Ulil Abshar Abdalla: Keraslah pada Diri Sendiri, Bukan Orang Lain

Arsito Hidayatullah | Erick Tanjung
Ulil Abshar Abdalla: Keraslah pada Diri Sendiri, Bukan Orang Lain
Ulil Abshar Abdalla. [Suara.com/Erick Tanjung]

Melalui pengajian Ihya, Ulil ingin mengajak muslim mengembangkan wawasan keislaman yang lebih spiritualistik.

Suara.com - Satu gaya pengajian "baru" dihadirkan Ulil Abshar Abdalla lewat media sosial di internet. Program yang awalnya untuk kebutuhan pribadi dan sudah dimulainya sejak Ramadan tahun lalu itu adalah pengajian Ihya yang ia siarkan secara langsung (live) di jejaring sosial Facebook.

Apa penjelasan Ulil mengenai pengajian tersebut, dan sebenarnya apa tujuannya? Apakah ia juga menyasar generasi milenial, serta apakah ini juga ada hubungannya dengan upaya mencegah atau mengikis radikalisme? Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Suara.com.

Pengajian Ihya live di Facebook. Ini tergolong baru di Indonesia, (namun) belakangan ini tampaknya cukup intens dan banyak yang mengikuti. Bisa dijelaskan?

Jadi ini sebetulnya pengajian ala pesantren tradisional yang banyak berlangsung di kalangan pondok-pondok NU, kemudian saya lakukan itu menggunakan medium yang baru yaitu media sosial. Dalam hal ini saya menggunakan Facebook. Tapi seluruh metode yang saya gunakan adalah yang dipakai di pesantren.

Jadi menggunakan teks klasik, dalam hal ini ber-ihya', kemudian diurai dengan cara pesantren, dibaca kata per kata, kemudian diterangkan, dihubungkan dengan konteks sekarang. Terus ngajinya itu urut, tidak seperti di kampus, tematik. Kalau di pondok, ngaji itu dari awal sampai akhir. Dibaca from cover to cover, dan selesainya tidak tahu sampai kapan. Pokoknya mengalir saja. Itulah pendidikan ala pesantren yang menurut saya unik. Pendidikan yang tidak terikat oleh silabus yang ketat dan metode yang digunakan dosen atau pengampu itu juga bisa menggabungkan banyak hal. Ada analisa kebahasaan, analisa kontennya sendiri, ada analisa perbandingan dengan kitab-kitab yang lain, ada analisa historis berdasarkan pengalaman gurunya sendiri.

Jadi ngaji ala pesantren bagi saya menarik sekali, dan yang terpenting adalah orang terikat dengan teks. Tidak bicara sembarang seperti penceramah yang sering tampil di televisi seperti sekarang ini, yang bisa bicara seenaknya, kadang-kadang juga terlihat seperti akal-akalan saja. Tapi ini terikat dengan teks yang baku.

Ini saya lakukan tahun lalu, mulai dari bulan puasa tahun lalu. Saat itu saya lakukan dengan niat sederhana saja. Saya kangen dengan ngaji ala pesantren yang pernah saya lakukan ketika di pesantren dulu. Saya melakukan itu sering. Sekarang saya ingin melakukan itu. Jadi saya ngaji ala pesantren. Kemudian istri saya beri usul agar itu live di Facebook. Tujuan dia bagus. Saya baru sadar belakangan ini. Bahwa media sosial hari ini isinya penuh dengan konten-konten yang negatif. Itu harus di-counter dengan konten yang positif. Nah, ngaji seperti ini bisa jadi alternatif. Akhirnya saya ngaji dengan live streaming. Ini ngaji sesuai tuntutan sekarang. Medium modern, tapi kontennya tradisional. Jadi gabungan antara yang tradisional dengan modern.

Apakah cukup efektif?

Selama satu tahun berjalan, ketika saya memulai pengajian ini niatnya hanya ngaji selama bulan puasa saja. Tapi selesai bulan puasa malah banyak yang mendorong supaya diteruskan. Akhirnya saya teruskan, dan belakangan banyak yang minta agar pengajian ini tidak sebatas online. Jadi (ada) bertemu atau kopdar. Akhirnya saya malah banyak kopdar daripada ngaji online. Dulunya ngaji online-nya di rumah, istri saya yang jadi manajer dan kameramen serta produser. Jadi merangkap semua. Jadi sekarang saya lebih banyak ngaji kopdar. Hampir sebulan itu full. Saya ngaji hanya akhir pekan saja. Kalau hari biasa saya tidak. Capek juga. Jadi selama sebulan, tiap akhir pekan, saya nyaris hampir tiap pekan saya keluar kota, karena ternyata yang tertarik dengan pengajian ini banyak. Saya katakan pengajian seperti ini --mungkin dilihat dari sudut orang-orang yang punya minat mengikuti-- itu mengenai sasaran.

Soal efektif atau tidak, saya tidak tahu. Tapi dilihat dari sudut yang nonton, ya, saya kalah jauh. Dibanding Ustadz Abdul Somad atau Aa Gym, ya, jauh sekali. Yang nonton konstan dari awal sampai akhir paling rata-rata 300, 400. Kadang kalau naik paling 600. Kalau Aa Gym kan 10 ribu yang nonton. Saya tidak ada apa-apa kalau dibandingkan dengan dai-dai yang bisa dikatakan selebriti.

Tapi buat saya itu tidak penting, (soal) berapa pun yang nonton. Kalau ini buat saya sendiri untuk memuaskan rasa kekangenan saya ngaji ala pesantren. Yang kedua, memberikan tawaran mengenai pemahaman Islam yang berdasarkan teks klasik. Tujuan saya antara lain supaya orang Islam juga mengapresiasi kekayaan tradisi pemikiran Islam yang luar biasa. Al Ghazali sebagai pengarang sekaligus ulama dari abad 10 Masehi (misalnya), itu memang dahsyat sekali. Luar biasa orang itu. Karyanya yang saya baca merupakan karya yang popular di seluruh dunia Islam.

Kopdar berapa kali? Sering?

Kalau kopdar seminggu sekali. Cuma kalau awal bulan, selalu berlangsung di PB NU, Jalan Kramat Raya. Di dalam kantor PB NU ada masjid, nah, di sana ngajinya berlangsung. Selebihnya muter (keliling). Kadang di Jakarta, kemudian di daerah. Pernah kemarin di Korea, diundang ke Korea Selatan. Kita diundang komunitas muslim yang berada di sana, orang Indonesia yang tinggal di sana. Yang ke luar negeri baru itu saja. Kalau daerah, selama ini saya batasi baru di Jawa saja. Belum mau ke luar Jawa. Mungkin setelah Lebaran saya pertimbangkan ke luar Jawa.

Saya sebetulnya berpikir, ini kegiatan yang sifatnya untuk menampung hobi saya saja. Kalau saya misalnya terus pergi jauh-jauh, capek rasanya. Saya tidak kuat. Permintaan ke luar Jawa banyak. Ke Aceh, Palembang, Sulawesi, Kalimantan, Ambon, bahkan ke Papua juga. Tapi kalau saya turuti, ya capek sekali. Saya ingin menggarap audiens yang di Jawa saja. Kalau Jawa, sudah hampir merata.

Apakah audiens sudah jadi komunitas?

Ya, kira-kira begitulah.

Yang mengikuti secara kontinyu dari kalangan mana saja?

Saya belum tahu, karena belum ada survei. Dari komentar yang muncul dalam wall Facebook saya, umumnya anak muda, ya, kisaran di bawah 36 tahun. Kebanyakan orang-orang yang akrab dengan kultur NU. Misalnya orang perkotaan generasi milenial, saya belum penah lihat.

Ulil bicara lebih jauh soal peminat pengajiannya, juga soal relevansi kitab Ihya bagi muslim hari ini, serta upaya mencegah paham radikal, di laman berikutnya...

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS