SuaraBandung.id - Iket kepala seolah menjadi ikon bagi seorang Dedi Mulyadi, hal itu pula yang akhirnya membuat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2019–2024 dari daerah pemilihan Kabupaten Purwakarta, Bekasi, dan Karawang jadi sorotan.
Berikut fakta tentang iket kepala warna putih yang kerap digunakan suami dari Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika ini.
1. Ternyata sejak menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada tahun 2003, Kang Dedi sudah mulai memakai iket. Hal tersebut terjadi begitu saja, alamiah dan tanpa ada orang yang menyuruh atau memaksanya.
“Karena ke mana-mana pakai iket saya dapat gelar si cepot. Kemudian waktu itu ada juga yang mengatakan pakai iket musyrik, kafir, ditambah lagi saya ucapkan sampurasun, tapi saya mah sudah biasa dengan itu semua dimusyrikin, dikafirin, gak apa-apa. Karena kemusyrikan dan kekafiran itu Allah yang menentukan, bukan orang. Gak bisa nilai orang hanya dari kulitnya saja,” ucap Kang Dedi.
2. Kerap memakai iket, Kang Dedi dianggap pejabat yang melanggar etika birokrasi.
3. Kebiasaannya memakai iket, ia pun mendapat panggilan Akang oleh masyarakat agar lebih dekat dan tak ada sekat antara pemimpin dengan rakyatnya.
4. Diungkapkannya, apa yang terjadi saat ini iket menjadi trend, hampir semua pejabat Sunda pakai iket.
“Akang juga trend, hampir semua pejabat Sunda dipanggil akang. Sampai yang umurnya 60 pun ingin dipanggil akang. Akhirnya melekatlah nama Kang Dedi,” katanya.
5. Dedi Mulyadi saat datang ke Pengadilan Agama (PA) untuk menghadiri sidang perceraiannya dengan istrinya Anne Ratna Mustika, tidak menggunakan iket kepala dan menjadi teka teki. Hal Itu menjadi fakta berikutnya yang akhirnya ia jelaskan kepada warganet karena banyak mempertanyakan persoalan itu.
Baca Juga: Cara Berlangganan Unlimited YouTube Shorts Rp 1, Murahnya Kebangetan
“Karena bagi saya tempat itu bukanlah tempat yang melambangkan kehormatan diri. Tempat itu bukan lagi tempat yang melambangkan maskulin. Dengan saya datang ke situ bukan seorang pemimpin lagi, saya orang yang sudah tak memiliki mahkota, saya menjadi orang yang bukan lagi pemimpin, saya menjadi orang yang kehilangan segalanya. Untuk itu harus menerima sikap apa pun, karena saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saya harus menerima semua itu dengan baik,” beber Dedi Mulyadi.
Demikian fakta pro dan kontra seputar iket kepala yang identik dengan sosok Dedi Mulyadi