Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.855.000
Beli Rp2.725.000
IHSG 7.195,229
LQ45 726,150
Srikehati 345,455
JII 489,856
USD/IDR 17.090

Petani Muda Masih Jarang, Tantangan Kesejahteraan Jadi Hambatan Utama

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Selasa, 14 Januari 2025 | 14:34 WIB
Petani Muda Masih Jarang, Tantangan Kesejahteraan Jadi Hambatan Utama
Ilustrasi petani [Foto oleh Pixabay]

Suara.com - Sektor pertanian menjadi satu dari sektor prioritas pemerintah dalam mengatasi krisis global. Hal ini turut tergambar dalam rencana kerja Presiden Prabowo Subianto yang mendorong swasembada pangan hingga mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan.

Meski demikian, persoalan sektor pertanian di Indonesia masih terbilang pelik dan penuh tantangan. Stigmatisasi soal menjadi petani di usia kalangan produktif atau anak muda masih banyak yang kurang meminati. Salah satu faktornya karena sektor ini kerap dianggap tak menjamin kesejahteraan.

Di satu sisi, kaki Indonesia tengah bersiap menghadapi Indonesia emas 2045. Pada masa ini diproyeksikan sektor pertanian menjadi lumbung pangan dunia dan tidak lagi mengimpor pangan. Beriringan dengan hal tersebut pemerintah juga menginisiasi sejumlah langkah untuk mewujudkan tujuan ini baik dari hulu ke hilir.

Melihat tantangan hingga situasi yang berjalan, Al Fansuri seorang petani muda menuangkan pemikirannya dalam sebuah karya “Agrikultur Progresif: menopang Indonesia emas lewat jalur pertanian”. Karya ini dibuat atas dasar resah dalam memandang usaha pertanian yang sebenarnya adalah kekuatan bagi bangsa untuk berlari kencang menuju Indonesia Emas.

“Sektor pertanian itu vital bagi perekonomian Indonesia. Meskipun ya kontribusinya terhadap PDB negara terus menurun, tapi ini masih jadi sektor penghidupan bagi masyarakat, apalagi yang tinggal di pedesaan. Tapi, sekali lagi kita sama-sama ketahui kalau komoditas pertanian juga jadi penyumbang PDB terbesar bagi negara Indonesia, apalagi kalau anak mudanya lebih banyak berperan di sektor pertanian. Kek ibarat makin gacor lah kita.” Beber Al Fansuri dalam keterangannya dikutip Selasa (14/1/2025).

Sebagai anak muda yang bergelut di usaha pertanian ia tak menampik masih ada banyak kerikil tajam yang dihadapi petani, tak terkecuali dirinya dan para petani lainnya.

“Ketergantungan pada metode konvensional dan kurangnya penerapan teknologi modern menjadi penghalang utama dalam meningkatkan produktivitas,” ujarnya lagi.

Oleh karenanya, dalam buku yang ia tulis, dijabarkan solusi untuk sejalan dengan target pemerintah. Al Fansuri mengusulkan transformasi menuju agrikultur progresif. Adalah sebuah sistem pertanian yang mengintegrasikan teknologi canggih dan ramah lingkungan, serta berfokus pada efisiensi dan keberlanjutan. Penggunaan drone untuk pemantauan tanaman, sistem irigasi berbasis sensor otomatis, serta teknologi big data untuk meramalkan hasil panen, dipandangnya sebagai kunci untuk menghadapi tantangan produksi dan distribusi.

Al Fansuri percaya bahwa tanpa pendidikan dan pelatihan yang memadai, petani akan kesulitan beradaptasi dengan perubahan zaman. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas petani melalui pendidikan dan akses ke pembiayaan yang lebih mudah, menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana transformasi ini. Ia sekaligus menekankan pentingnya penguatan infrastruktur pertanian—mulai dari sistem irigasi hingga jaringan distribusi yang lebih efisien.

Tidak hanya soal teknologi dan infrastruktur, Al Fansuri juga mengajak pembaca dan pelaku usaha tani untuk berpikir lebih jauh tentang keberlanjutan pertanian.

“Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, pertanian berkelanjutan-seperti teknik agroforestry dan pertanian organik-diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menghasilkan produk yang lebih sehat dan berkualitas.” lanjutnya.

Gambaran buku AL Fansuri diakhiri dengan gagasan tentang Agrikultur 4.0, yaitu era digitalisasi dalam sektor pertanian yang melibatkan penerapan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan blockchain untuk meningkatkan efisiensi serta transparansi dalam rantai pasok pertanian.

Menurut Al Fansuri, penguasaan teknologi ini akan menjadikan sektor pertanian Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bersaing di pasar global. Secara keseluruhan karya Agrikultur Progresif adalah buku yang sangat relevan dengan kondisi pertanian Indonesia saat ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nasib Petani Tembakau dan Cengkeh di Ujung Tanduk, Ini Penyebabnya

Nasib Petani Tembakau dan Cengkeh di Ujung Tanduk, Ini Penyebabnya

Bisnis | Selasa, 14 Januari 2025 | 13:24 WIB

150 Ribu Hektar Sawah Alih Fungsi Jadi Perumahan Setiap Tahun

150 Ribu Hektar Sawah Alih Fungsi Jadi Perumahan Setiap Tahun

Foto | Minggu, 12 Januari 2025 | 21:36 WIB

Petani di Lombok Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Begini Penjelasan Kios

Petani di Lombok Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Begini Penjelasan Kios

Bisnis | Jum'at, 10 Januari 2025 | 11:19 WIB

Terkini

Rupiah Tertekan saat Fundamental Ekonomi Kokoh, Peluang Dongkrak Ekspor

Rupiah Tertekan saat Fundamental Ekonomi Kokoh, Peluang Dongkrak Ekspor

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 17:41 WIB

Pemerintah Mau Bangun Tol Gilimanuk-Mengwi, Butuh Duit Rp12,7 Triliun

Pemerintah Mau Bangun Tol Gilimanuk-Mengwi, Butuh Duit Rp12,7 Triliun

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 17:38 WIB

Purbaya Tak Masalah Jika Gaji Menteri Dipotong, Perkirakan Sampai 25%

Purbaya Tak Masalah Jika Gaji Menteri Dipotong, Perkirakan Sampai 25%

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 17:35 WIB

IHSG Akhirnya Perkasa Naik 4 Persen, Ini Pemicunya

IHSG Akhirnya Perkasa Naik 4 Persen, Ini Pemicunya

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 17:15 WIB

Purbaya Baru Tahu Ada Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut dari Anggaran Tahun Lalu

Purbaya Baru Tahu Ada Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut dari Anggaran Tahun Lalu

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 17:06 WIB

Kolaborasi Pemerintah & Industri Jadi Kunci Peluang Kerja Tetap Terbuka di Tengah Tantangan Global

Kolaborasi Pemerintah & Industri Jadi Kunci Peluang Kerja Tetap Terbuka di Tengah Tantangan Global

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 16:48 WIB

Jumlah Turis Empat Kali Lipat dari Penduduk, Gubernur Koster Sebut Orang Bali Makin Terpinggirkan

Jumlah Turis Empat Kali Lipat dari Penduduk, Gubernur Koster Sebut Orang Bali Makin Terpinggirkan

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 16:36 WIB

Purbaya soal Marak Joki Coretax: Desain Agak Cacat, Sulit Dipakai Orang Biasa

Purbaya soal Marak Joki Coretax: Desain Agak Cacat, Sulit Dipakai Orang Biasa

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 16:23 WIB

Rupiah 'Pura-pura' Kuat di Level Rp17.000, Cadangan Devisa yang Keropos Jadi Ancaman Nyata

Rupiah 'Pura-pura' Kuat di Level Rp17.000, Cadangan Devisa yang Keropos Jadi Ancaman Nyata

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 16:14 WIB

BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan

BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 16:09 WIB