alexametrics

Masuk Masa Supercycle, Harga Minyak Goreng Bakal Naik

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Masuk Masa Supercycle, Harga Minyak Goreng Bakal Naik
Minyak kelapa sawit disebut tidak berbahaya. (Shutterstock)

Fenomena Supercyle ini merupakan masa di mana permintaan komoditas naik sehingga menyebabkan harga-harga komoditas ikut melonjak.

Suara.com - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut Indonesia akan memasuki masa Supercycle. Fenomena Supercyle ini merupakan masa di mana permintaan komoditas naik sehingga menyebabkan harga-harga komoditas ikut melonjak.

Ia mencontohkan, salah satu harga komoditas yang akan mengalami kenaikan yaitu Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah, sehingga berimbas pada harga minyak goreng yang berbahan dasar CPO.

"Jadi secara makro, ekonomi Indonesia terbantu karena kita penjual CPO terbesar di dunia, tetapi secara mikronya memang ada kenaikan harga minyak goreng ini karena harga feedstock-nya, harga pasokan utamanya naik luar biasa," ujar Lufti yang ditulis Kamis (8/4/2021)

Namun begitu, Lutfi melanjutkan, lonjakan harga minyak goreng selama periode Supercycle tak begitu tinggi. Ia memastikan, meski naik, tetapi harga tetap stabil.

Baca Juga: Mendag ke Pasar Induk Kramat Jati, Harga Bahan Pokok Turun

"Minyak goreng kita tuh naik nih dari Rp 10 ribu jadi Rp 12 ribu, bahkan Rp 13 ribu kemarin di Kota Padang. Kenapa? Karena harga CPO-nya yang Indonesia penjual terbesar di dunia, yang biasanya 600-700 dollar AS hari ini lebih dari 1.000 dollar AS," ucap Lutfi.

Kendati demikian, tambahnya, fenomena Supercycle justru lebih banyak menguntungkan Indonesia dari sisi ekspor.

Selain lonjakan permintaan yang mengalami kenaikan, Indonesia dapat untung dari harga yang ikut terdongkrak naik.

"Ini sebenarnya membawa banyak juga manfaat bagi perekonomian Indonesia, karena harga BBM, harga minyak yang tadinya 13 dollar AS bisa jadi 55 dollar AS dengan kenaikan hampir 7 kali lipat pada tahun 2020, antara bulan Maret sampai bulan Desember," pungkas dia.

Baca Juga: Nama Menteri Muhammad Lutfi Kembali Disebut Dalam Sidang Pemalsuan Dokumen

Komentar