Benarkah Kenaikan Harga Ayam karena Menguatnya Dolar AS?

Pebriansyah Ariefana | Dian Kusumo Hapsari
Benarkah Kenaikan Harga Ayam karena Menguatnya Dolar AS?
Salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (8/5).

Dia mengatakan kenaikan harga ayam dikarenakan harga pakan.

Suara.com - Beberapa hari terakhir harga daging ayam mengalami kenaikan di beberapa daerah di Indonesia. Harganya menjadi Rp 40.000 dari sebelumnya Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per ekor.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan, bahwa hal itu bukan disebabkan oleh naiknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Enggar mengatakan, kenaikan harga ayam saat ini dikarenakan harga pakan yang terus merangkak naik.

Selain itu, menyimpan ayam hidup akan menghabiskan biaya pakan, sedangkan menahan ayam potong akan membebani biaya penyimpanan di cold storage.

Enggar pun mengaku sudah meminta perusahaan di bidang pengolahan dan pemeliharaan ayam untuk menggelontorkan produknya.

"(Harga naik) karena suplai. Tidak ada sangkut pautnya dengan masalah dolar, ini masalah pakan saja,” kata Enggar di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Ia pun berharap dalam waktu dekat harga ayam bisa kembali normal. Sehingga masyarakat tidak merasa terbebani.

"Kita sudah undang integrator dan peternak mandiri, kita kasih waktu, dalam satu pekan turukan itu harga," ujarnya.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (23/5/2018) masih di atas Rp 14.000.

Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat dolar AS berada di level Rp 14.192. Terkait hal tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pun angkat bicara.

"Dolar sudah Rp 14.200, secara otomatis harga ayam dan harga komoditas bergantung kepada dolar," ujarnya di Balai Kota, Rabu (23/5/2018).

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS