Emisi Gas Rumah Kaca Jadi Tantangan, Startup Ini Tawarkan Akses Pasar Karbon Lewat Teknologi

Vania Rossa

Senin, 10 Oktober 2022 | 11:35 WIB
Emisi Gas Rumah Kaca Jadi Tantangan, Startup Ini Tawarkan Akses Pasar Karbon Lewat Teknologi
Fairatmos Tawarkan Akses Pasar Karbon Lewat Teknologi. (Dok. Fairatmos)

Suara.com - Penyerapan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), terutama emisi karbon, masih menjadi tantangan besar yang harus ditangani oleh seluruh pemangku kepentingan untuk memitigasi dampak pemanasan global.

Sebelumnya, PBB pada Persetujuan Paris terkait Iklim telah memberikan mandat kepada pemerintah di berbagai negara untuk menjaga rata-rata kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celcius di atas level pra-industri, dengan target 1.5 derajat Celsius.

Secara ilmiah, jika suhu Bumi naik lebih dari 1.5 derajat Celsius, dampak dari perubahan iklim akan lebih berbahaya, tidak hanya bagi manusia tetapi juga untuk keseluruhan ekosistem.

Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi tahun 2022, saat ini Indonesia memiliki hutan tropis seluas 125,9 juta hektar dan menjadi urutan ketiga terbesar di dunia. Dengan adanya keanekaragaman hayati yang dimiliki ini, Indonesia berperan penting untuk mengendalikan perubahan iklim secara signifikan dengan potensi penyerapan karbon emisi gas rumah kaca sebesar 113,18 gigaton.

Dengan peluang ini, kesempatan terbuka luas kepada komunitas dan masyarakat untuk turut memberikan kontribusi dalam melakukan penyerapan emisi gas rumah kaca.

Tetapi dalam implementasinya, terdapat tantangan tersendiri yang dihadapi dalam peningkatan proyek penyerapan gas karbon. Kebanyakan dari masyarakat memiliki keterbatasan kapabilitas teknis untuk memenuhi standar penghitungan potensi penyerapan karbon yang diperlukan.

Memahami kebutuhan tersebut, startup teknologi iklim Fairatmos telah mengembangkan suatu platform untuk mendukung pengembangan proyek peyerapan karbon bagi komunitas, korporasi, dan pihak lain yang berminat. Selain pengembangan proyek, Fairtamos juga berkomitmen untuk membantu pengembang proyek dalam aspek pendanaan bersama entitas komersial dan individu.

CEO Fairatmos, Natalia Rialucky Marsudi, mengatakan bahwa Fairatmos ingin memudahkan komunitas dan masyarakat untuk mengakses pasar karbon. Ia menggarisbawahi komitmen Fairatmos dalam menyediakan akses yang merata bagi seluruh partisipan pasar karbon, seperti pengembang proyek, para tenaga ahli, donatur, dan penyeimbang, untuk secara kolektif membatasi kenaikan suhu global.

Salah satunya dengan meluncurkan kampanye #PulihkanAtmosfer. Inisiatif ini merupakan kampanye kolaboratif antara organisasi, universitas dan bisnis yang memiliki keinginan untuk berkontribusi aktif dalam mengembalikan keseimbangan pada atmosfer Bumi.

baca juga

“Komunitas tapak, petani dan masyarakat merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap efek dari perubahan iklim, namun sering tidak memiliki sumber daya untuk memitigasi atau beradaptasi. Mekanisme pasar karbon hadir sebagai satu solusi, namun tantangan datang dari sulitnya menyusun proyek penyerapan karbon karena adanya hambatan teknologi dan kebutuhan finansial. Di sinilah Fairatmos menggunakan teknologi untuk menyediakan masyarakat terhadap akses yang lebih mudah kepada pasar karbon,” jelas Natalia dalam keterangan tertulis.

Pekan lalu, Fairatmos telah meluncurkan produk pertamanya yaitu Digital Pre-Feasibility Study (Pre-FS) untuk penyerapan karbon melalui konservasi mangrove. Platform Digital Pre-FS membantu proses verifikasi karbon dengan ringkas yang mencakup identifikasi, standardisasi dan pemilihan metodologi, hingga pengecekan kelayakan proyek berdasarkan kriteria metodologis, yang dimana proses biasa dapat memakan waktu 60 hari dengan biaya yang tinggi kini dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 7 hari secara gratis.

Platform ini dibangun dengan teknologi Remote Sensing dan Machine Learning, yang dapat secara tepat memprediksi potensi proyek penyerapan karbon.

Beberapa proyek Digital Pre-FS yang sedang dijalankan oleh Fairatmos termasuk diantaranya program restorasi bakau di Muara Badak Ulu dan pedesaan Handil Terusan di Kalimantan Timur dan program restorasi bakau di Cilacap, Desa Ujungalang di Jawa Barat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kiat Sociolla Menjadi Startup yang Menarik Bagi Generasi Milenial dan Gen Z

Kiat Sociolla Menjadi Startup yang Menarik Bagi Generasi Milenial dan Gen Z

Bisnis | Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:00 WIB

3 Alasan Mengapa Startup Tetap Menarik Bagi Generasi Milenial dan Gen Z

3 Alasan Mengapa Startup Tetap Menarik Bagi Generasi Milenial dan Gen Z

Bisnis | Kamis, 06 Oktober 2022 | 14:31 WIB

Startup Rantai Pasok Makanan JaPang Raih Pendanaan USD11,5 Juta dari Gayo Capital

Startup Rantai Pasok Makanan JaPang Raih Pendanaan USD11,5 Juta dari Gayo Capital

Bisnis | Kamis, 06 Oktober 2022 | 09:39 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Health | Senin, 21 September 2026 | 23:37 WIB

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:31 WIB

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:16 WIB

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Video | Senin, 21 September 2026 | 23:10 WIB

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 23:02 WIB

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

Sumut | Senin, 21 September 2026 | 22:53 WIB

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Bogor | Senin, 21 September 2026 | 22:52 WIB

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 22:45 WIB

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 22:44 WIB

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

News | Senin, 21 September 2026 | 22:42 WIB

×