SuaraBandung.id - Tanda bahaya jika sang suami merasakan badan bergetar hingga gelisah usai bersenggama.
Apalagi jika perasaan gelisah diperparah oleh keluhan sang istri, lantaran belum merasakan seperti yang sudah dialami suami.
Jika Anda sebagai suami mengalami hal tersebut, hati-hati. Segera periksakan kondisi Anda, lantaran dikhawatirkan ada yang salah pada kondisi Anda.
Kemudian jika terjadi pingsan, apalagi sampai istri mengutarakan rasa kecewa, maka sebaiknya melakukan 5 tahapan ini sebelum bersenggama sebagaimana anjuran ulama.
Wajib diketahui jika bersenggama merupakan hal wajib yang hanya boleh dilakukan pasangan laki-laki dan perempuan yang sudah menikah.
Dilansir dari laman iqra.id, Imam as-Suyuthi dalam kitab ar-Rahmah mengatakan, senggama tidak baik dilakukan, kecuali bila seseorang telah bangkit syahwatnya.
Bersenggama pun wajib dilakukan bila keberadaan sperma telah siap difungsikan.

Perlu diketahui jika selalu sering menahan sperma saat "sedang ingin" bisa menyebabkan bahaya yang besar.
Namun, perhatikan juga tentang efek samping terlalu sering melakukan senggama.
Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Telinga Tersumbat karena Flu, Efektif dan Mudah Dilakukan
Satu di antaranya mempercepat penuaan, melemahkan tenaga dan menyebabkan tumbuhnya uban.
Dari beberapa kajian bersenggama yang paling baik atau berkualitas adalah senggama yang diiringi dengan sifat agresif, kemudian kerelaan hati, dan masih menyisakan syahwat.
Sementara senggama yang jelek dan dinilai bahaya adalah senggama yang diiringi dengan badan gemetar, gelisah, anggota badan terasa mati, pingsan, dan istri merasa kecewa.
Maka oleh sebab itu, jika sedang bersenggama, berikut tata cara yang paling benar:
1. Posisi baik dalam bersenggama, istri tidur terlentang. Kemudian posisi suami berada di atasnya
2. Suami sangat dianjurkan melakukan pemanasan dengan cumbuan ringan atau foreplay.
3. Lakukan gerakan mendekap, mencium, dan lain sebagainya, hingga istri bangkit "ingin segera melakukan".
4. Jangan langsung masukkanlah alat vital suami. Sangat dianjurkan melakukan gerakan menggesek-gesekkannya pada alat vital istri.
5. Saat suami mencapai klimaks (ejakulasi), dianjurkan jangan tergesa mencabut alat vitalnya.
6. Disarankan menahannya beberapa saat disertai mendekap istri dengan mesra.
7. Setelah kondisi tubuh suami sudah tenang, maka cabutlah alat vital suami dari alat vital isteri dengan mendoyongkan tubuhnya ke samping kanan. Menurut para ulama, demikian itu upaya untuk memiliki anak laki-laki.
Selesai bersenggama hendaknya keduanya mengelap atau membersihkan alat vital masing-masing dengan dua buah kain, satu untuk suami dan yang lain untuk istri.