Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Dany Garjito, Chyntia Sami Bhayangkara

Rabu, 13 Mei 2020 | 19:22 WIB
Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan
Biji kopi hasil para petani Sarongge (ist)

Program ini menarik minat kelas menengah Jakarta. Mereka berpartisipasi menghutankan lagi bukit gundul, mengurangi banjir di ibukota, tanpa banyak repot. Hanya sekali menyumbang, pohonnya dirawat petani. Kalau sedang longgar dan ingin nikmati udara desa, mereka bisa tengok pohonnya ke Sarongge. Sejak 2008 itu, banyak tokoh yang mengadopsi pohon : Faisal Basri, Jimly Assidiqie ( waktu itu Ketua MK), Teten Masduki, sekarang Menteri Koperasi, juga kalangan seni : Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Olga Lydia. Seribu lebih individu tercatat ikut adopsi pohon. Olga Lydia tergolong rajin mengadopsi pohon. Ia punya seratus pohon adopsi, yang kini sudah jadi hutan mini.

Perusahaan juga senang ambil bagian. Astra Internasional, Bodyshop, Four Seasons Hotel, Toshiba, Unilever dan banyak perusahaan lain. Mereka adopsi pohon dan gunakan kesempatan menanam untuk acara keakraban karyawannya. Pemilik Bodyshop Indonesia, Suzy Hutomo, bahkan membuat vlog tentang hutannya dan mengunggah di saluran youtube nya. Keterlibatan perusahaan membuat jumlah pohon adopsi cepat meningkat. Sekira 22.000 pohon diadopsi, ketika program ini ditutup pada 2014.

Lebih dari separo dana dialokasikan untuk kegiatan ekonomi alternatif di luar kebun. Ada yang ternak kambing. Ternak kelinci. Para pemuda merintis kebun sayur organik. Ada juga yang mencoba industri rumahan seperti membuat sabun, minyak sereh, jamu hingga merintis ekowisata Sarongge. 

Produk- produk seperti Sabun Sarongge, Jamoe dan Teh Sereh Sarongge, sampai sekarang masih diproduksi dan dapat dibeli lewat pesanan online. Berbagai sumber ekonomi baru itu, menjadi gantungan mereka yang dulu berkebun sayur di taman nasional.

Sedikit demi sedikit, mereka yang telah dapat penghasilan di luar kebun, turun dari taman nasional. Sukarela. Tahun 2011, misalnya, setelah tiga tahun pohon endemi ditanam, Dudu memutuskan berhenti berkebun. Kami buatkan piagam untuk setiap petani yang sukarela turun. Penghargaan atas kesediaan mereka menghutankan kembali kebun sayur. Proses ini berjalan alamiah. Kadang 5 orang turun. Kadang hanya 3 orang. Tak ada jadwal. Tanpa tekanan. Kami hanya berupaya keras untuk terus mencari alternatif pekerjaan. Sambil merawat pohon-pohon adopsi.

Kisah petani Sarongge menghutankan lagi kebun sayur itu, rupanya terdengar sampai telinga Presiden SBY. Ia berkunjung ke desa di kaki Gede itu 8 Januari 2013. Ia ingin melihat sendiri hutan yang dipulihkan. Selain itu, presiden menanam pohon bersama belasan menteri dan pejabat tinggi lain. Desa heboh. Belum pernah pejabat tinggi sebanyak itu, datang ke kampung Sarongge.

Pohon SBY, rasamala, dan pohon yang ditanam almarhumah Bu Ani, sebatang ki hujan, sampai sekarang tumbuh subur, dan sering ditengok pengunjung perkemahan Sarongge. SBY datang dengan banyak bantuan. Sekolah, masjid, kegiatan ekonomi warga mendapat bantuan dana. Sebagian bantuan digunakan untuk membangun saung, tempat warga kini berkumpul dan berkegiatan.

Menteri LHK Siti Nurbaya di kampung Sarongge, Cianjur, Jawa Barat (ist)
Menteri LHK Siti Nurbaya di kampung Sarongge, Cianjur, Jawa Barat (ist)

Saung Sarongge, ikon desa itu, mulai digunakan tak lama setelah kunjungan SBY. Dan hadiah terbaik untuk warga adalah diberikannya izin kelola eco wisata atas hutan yang dipulihkan itu, kepada koperasi petani: Koperasi Sugih Makmur. Mereka dipercaya negara memanfaatkan hutan, untuk tujuan wisata dan pendidikan. Izin untuk Koperasi Sugih Makmur itu berlaku sampai sekarang.

Selain hal positif, kunjungan presiden juga membawa konsekuensi baru. Petani yang masih berkebun sayur diberi tenggat. Harus turun sebelum Agustus 2013. Negara mempercepat proses turun itu dengan memberi santunan bulanan, kepada mereka yang belum dapat alternatif kerja. Hutan di ujung Sarongge itu, secara resmi ditutup untuk kebun sayur.

baca juga

Saya lihat petani yang sadar kebunnya harus dihutankan itu, menanggung beban berat ketika dihadapkan pada tenggat. Ada beberapa keluarga yang istrinya terpaksa berangkat jadi TKW. Saya selalu terharu kalau mengingat pengorbanan itu. Maka, saya putuskan untuk terus mendampingi petani Sarongge, meski program adopsi pohon sudah selesai.

Petani Sarongge selalu mengingatkan saya akan Tiga O. Slogan mereka tentang hubungan petani dan hutannya. Leweung hejO. Reseup nu nenjO. Patani ngejO. Hutan hijau. Senang yang melihatnya. Petani bisa menanak nasi. Pendeknya : Hutan terjaga, kalau petani sekitarnya sejahtera

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Satgas Covid-19 Perketat Pemeriksaan di Perbatasan Selama 24 Jam

Satgas Covid-19 Perketat Pemeriksaan di Perbatasan Selama 24 Jam

Jabar | Sabtu, 09 Mei 2020 | 07:30 WIB

Insentif Tak Pasti, Tenaga Medis di Cianjur Gadaikan Motor Hingga Mas Kawin

Insentif Tak Pasti, Tenaga Medis di Cianjur Gadaikan Motor Hingga Mas Kawin

Jabar | Jum'at, 08 Mei 2020 | 04:05 WIB

Kalahkan Harga Ayam, Harga Jengkol Meroket di Pasar Tradisional Cianjur

Kalahkan Harga Ayam, Harga Jengkol Meroket di Pasar Tradisional Cianjur

Jabar | Jum'at, 08 Mei 2020 | 02:30 WIB

Kecelakaan Laut di Perairan Cianjur, Galang Ditemukan Tak Bernyawa di Garut

Kecelakaan Laut di Perairan Cianjur, Galang Ditemukan Tak Bernyawa di Garut

Jabar | Kamis, 07 Mei 2020 | 01:05 WIB

Diduga Pemeriksaan Longgar, 17 Ribu Pemudik Masuki Cianjur

Diduga Pemeriksaan Longgar, 17 Ribu Pemudik Masuki Cianjur

Jabar | Jum'at, 10 April 2020 | 20:15 WIB

Terkini

Modus Minta Salaman Berujung Kecupan, Kasatpol PP Tangerang Dilaporkan ke Polisi

Modus Minta Salaman Berujung Kecupan, Kasatpol PP Tangerang Dilaporkan ke Polisi

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:27 WIB

Jalur Sepeda di Jakarta Tetap Dipertahankan, Dishub DKI Bakal Evaluasi Sejumlah Ruas

Jalur Sepeda di Jakarta Tetap Dipertahankan, Dishub DKI Bakal Evaluasi Sejumlah Ruas

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:27 WIB

Kipas Angin Gantung yang Bagus Merek Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Beserta Harganya

Kipas Angin Gantung yang Bagus Merek Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Beserta Harganya

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 13:25 WIB

Weton Ketemu 31 Artinya Apa dalam Perjodohan? Ini Maknanya

Weton Ketemu 31 Artinya Apa dalam Perjodohan? Ini Maknanya

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 13:25 WIB

Spontan Tapi Tak Bermutu, Sentilan Pedas Ryaas Rasyid untuk Pidato Prabowo

Spontan Tapi Tak Bermutu, Sentilan Pedas Ryaas Rasyid untuk Pidato Prabowo

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:23 WIB

Puncak HUT Ke-81 TNI Batal Digelar di Monas, Upacara Dialihkan ke Cilangkap

Puncak HUT Ke-81 TNI Batal Digelar di Monas, Upacara Dialihkan ke Cilangkap

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:20 WIB

Paradoks Prestasi Akademik: Ketika Nilai Bagus Justru Jadi Bahan Ejekan

Paradoks Prestasi Akademik: Ketika Nilai Bagus Justru Jadi Bahan Ejekan

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 13:20 WIB

Mitos atau Fakta: Mencabut Colokan Listrik Kulkas dan TV Bisa Hemat Tagihan Bulanan?

Mitos atau Fakta: Mencabut Colokan Listrik Kulkas dan TV Bisa Hemat Tagihan Bulanan?

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 13:18 WIB

Menkeu Suahasil Merapat ke Istana, Sinyal Pematangan Rencana Sekolah dan Kuliah Negeri Gratis?

Menkeu Suahasil Merapat ke Istana, Sinyal Pematangan Rencana Sekolah dan Kuliah Negeri Gratis?

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:15 WIB

BMKG Ungkap 2 Fenomena yang Bikin Musim Hujan Datang Terlambat

BMKG Ungkap 2 Fenomena yang Bikin Musim Hujan Datang Terlambat

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:15 WIB

×