SuaraBandungBarat.id - Jelang berakhirnya masa jabatan rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Mahmud mendapat kritikan pedas dari mahasiswanya.
Kritikan dari mahasiswa tersebut disampaikan melalui postingan instagram @demauinsgd bertajuk, "RAPOR MERAH REKTOR UIN BANDUNG KEGAGAPAN DAN KEGUGUPAN PROF MAHMUD".
Dalam keterangannya disampaikan, menjelang berakhirnya masa jabatan rektor merupakan momentum untuk merefleksikan dan mengevaluasi perjalanan yang telah dijalani.
Dituliskan bahwa rektor telah memainkan peran yang krusial dalam mengarahkan serta mengelola kampus UIN Bandung. Evaluasi ini merupakan kesempatan bagi banyak pihak untuk melihat kembali pencapaian, tantangan dan dampak yang terjadi selama kepemimpinannya.
Dalam narasi kritik yang disampaikan, Mahasiswa UIN Bandung menyebut bahwa kritikan kepada rektor jelang masa purnanya merupakan bentuk kasih sayang dan cinta dari segenap mahasiswa.
Setidaknya ada 8 poin yang menjadi kritikan mahasiswa terhadap kinerja Mahmud selama memimpin sebagai rektor UIN Bandung.
1. Fasilitas kampus
Mahasiswa menyoroti sistem kebersihan kampus yang tidak nyaman seperti fasilitas kamar mandi yang menimbulkan banyak keresahan serta memerlukan perhatian lebih, selain itu lahan parkir kampus yang kurang memadai serta keamanan dan kenyamanan baik di area parkir atau pun lingkungan kampus.
2. Akademik (MBKM & Sistem Salam)
Baca Juga: 5 Fakta Hoaks 'Panglima TNI Dukung Anies' Berbuntut Panjang: Tim Khusus Dibentuk
Disampaikan bahwa sistem Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) UIN Bandung telah sejak lama berjalan namun keberdampakan dari program ini tidak banyak dirasakan oleh mahasiswa, hasilnya banyak mahasiswa UIN Bandung yang tidak mengetahui program ini dan tentunya merugikan mahasiswa sendiri.
3. Kuliah Kerja Nyata
Disebutkan bahwa ketidakseriusan pihak kampus dalam menyelesaikan permasalahan ini menjadi salah satu dasar penuntutan banyak mahasiswa yang menilai bahwa rektor tidak memiliki pedulian terhadap mahasiswanya. Tenggat waktu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan pembayaran KKN menjadi persoalan klasik yang tidak pernah diselesaikan.
4. Mahasiswa menuntut Jembatan Penyebrangan Orang (JPO)
Bahwa di kampus II UIN Sunan Gunung Djati yang dekat dengan jalur cepat Jalan Soekarno-Hatta mendapat keprihatinannya sendiri karena ditakutkan arus lalu lintas yang cepat tersebut dapat membahayakan mahasiswa secara keseluruhan. Diharapkan, pihak kampus dapat melakukan upaya solusi terhadap hal tersebut.
5. Kinerja Dosen yang ugal-ugalan
Mahasiswa pun menyoroti dosen yang tidak mengajar secara serius seperti hanya membicarakan masalah pribadi atau berbagi pengalam sepanjang satu semester pembelajaran. Selain itu kerap pula ditemui dosen yang tidak masuk kelas dan tentunya hal ini merugikan mahasiswa sendiri yang merupakan subjek dari pendidikan tinggi.
6. Inkonsistensi Pikiran Rektor terhadap pemberantasan pelecehan dan kekerasan seksual
Disebutkan bahwa ada niatan untuk memfungsikan Pusat Studi Gender dan Anak (PGSA) menjadi satgas pemberantasan pelecehan dan kekerasan seksual namun keberadaan dan kebermanfaatannya masih dipertanyakan. Di sini, dalam anggapan mahasiswa terdapat inkonsistensi pikiran rektor.
7. Bentuk Kerjasama UIN Bandung yang tidak berpihak terhadap kepentingan mahasiswa
Selain itu, mahasiswa pun menyoroti persoalan kerjasama kampus yang dinilai tidak berkorelasi dengan kebutuhan mahasiswanya sendiri karena tidak menjawab apa yang menjadi kepentingannya. Seperti kebutuhan sponsorship organisasi mahasiswa serta persoalan yang akan menunjang studi penelitian.
8. Tidak representatifnya Mahmud sebagai bentuk kegagapan dan kegugupannya
Diketahui, rektor UIN Bandung, Mahmud juga menjabat sebagai ketua Forum PTKIN se-Indonesia, sayangnya hal ini tidak serta merta membuat gagasan dan perubahan dibawanya untuk kebaikan bersama melainkan dalam kritikan mahasiswa hanya menjadi simbol yang berdampakannya tidak dirasakan secara nyata dan menjadi fakta.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kampus UIN Sunan Gunung Djati sendiri belum memberikan respon terhadap kritikan yang diberikan mahasiswanya. Terakhir, postingan dari Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Bandung telah mendapat tanggapan dari hampir 2.000 orang lebih. (*)