Rasio Elektrifikasi Seluruh Indoesia di 2018 Capai 98,30 Persen

Liberty Jemadu
Rasio Elektrifikasi Seluruh Indoesia di 2018 Capai 98,30 Persen
Petugas bekerja memperbaiki jaringan utilitas kabel PLN dan Penerangan Jalan Umum (PJU) di kawasan Kampung Melayu Kecil, Jakarta, Rabu (8/11/2017). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Pada tahun 2019 ini, katanya, target rasio elektrifikasi sebesar 99,9 persen dan target rasio desa berlistrik sebesar 100 persen.

Suara.com - Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan kinerja subsektor ketenagalistrikan tahun 2018 yang mencapai 98,30 persen untuk elektrifikasi .

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Andy Noorsaman Sommeng di Jakarta, Kamis (10/1/2019), menyampaikan bahwa hingga akhir 2018 rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia telah mencapai 98,30 persen dan rasio desa berlistrik sebesar 99,38 persen.

Pada tahun 2019 ini, katanya, target rasio elektrifikasi sebesar 99,9 persen dan target rasio desa berlistrik sebesar 100 persen.

"Capaian kita cukup baik, yang paling penting adalah rasio elektrifikasi yang mencapai 98,30 persen. Tahun 2019 kita punya tugas besar, desa berlistrik harus 100 persen berlistrik dan rasio elektrifikasi harus 99,9 persen," ujar Andy.

Meningkatnya rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia salah satunya karena adanya penambahan infrastruktur ketenagalistrikan.

Tambahan infrastruktur ketenagalistrikan sampai dengan akhir 2018 dari pembangkit hampir mencapai 2 gigawatt (GW), sehingga total kapasitas terpasang pembangkit mencapai 62,6 GW. Transmisi pun bertambah sepanjang 3.441,84 kilometer sirkuit (kms) dan penambahan gardu Induk sebesar 16.495 MVA.

Andy juga mengungkapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan pada 2018 sebesar Rp141,2 miliar. Dari anggaran tersebut, penyerapan hingga 31 Desember 2018 sebesar 91,75 persen.

Sementara untuk tahun ini, katanya, total anggaran Ditjen Ketenagalistrikan ditetapkan Rp 97,53 milliar yang terdiri dari Kegiatan Pelayanan Publik Rp 6,83 miliar, Regulasi Rp 2,2 miliar, Kegiatan Prioritas Rp 7,04 miliar, Pembinaan dan Pengawasan Rp 12,90 miliar, serta Kegiatan Pendukung Rp 68,55 miliar.

"Anggaran kita memang semakin kecil dari tahun sebelumnya, namun rasio elektrifikasi terus meningkat. Ini tandanya kerja kita baik dan berintegritas," kata Andy.

Terkait dengan pelaksanaan Program 35.000 megawatt (MW), Andy mengatakan hingga akhir 2018 adalah 2,9 GW sudah beroperasi secara komersial (COD/komisioning), 18,2 GW sedang konstruksi, serta 11,4 GW perjanjian jual beli listriknya sudah ditandatangani namun belum konstruksi, 1,6 GW dalam proses pengadaan, dan 954 MW sedang dalam tahap perencanaan.

Peningkatan kapasitas infrastruktur ketenagalistrikan tersebut menelan biaya investasi sebesar 11,28 miliar dolar AS pada 2018.

Untuk tahun ini telah ditargetkan penambahan pembangkit ketenagalistrikan sebesar 3,9 GW, sehingga total kapasitas terpasang pembangkit menjadi 66,5 GW, 15.195 kms Transmisi, dan 27.631 MVA Gardu Induk.

Pada 2019 investasi untuk infrastruktur ketenagalistrikan ditargetkan sebesar 12,04 miliar dolar AS.

Selain itu, seiring dengan meningkatnya infrastruktur ketenagalistrikan dan rasio elektrifikasi, maka konsumsi listrik perkapita (kWh/kapita) juga menunjukan kenaikkan yang positif. Sampai dengan akhir 2018, konsumsi perkapita telah mencapai 1.064 kWh/kapita dari target sebesar 1.129 kWh/kapita dan pada 2019 target konsumsi listrik perkapita adalah sebesar 1.200 kWh/kapita. (Antara)

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS