika kerentanan tersebut sudah dimanfaatkan peretas.
Zimbra mengimbau perusahaan dan instansi yang mengelola server email sendiri untuk melakukan perbaikan dalam waktu 24 hingga 72 jam setelah kerentanan terdeteksi dan dinilai berisiko tinggi.
Imbauan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman terhadap sistem digital, termasuk serangan phishing yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Server email menjadi salah satu infrastruktur penting yang perlu mendapat perhatian karena digunakan untuk komunikasi internal, pertukaran dokumen, hingga pengiriman informasi sensitif.
Zimbra, penyedia platform email dan kolaborasi berbasis open-core, menilai organisasi perlu memiliki prosedur penanganan kerentanan yang jelas.
Perbaikan keamanan tidak seharusnya menunggu jadwal pemeliharaan rutin, terutama jika celah yang ditemukan sudah diketahui dapat dieksploitasi oleh penyerang.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 5,16 miliar anomali lalu lintas internet sepanjang 2025. Sebanyak 93,78% anomali tersebut berkaitan dengan perangkat lunak berbahaya atau malware.
Meski demikian, anomali lalu lintas internet tidak serta-merta menunjukkan serangan siber yang berhasil. Angka tersebut lebih menggambarkan besarnya aktivitas yang perlu dipantau dan dianalisis untuk mendeteksi potensi ancaman.
Sementara itu, perusahaan riset keamanan siber CYFIRMA menemukan tingkat keberhasilan serangan phishing berbantuan AI mencapai 54 persen hingga 60 persen selama periode Desember 2025 hingga Mei 2026.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya penguatan pertahanan digital, termasuk memastikan kerentanan pada sistem email tidak dibiarkan terbuka terlalu lama.
Perbaikan Celah Keamanan Tak Bisa Menunggu
Chief Product Officer Synacor, Bret Cunningham, mengatakan organisasi yang mengelola infrastruktur email secara mandiri memiliki kendali lebih besar atas sistemnya.
Namun, tanggung jawab untuk memastikan pembaruan keamanan dilakukan tepat waktu juga berada di tangan organisasi tersebut.
Menurut Cunningham, perusahaan perlu menetapkan pihak yang berwenang mengambil keputusan ketika kerentanan serius diumumkan. Kejelasan tanggung jawab ini penting agar proses perbaikan tidak terhambat birokrasi internal.
"Organisasi yang mengelola infrastruktur email sendiri memiliki kendali lebih besar, tetapi juga bertanggung jawab penuh atas keputusan terkait pembaruan keamanan," ujar Cunningham dalam keterangan resminya, Sabtu (24/10/2026).