Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.319,613
LQ45 635,207
Srikehati 308,696
JII 378,581
USD/IDR 18.032

Selera Risiko Meningkat, Rupiah Menguat

Adhitya Himawan

Selasa, 04 Oktober 2016 | 13:56 WIB
Selera Risiko Meningkat, Rupiah Menguat
Mata uang Dolar AS dan Rupiah di salah satu gerai Money Changer di Jakarta, Senin (11/5). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Jameel Ahmad, VP of Market Research Forextime mengatakan bahwa kurs Rupiah memulai pekan trading ini dengan cukup bergairah. USDIDR tetap berada di bawah level psikologis penting 13000. Ada sejumlah alasan mengapa sentimen terhadap Rupiah terus membaik, termasuk meningkatnya selera risiko pasca hasil rapat informal OPEC pekan lalu yang memberi kejutan.

"Ketidakpastian kebijakan suku bunga AS di akhir 2016 juga mendukung aset pasar berkembang," kata Jameel dalam keterangan tertulis, Selasa (4/10/2016).

Dari dalam negeri, komentar dari Deputi Gubernur Bank Indonesia bahwa Rupiah dapat semakin menguat juga memperbesar minat beli. Selain itu, hasil positif program amnesti pajak pun mendukung arus masuk Rupiah.

 Liburnya berita tentang Deutsche Bank mendukung ekuitas

Perdagangan di pasar finansial di pekan ini juga dibuka dengan positif karena meningkatnya selera risiko setelah adanya berita di akhir pekan lalu bahwa Deutsche Bank dalam proses menyetujui denda yang lebih rendah untuk pelanggarannya. Hari ini adalah libur nasional di Jerman sehingga berita tentang Deutsche Bank pun libur. Berakhirnya kekhawatiran tentang kondisi salah satu institusi investasi terbesar di dunia ini akan memperbaiki sentimen terhadap sektor perbankan secara keseluruhan dan mengurangi risiko terhadap pasar modal secara signifikan.

PM Inggris memastikan Pasal 50, GBP anjlok

Berita besar di akhir pekan lalu adalah bahwa Perdana Menteri Inggris Theresa May akhirnya memberikan perkiraan lini waktu kapan Pasal 50 akan diberlakukan. Perdana Menteri Inggris menjadwalkan untuk mengaktifkan Pasal 50 sebelum Maret 2016 sehingga minat investor terhadap poundsterling (GBP) menurun dan mata uang ini merosot ke level terendahnya dalam hampir tiga bulan ini terhadap USD di angka 1.2844. 

Investor sekarang merefleksikan risiko yang lebih tinggi ke dalam nilai tukar GBP dan walaupun GBPUSD telah melemah dari 1.50 tahun ini menjadi 1.28, perlu kita perhatikan bahwa penurunan sejauh ini terjadi karena hasil referendum Uni Eropa yang mengejutkan, bukan karena Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa. Pemerintah Inggris menghadapi masa yang tidak mudah dalam mempersiapkan untuk keluar dari Uni Eropa. Karena itu, saya pribadi meyakini bahwa GBP akan terustertekan untuk periode yang cukup panjang.  

Proses pengaktifan Pasal 50 dan negosiasi dengan Uni Eropa dikabarkan akan membutuhkan waktu dua tahun. Jadi apabila ada isyarat bahwa proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak akan memakan waktu dua tahun, investor akan bereaksi drastis.

"Saya tetap berpendapat bahwa secara realistis GBPUSD dapat menyentuh antara 1.20 dan 1.25 di akhir tahun ini.  Alasan mengapa saya memprediksi bahwa GBP akan semakin melemah adalah karena sejauh ini nilai tukar GBP hanya merefleksikan hasil referendum Uni Eropa. Pemerintah Inggris masih harus memulai proses pelaksanaan keinginan voter yaitu keluar dari Uni Eropa dan implikasi dari proses ini tentu berpotensi memengaruhi sentimen investor," ujar Jameel.

Karena saat ini nilai tukar GBP baru merefleksikan hasil referendum saja, masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui tentang apa yang akan terjadi dengan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa di masa mendatang dan begitu banyak risiko yang harus diperhitungkan oleh investor.

Peningkatan harga minyak masih harus diwaspadai 

Pasar minyak terus menguat setelah berita mengejutkan bawah OPEC berhasil mencapai kesepakatan awal untuk memangkas level produksi dalam rapat informal pekan lalu. Harga WTI menguat sekitar $4 dan mencapai level $49 yang belum pernah terjadi sejak pertengahan Agustus ini. Walaupun menguatnya harga minyak membantu mendongkrak selera risiko dan mendukung aset berisiko termasuk mata uang pasar berkembang, saya berpendapat bahwa investor perlu berpikir ulang sebelum merefleksikan koreksi lebih lanjut pada harga minyak. 

OPEC memang menjadwalkan pemangkasan produksi minyak sebesar 700.000 barel per hari, namun jangan lupa bahwa berita ini masih harus dikonfirmasikan secara resmi di bulan November dan pasar minyak masih menderita oversuplai serius saat ini. Kita juga perlu memperhatikan bahwa sejumlah anggota OPEC memproduksi minyak pada rekor level tertinggi dan diperlukan tingkat kepercayaan tersendiri dalam grup ini untuk dapat mendukung kuota produksi yang akan dipastikan di bulan November. 

Anggota non-OPEC juga harus kooperatif dalam hal level produksinya untuk dapat mendukung koreksi harga komoditas ini di jangka yang lebih panjang. 

Saya pribadi masih mempertahankan pendapat saya sejak April 2016 bahwa harga minyak mentah WTI harus berhasil ditutup di atas 51 Dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan mingguan sebelum kita dapat membahas apakah harga minyak dapat ditutup di atas 50 Dolar AS di akhir tahun ini. Sampai hal itu tercapai, level harga antara 48.50 Dolar AS - 50 Dolar AS tetap menjadi zona jual potensial yang dapat mengantarkan harga komoditas ini ke level sebelum terjadinya peningkatan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Forextime: BI Pangkas Suku Bunga Acuan Menjadi 5 Persen

Forextime: BI Pangkas Suku Bunga Acuan Menjadi 5 Persen

Bisnis | Sabtu, 24 September 2016 | 02:04 WIB

Forextime: Jika The Fed Naikkan Suku Bunga, Indonesia Rentan

Forextime: Jika The Fed Naikkan Suku Bunga, Indonesia Rentan

Bisnis | Selasa, 20 September 2016 | 13:30 WIB

Forextime Prediksi Bank Sentral Inggris akan Pangkas Suku Bunga

Forextime Prediksi Bank Sentral Inggris akan Pangkas Suku Bunga

Bisnis | Jum'at, 16 September 2016 | 11:02 WIB

Agustus 2016, BPS Sebut Rupiah Terdepresiasi 1 Persen ke Dolar AS

Agustus 2016, BPS Sebut Rupiah Terdepresiasi 1 Persen ke Dolar AS

Bisnis | Kamis, 15 September 2016 | 13:27 WIB

Forextime: Ketidakpastian The Fed Membebani IHSG

Forextime: Ketidakpastian The Fed Membebani IHSG

Bisnis | Kamis, 15 September 2016 | 11:01 WIB

Forextime: Indonesia Tetap Menjadi Tujuan Investasi yang Menarik

Forextime: Indonesia Tetap Menjadi Tujuan Investasi yang Menarik

Bisnis | Jum'at, 09 September 2016 | 10:55 WIB

Forextime: Rupiah Melemah Setelah Laporan NFP yang Mengecewakan

Forextime: Rupiah Melemah Setelah Laporan NFP yang Mengecewakan

Bisnis | Selasa, 06 September 2016 | 15:47 WIB

Kurs Rupiah Stagnan di Posisi Rp13.260

Kurs Rupiah Stagnan di Posisi Rp13.260

Bisnis | Jum'at, 02 September 2016 | 10:59 WIB

Cegah Tragedi Brexit Terulang, Volume Kendaraan di Tol Dibatasi

Cegah Tragedi Brexit Terulang, Volume Kendaraan di Tol Dibatasi

News | Kamis, 01 September 2016 | 13:24 WIB

Forextime: Sejumlah Mata Uang Asia Melemah

Forextime: Sejumlah Mata Uang Asia Melemah

Bisnis | Selasa, 30 Agustus 2016 | 14:49 WIB

Terkini

Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal

Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering

Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:02 WIB

Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026

Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026

Bola | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:55 WIB

Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain

Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:42 WIB

Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar

Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:26 WIB

Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU

Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok

Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok

Jabar | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:53 WIB

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor

Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor

Jabar | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:46 WIB

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:42 WIB

×