alexametrics

Habiskan Dana Triliunan, Ini Deretan Bandara yang Sepi Usai Diresmikan

M Nurhadi
Habiskan Dana Triliunan, Ini Deretan Bandara yang Sepi Usai Diresmikan
Seorang pria tengah menunggu keberangkatan di bandara YIA. [Suara.com/Hiskia]

Pandemi menyumbang faktor terbesar tekanan utang yang harus dihadapi oleh AP I. Biaya operasional tinggi tidak diimbangi dengan jumlah penumpang.

Suara.com - Proyek ambisius pemerintah dengan pembangunan bandara di sejumlah wilayah tidak langsung berbuah manis. Sejumlah bandara baru dilaporkan sepi penumpang.

Kabar terbaru, Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) jadi yang ke sekian bandara baru yang sepi penumpang meski belum lama diresmikan Presiden Joko Widodo, dampaknya keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) makin kesulitan.

Sebelum bandara YIA, Bandara JB Soedirman di Purbalingga, Jawa Tengah juga sangat sepi. Bahkan, maskapai penerbangan terakhir yang masih beroperasi terakhir dengan rute tersebut, Citilink memutuskan menutup rute.

Mengutip dari Solopos.com --jaringan SUara.com, sebelumnya Bandara Kertajati yang digadang-gadang sebagai bandaa andalan juga perlahan ditinggalkan karena akses yang terkendala.

Baca Juga: Dilabeli Bandara Terbaik, YIA Masuk Daftar Bandara Baru yang Sepi Penumpang

Bandara YIA sendiri diresmikan pada 28 Agustus 2020 dikelola oleh PT Angkasa Pura I. Meski menghabiskan dana Rp12 triliun dalam pembangunannya, hingga kini bandara megah itu belum mencapai target jumlah penumpang. Jumlah penumpang yang terus menurun berdampak pada tekanan keuangan. Terlebih, menurut Direktur Utama Faik, saat ini manajemen masih berkewajiban membayar pinjaman sebelumnya yang digunakan untuk investasi pengembangan bandara.

Bandara tersebut dibiayai melalui skema penggunaan dana internal dan berbagai sumber lain seperti kredit sindikasi perbankan serta obligasi.

“Pandemi Covid-19 melanda pada saat Angkasa Pura I tengah dan telah melakukan pengembangan berbagai bandaranya yang berada dalam kondisi kekurangan kapasitas. Seperti Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (YIA) yang menghabiskan biaya pembangunan hampir Rp12 triliun,” kata Faik, Minggu (5/12/2021).

Hal serupa disampaikan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo yang menyebut, utang mencapai Rp35 triliun dan rugi per bulan mencapai Rp200 miliar.

 “AP I ini memang kondisinya berat, dengan utang Rp35 triliun dan rate loss [kerugian rata-rata] per bulan Rp200 miliar. Kalau tidak direstrukturisasi, setelah pandemi utangnya bisa mencapai Rp38 triliun,” kata Tiko dalam rapat dengan Komisi VI DPR pekan ini.

Baca Juga: Ditangkap Polisi Gegara Video Ekshibisonis di Bandara YIA , Siapa Siskaeee?

Pandemi menyumbang faktor terbesar tekanan utang yang harus dihadapi oleh AP I. Biaya operasional tinggi tidak diimbangi dengan jumlah penumpang dan wabah yang belum usai.

Komentar