Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.745.000
Beli Rp2.600.000
IHSG 5.342,137
LQ45 527,078
Srikehati 259,301
JII 319,450
USD/IDR 18.166

The Fed Kemungkinan Tahan Suku Bunganya, Bagaimana dengan BI?

Pebriansyah Ariefana, Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 21 November 2019 | 09:16 WIB
The Fed Kemungkinan Tahan Suku Bunganya, Bagaimana dengan BI?
Gedung The Federal Reserve. [Shutterstock]

Suara.com - Pejabat Federal Reserve mayoritas sepakat untuk tidak perlu lagi memotong suku bunga acuan mereka federal funds rate. Kecuali jika kondisi ekonomi berubah secara signifikan.

Hal tersebut terungkap dari risalah yang dikeluarkan pada Rabu (20/11/2019) dari pertemuan terbaru mereka. Bank sentral AS pada akhir Oktober 2019 telah memangkas suku bunga pinjaman seperempat poin ke kisaran 1,5 persen -1,75 persen. Pemangkasan ini menjadi langkah ketiga kalinya pada 2019.

"Namun, dalam melakukan hal itu "sebagian besar" anggota Komite Pasar Terbuka Federal melihat gerakan itu cukup "untuk mendukung prospek pertumbuhan moderat, pasar tenaga kerja yang kuat, dan inflasi di dekat sasaran 2 persen simetris Komite," kata ringkasan pertemuan itu seperti mengutip cnbc.com, Kamis (21/11/2019).

Sikap kebijakan tersebut kemungkinan akan tetap, selama informasi yang masuk tentang ekonomi tidak menghasilkan penilaian ulang dari prospek ekonomi saat ini.

Namun, mereka berpendapat bahwa kebijakan itu tidak berada di jalur yang telah ditentukan, bahkan jika kebijakan itu kemungkinan akan ditahan, dan anggota akan terus menilai perubahan dalam data dan pandangan umum.

Para anggota sering mencatat bahwa penyesuaian kebijakan Fed bekerja pada jeda yang dapat memakan waktu satu tahun atau lebih untuk dirasakan. Mereka juga bermaksud mengamati bagaimana peralihan ke kebijakan yang lebih mudah akan berdampak pada kondisi keuangan.

Pemotongan dimulai pada Juli, hanya tujuh bulan setelah komite menyetujui kenaikan suku bunga keempat tahun 2018.

Sentimen-sentimen itu sebagian besar sesuai dengan pernyataan publik baru-baru ini dari pejabat Fed.

Ketua Jerome Powell, dalam kesaksian kongres pekan lalu, mengatakan dia juga merasa nyaman dengan sikap kebijakan. Itu termasuk kemungkinan rendah kenaikan suku bunga juga: Mengikuti pertemuan FOMC 29-30 Oktober, dia lebih lanjut menyatakan bahwa dia tidak mengharapkan kenaikan kecuali jika ada kenaikan signifikan dalam inflasi.

Diskusi pada pertemuan tersebut mengindikasikan bahwa anggota merasakan ekonomi AS berada dalam posisi yang cukup kuat, dengan pasar tenaga kerja yang sehat dan selera belanja yang kuat di antara konsumen, yang aktivitasnya menyumbang sekitar 70 persen dari PDB.

Namun, mereka juga melihat "risiko penurunan seputar prospek ekonomi meningkat, lebih jauh menggarisbawahi kasus penurunan suku bunga" pada pertemuan Oktober. Mereka mengutip pengurangan investasi bisnis dan ekspor yang dihasilkan dari "kelemahan dalam pertumbuhan global dan meningkatnya ketidakpastian mengenai perkembangan perdagangan." Katanya.

Mereka memang mencatat bahwa kekhawatiran atas kedua masalah tampaknya telah "agak mereda."

BI Juga Diprediksi Tahan Suku Bunganya

Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 5,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang bakal diumumkan pada hari ini Kamis (21/11/2019).

Kemungkinan BI menahan suku bunga karena BI telah memangkas suku bunga acuannya sebesar 100 bps sejak Juli hingga Oktober 2019.

"Besok BI akan mengambil kebijakan baru terkait suku bunga. Ini memberikan gambaran dari sisi kebijakan moneter, BI sudah memberikan arah bahwa support untuk pertumbuhan ekonomi, merespon perlambatan ekonomi global. Tapi dampaknya ke keuangan belum terlihat," kata Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah saat ditemui disela-sela acara Core Economic Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (20/11/2019) kemarin.

Piter bilang, BI dirasa sudah cukup untuk menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali atau hingga 100 basis poin (bps) ke level 5,00 persen sehingga dirinya meminta bahwa BI tidak lagi menurunkan suku bunga acuannya lagi karena kondisi likuiditas perbankan sudah cukup ketat.

"Kalau kita lihat di 2019 sudah 100 BPS. Bagaimana suku bunga deposito dan kredit? Masih sangat lambat. Bahkan lebih lambat dibanding 2016-2017. Karena LDR perbankan masih cukup rendah. Sekarang ini likuditasnya cukup ketat," kata Piter.

Piter menjelaskan kalangan perbankan masih mempertimbangkan tingginya biaya dana (cost of fund) seiring ketatnya likuiditas sebelum memangkas suku bunga kredit. Hal tersebut membuat penurunan suku bunga kredit usai pemangkasan suku bunga acuan BI agak sedikit lambat.

"Sehingga kelonggaran suku bunga belum bisa diikuti suku bunga deposito dan kredit. Bank sekarang berebut dana, nggak suka bank tapi juga pemerintah. Bisa dibayangkan suku bunga kredit belum akan cukup turun," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Likuiditas Perbankan Ketat, BI Diminta Tak Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan

Likuiditas Perbankan Ketat, BI Diminta Tak Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan

Bisnis | Rabu, 20 November 2019 | 16:08 WIB

Awal Pekan Ini, Rupiah Bisa Bergerak Menguat Terbatas

Awal Pekan Ini, Rupiah Bisa Bergerak Menguat Terbatas

Bisnis | Senin, 18 November 2019 | 08:11 WIB

Jelang Akhir Pekan, Pergerakan Rupiah Masih Tertekan Dolar AS

Jelang Akhir Pekan, Pergerakan Rupiah Masih Tertekan Dolar AS

Bisnis | Jum'at, 15 November 2019 | 08:30 WIB

BI Akan Bikin Holding Usaha Ekonomi Syariah Pesantren

BI Akan Bikin Holding Usaha Ekonomi Syariah Pesantren

Bisnis | Selasa, 12 November 2019 | 18:55 WIB

Terkini

BRI Dorong Inklusi Keuangan dan UMKM Lewat Teras Kapal di 4 Wilayah Kepulauan

BRI Dorong Inklusi Keuangan dan UMKM Lewat Teras Kapal di 4 Wilayah Kepulauan

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 22:40 WIB

Silmy Karim Dicopot dari Komisaris PT Telkom

Silmy Karim Dicopot dari Komisaris PT Telkom

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 22:10 WIB

Borong Penghargaan HR Asia 2026, PT Pegadaian Jadi Best Company to Work For in Asia untuk ke-8 Kali

Borong Penghargaan HR Asia 2026, PT Pegadaian Jadi Best Company to Work For in Asia untuk ke-8 Kali

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 21:55 WIB

Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi

Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:59 WIB

RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun

RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:59 WIB

Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI

Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:52 WIB

OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto

OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:45 WIB

CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional

CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:42 WIB

IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia

IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:32 WIB

Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju

Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 20:26 WIB