1. Orang kaya akan membenci kematian dan bertemu Tuhan. Karena jika sudah terlanjur mencintai kekayaan, tidak mau berpisah dengannya, dan ingin harta itu bertahan lama, sehingga ingin terus menikmatinya.
2. Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya.
Jasad mereka musnah, tetapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.
3. Lengkapnya nikmat kekayaan dapat dirasakan ketika bergaul dengan orang lain, seperti dengan pembantunya, istri, selir, atau para pengikut.
Kebencian, permusuhan, dan kemarahan muncul karena orang kaya itu selalu diganggu oleh orang lain, dan hanya beberapa orang saja yang bisa menyenangkannya.
Inilah sebabnya kerabat dan kerabat sering melakukan hal-hal buruk terhadap properti dibandingkan dengan hal-hal buruk kepada orang-orang yang jauh atau tidak terkait.
Pergaulan jenis ini hanya dialami oleh orang-orang kaya. Di sisi lain, jika dia tidak memiliki kelebihan tentang orang lain, mereka akan menjauh darinya untuk menghindari kerugian berinteraksi dengannya.
Penyakit seperti itu tidak ada pada orang yang berpengetahuan.
4. Sebagaimana tubuh hidup dengan pikiran, pikiran hidup dengan pengetahuan.
Baca Juga: Perankan Sahabat Seol In Ah, Seunghee Oh My Girl Bergabung di K-drama Oasis
Arah orang kaya adalah untuk meningkatkan kehidupan material mereka. Arah orang berilmu adalah memperluas pikiran dan kehidupan spiritual mereka.
5. Memiliki kekayaan yang cukup berarti mampu menopang tulang, menghindari bahaya, dan bersiap untuk perjalanan menuju Rabb.
Lebih dari itu, harta justru mengganggu, menghalangi perjalanan menuju Allah, dan menghalangi penyiapan barang untuk dibawa ke akhirat. Bahaya harta jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Semakin banyak kekayaan, semakin lama waktu yang dibutuhkan hamba untuk mempersiapkan kematian yang menanti mereka.
Berbeda dengan ilmu yang bermanfaat, semakin banyak ilmu yang kamu miliki, semakin siap kamu untuk memulai perjalanan menuju Allah.
Teks Khutbah Kedua