- Kementerian ESDM mengkaji penghentian ekspor timah mentah sebagai upaya peningkatan nilai ekonomi melalui hilirisasi.
- Larangan ekspor bijih nikel sebelumnya berhasil meningkatkan total ekspor nikel hingga sepuluh kali lipat pada 2024.
- Sebanyak 18 proyek hilirisasi prioritas dengan investasi Rp618 triliun ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), membuka peluang untuk menghentikan ekspor timah mentah. Langkah itu diambil guna meningkatkan nilai keekonomiannya melalui program hilirisasi.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa hilirisasi merupakan pendorong utama ekonomi nasional. Ia mencatat bahwa larangan ekspor bijih nikel pada 2018–2019 berhasil meningkatkan nilai ekspor nikel hingga 10 kali lipat pada periode 2023–2024.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya 3,3 miliar dolar AS. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai 34 miliar dolar AS," kata Bahlil dalam Indonesia Economic Outlook dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Sabtu (14/2/2024).
Dia menerangkan bahwa 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan.
Untuk itu, Bahlil mengaku, akan mengkaji untuk menghentikan ekspor sejumlah komoditas, salah satunya adalah timah. Menurutnya, perlu mengganti ekspor bahan mentah dengan produk hasil hilirisasi domestik.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silahkan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," terang Bahlil.
Pada 2026, terdapat 18 proyek hilirisasi prioritas yang mencakup sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak. Adapun nilai investasi dari ke 18 proyek tersebut mencapai Rp618 triliun.
Sementara hingga 2040 program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga 618 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, 498,4 miliar dolar AS datang dari sub sektor mineral dan batubara (minerba) dan 68,3 miliar dolar AS dari minyak dan gas bumi.
Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor 857,9 miliar dolar AS, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) 235,9 miliar dolar AS, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja.