Impor Jadi Buah Simalakama untuk Petani Garam Tradisional di Aceh

Iwan Supriyatna

Rabu, 07 November 2018 | 07:09 WIB
Impor Jadi Buah Simalakama untuk Petani Garam Tradisional di Aceh
Ilustrasi petani garam tradisional. (Antara)

Suara.com - Sejumlah petani garam tradisional di Aceh meminta pemerintah membatasi keran impor garam, agar harga jual komoditas yang dihasilkan mereka tidak jatuh di pasar lokal.

"Kalau (garam) diimpor, ya boleh. Asal jangan sampai menurunkan harga jual petani di bawah Rp 5.000 per kilogram," ucap petani garam Azhari (51) di Desa Lamujong, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Ia mengatakan, dewasa ini harga garam rumah tangga diproduksi petani lokal secara tradisional di provinsi berjuluk "Bumi Serambi Mekkah" ini masih berada di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 8.000 per kilogram.

Kebijakan pemerintah yang menerbitkan izin impor garam sebanyak 3,7 juta ton tahun ini akibat sektor industri membutuhkan, ibarat buah simalakama bagi provinsi paling Barat ini.

Jika garam impor telalu banyak beredar di Aceh, maka dikhawatirkan petani lokal terancam akan gulung tikar. Kalau tak diimpor, maka tidak cukup kebutuhan untuk rumah tangga dan industri.

"Kita beli kayu untuk pengasapan selama tiga jam untuk satu kali masak, kan mahal. Satu truk, kita beli kayu sekitar Rp 1 juta. Tapi kalau seperti sekarang ini Rp 7.000, kan lumayan," katanya.

"Pokoknya dalam sehari itu, garam rumah tangga yang kita produksi harus ada minimal 85 hingga 100 kilogram. Pembeli saat ini datang ke tempat kita," ungkap Azhari yang menekuni petani garam sudah 25 tahun.

Abdullah (45) petani garam lainnya yang memproduksi secara tradisional mengaku, komoditas yang memiliki rasa asin tersebut masih seputar Aceh Besar dan Banda Aceh.

Ia mengaku memproduksi garam kalangan industri di Aceh yang memiliki tekstur kasar, seperti biji jagung melalui proses penjemuran sinar matahari paling cepat 15 hari.

Badan Pusat Statistik merilis, dari Januari hingga September 2018, Aceh telah mengimpor garam dari Singapura senilai 870.783 dolar AS. Nilai impor ini meningkat 0,72 persen dibanding periode yang sama tahun 2017 dengan nilai 864.600 dolar AS.

"Kalau rumah tangga, garamnya dimasak. Tetapi, kami minta jangan sampai membantu orang di negara lain, sementara kita di sini sebagai petani garam jadi susah gara-gara impor," kata Abdullah. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Balas Kritik Prabowo, Wapres JK: Indonesia Butuh Impor

Balas Kritik Prabowo, Wapres JK: Indonesia Butuh Impor

Bisnis | Selasa, 06 November 2018 | 17:30 WIB

Kalau Jadi Presiden, Apakah Prabowo Bisa Stop Impor?

Kalau Jadi Presiden, Apakah Prabowo Bisa Stop Impor?

Bisnis | Senin, 05 November 2018 | 23:40 WIB

Mau Stop Impor, Prabowo Diminta Jangan Janji Muluk-muluk

Mau Stop Impor, Prabowo Diminta Jangan Janji Muluk-muluk

Bisnis | Senin, 05 November 2018 | 23:29 WIB

Terkini

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?

Kalbar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:24 WIB

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:13 WIB

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:07 WIB

Memilih Produk untuk Anak, Orang Tua Perlu Melihat Lebih dari Sekadar Label

Memilih Produk untuk Anak, Orang Tua Perlu Melihat Lebih dari Sekadar Label

Health | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:06 WIB

Analis Politik Ungkap Peluang Besar Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029

Analis Politik Ungkap Peluang Besar Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029

Video | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:05 WIB

Membangun Literasi Finansial Sejak Dini Melalui BRImo Junior

Membangun Literasi Finansial Sejak Dini Melalui BRImo Junior

Bri | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:54 WIB

Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah

Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:37 WIB

Pria di Jember Ngaku Bertemu Allah dan Nabi Muhammad, Polisi Dalami dan Koordinasi dengan MUI

Pria di Jember Ngaku Bertemu Allah dan Nabi Muhammad, Polisi Dalami dan Koordinasi dengan MUI

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:37 WIB

Bukan Sekadar Belajar, Siswa SMA Ini Ubah Masalah Lingkungan Jadi Ide Inovatif

Bukan Sekadar Belajar, Siswa SMA Ini Ubah Masalah Lingkungan Jadi Ide Inovatif

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:34 WIB

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Teluk Popoh, Polisi Telusuri Petunjuk Tas Berisi Identitas

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Teluk Popoh, Polisi Telusuri Petunjuk Tas Berisi Identitas

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:28 WIB

×