- OPPO dan Hasselblad melakukan riset bersama di China untuk memastikan kamera ponsel menghasilkan foto realistis.
- Kolaborasi sejak 2022 ini berfokus pada pengujian reproduksi warna, detail tekstur, serta efek bokeh yang alami.
- Jiang Linlin menyatakan pendekatan ini menggabungkan uji teknis dan perspektif profesional demi menjaga kualitas gambar.
Suara.com - Megapiksel sering menjadi salah satu pertimbangan ketika seseorang memilih smartphone dengan kamera berkualitas.
Namun, resolusi tinggi tidak otomatis menjamin foto terlihat realistis. Reproduksi warna, kemampuan menangkap detail, hingga efek blur pada latar belakang juga menentukan hasil akhir sebuah gambar.
Hal inilah yang menjadi perhatian OPPO dan Hasselblad dalam mengembangkan teknologi fotografi smartphone.
Keduanya melakukan riset dan pengujian bersama untuk memastikan kamera ponsel mampu menghasilkan foto yang tidak hanya tajam, tetapi juga mempertahankan karakter warna, cahaya, dan kedalaman objek seperti kondisi aslinya.
Kolaborasi yang dimulai sejak 2022 melalui OPPO Find X5 tersebut berlanjut dengan serangkaian pengujian di fasilitas pengembangan imaging Hasselblad di China.
Dalam prosesnya, ada tiga aspek utama yang menjadi perhatian, yakni reproduksi warna dan tonal, detail serta tekstur gambar, dan efek bokeh.
Chief Marketing Officer OPPO Indonesia, Jiang Linlin, mengatakan kualitas kamera tidak cukup hanya dinilai dari tingkat ketajaman atau kecerahan foto.
“Hal yang sama pentingnya adalah bagaimana kamera mampu mempertahankan warna, detail, serta karakter cahaya seperti yang dilihat pengguna secara langsung,” ujar Jiang dalam keterangan resmi, Sabtu (7/11/2026).
Menurutnya, melalui kolaborasi dengan Hasselblad, Oppo menggabungkan pengujian teknis dengan perspektif fotografi profesional untuk mengembangkan kamera yang tidak hanya menghasilkan foto berkualitas tinggi, tetapi juga tetap setia pada momen aslinya.
1. Reproduksi warna agar foto tidak terlihat berlebihan
Salah satu tantangan dalam fotografi smartphone adalah menghasilkan warna yang mendekati objek aslinya. Pemrosesan gambar yang terlalu agresif berpotensi membuat warna terlihat lebih mencolok, tetapi justru menjauh dari kondisi sebenarnya.
Untuk menguji aspek ini, OPPO dan Hasselblad menggunakan berbagai objek, mulai dari pensil warna, bagan warna, hingga permukaan logam reflektif.
Pengujian dilakukan dengan menyamakan kondisi pemotretan, termasuk jarak dan focal length, agar hasil kamera dapat dievaluasi secara konsisten.
Penilaian tidak hanya melihat akurasi warna, tetapi juga kemampuan kamera mempertahankan perbedaan nuansa, pencahayaan, dan bayangan.
Aspek ini penting untuk menghasilkan warna kulit, langit, dan dedaunan yang lebih natural. Kamera juga perlu mampu mempertahankan suasana cahaya agar foto tidak kehilangan karakter momen yang ditangkap.
2. Detail dan tekstur tanpa penajaman berlebihan
![OPPO dan Hasselblad. [Oppo Indonesia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/11/07/22530-oppo-dan-hasselblad-oppo-indonesia.jpg)
Resolusi kamera yang tinggi belum tentu membuat seluruh detail dalam foto terlihat realistis. Pemrosesan gambar juga berpengaruh terhadap bagaimana tekstur suatu objek ditampilkan.
Dalam pengujian ini, OPPO dan Hasselblad menggunakan pola uji standar serta objek nyata dengan karakter permukaan berbeda, seperti bangunan, tumbuhan, dan kain.
Foto yang dihasilkan kemudian diperiksa melalui pembesaran dan pemotongan gambar untuk melihat kemampuan kamera mempertahankan detail.
Salah satu hal yang diperhatikan adalah penajaman gambar. Jika dilakukan secara berlebihan, proses tersebut dapat membuat tekstur terlihat tidak alami atau justru memunculkan kesan artifisial.
Karena itu, kualitas gambar tidak hanya ditentukan oleh seberapa tajam hasil foto, tetapi juga seberapa baik kamera mempertahankan karakter asli objek.
3. Efek bokeh agar foto portrait lebih realistis
Efek bokeh menjadi salah satu fitur yang banyak digunakan dalam fotografi smartphone, terutama untuk mengambil foto portrait. Fitur ini membuat subjek terlihat lebih menonjol dengan mengaburkan latar belakang.
Namun, menghasilkan efek blur yang natural bukan perkara sederhana. Kamera harus mampu mengenali batas antara subjek dan latar belakang, termasuk pada bagian objek yang memiliki bentuk rumit.
OPPO dan Hasselblad menguji beberapa aspek, seperti transisi pada tepi subjek, konsistensi blur pada berbagai jarak, serta bentuk lingkaran cahaya.
Pengujian menggunakan objek dengan bentuk tepi kompleks dan sumber cahaya untuk mengevaluasi kemampuan kamera mengenali kedalaman ruang.
![Proses pengujian detail hasil gambar. [Oppo Indonesia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/11/07/70321-proses-pengujian-detail-hasil-gambar-oppo-indonesia.jpg)
Tujuannya adalah menghasilkan peralihan antara subjek dan latar belakang yang lebih halus. Dengan begitu, efek bokeh tidak terlihat seperti sekadar tempelan blur digital, tetapi mampu memberikan kesan kedalaman yang lebih meyakinkan.
Pengujian kamera tak hanya mengandalkan angka
Ketiga aspek tersebut dievaluasi melalui kombinasi pengukuran teknis dan pemotretan dalam kondisi nyata. Hasilnya juga mendapat penilaian estetika dari para ahli imaging Hasselblad.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengembangan kamera smartphone tidak hanya bergantung pada spesifikasi perangkat keras, seperti megapiksel atau resolusi sensor.
Pemrosesan gambar dan kemampuan mereproduksi karakter visual juga berperan penting dalam menentukan kualitas fotografi mobile.
Dalam kolaborasi tersebut, Hasselblad membawa pengalaman dan perspektif fotografi profesional untuk mengevaluasi karakter gambar.
Sementara OPPO menerjemahkan pendekatan itu ke dalam pengembangan teknologi kamera smartphone.
Sejak dimulai pada 2022, kerja sama keduanya terus berkembang dari pengembangan fitur fotografi menuju penyempurnaan berbagai aspek kualitas gambar.