facebook

Konflik Rusia dan Ukraina Diperkirakan Memicu Kenaikan Harga Energi, Berdampak Pada Indonesia?

M Nurhadi
Konflik Rusia dan Ukraina Diperkirakan Memicu Kenaikan Harga Energi, Berdampak Pada Indonesia?
Seorang tentara Ukraina tengah berjaga di daerah perbatasan dengan Rusia di tengah ketegangan antara kedua negara. (Foto: AFP)

"Itu berarti inflasi utama, yang sudah pada tingkat yang sangat tinggi di seluruh dunia, bisa tetap jauh lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," kata Gopinath.

Suara.com - Ketegangan antara Rusia dan Ukraina belakangan ini berdampak pada kenaikan biaya energi dan harga komoditas bagi sejumlah negara. 

Disampaikan oleh Wakil Direktur Pelaksana Pertama Gita Gopinath melalui Reuters, saat ini situasinya jauh berbeda dari tahun 2014 ketika Rusia mencaplok wilayah Krimea di Ukraina, dan harga energi turun cukup tajam di tengah rendahnya permintaan dan pasokan gas serpih yang cukup.

"Kali ini, jika konflik ini terjadi, Anda akan melihat kenaikan harga energi," kata Gopinath kepada Reuters dalam sebuah wawancara, mencatat krisis saat ini berlangsung di musim dingin dan cadangan gas alam jauh lebih rendah di Eropa.

"Harga komoditas lain yang diekspor oleh Rusia juga naik, dan dapat memicu "peningkatan yang lebih besar dan luas" dalam harga komoditas jika konflik meningkat," sambungnya.

Baca Juga: Pertemuan Jokowi dan PM Lee Hsien Loong Hasilkan Investasi Singapura Senilai 9,2 Miliar US Dolar di Indonesia

Ekonomi Rusia mengalami kontraksi sebesar 3,7 persen pada tahun 2015 karena jatuhnya harga minyak dan sanksi internasional yang diberlakukan setelah aneksasi Krimea.

"IMF saat ini memperkirakan bahwa ekonomi Rusia akan tumbuh 2,8 persen pada 2022, tetapi perkiraan itu tidak termasuk kekhawatiran tentang konflik," kata Gopinath.

Ia kembali melanjutkan, dalam konferensi pers sebelumnya, eskalasi konflik dan potensi sanksi Barat terhadap Rusia bisa mendorong harga minyak dan gas alam lebih tinggi, mendorong biaya energi lebih tinggi bagi banyak negara di dunia.

"Itu berarti inflasi utama, yang sudah pada tingkat yang sangat tinggi di seluruh dunia, bisa tetap jauh lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," katanya.

Konflik ini secara taklangsung juga memberi dampak pada pasar saham Rusia dan mata uang Rusia, rubel, katanya, seraya menambahkan bahwa pejabat IMF masih mengharapkan resolusi damai.

Baca Juga: Harga Minyak Goreng di Pasaran Kota Bogor Belum Semua Terjual Rp 14.000 per Liter

IMF pada Selasa (25/1/2022) merevisi perkiraan inflasi 2022 untuk negara maju dan berkembang, dan mengatakan tekanan harga yang meningkat kemungkinan akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya, tetapi mengatakan harga akan mereda pada 2023 karena pertumbuhan harga bahan bakar dan makanan moderat.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar