Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.595.000
Beli Rp2.480.000
IHSG 5.873,372
LQ45 582,884
Srikehati 289,451
JII 342,406
USD/IDR 18.000

Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya

Mohammad Fadil Djailani

Senin, 25 Mei 2026 | 19:19 WIB
Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya
Viral! Wisata Pantai Hancur Usai Perusahaan Tambang Menggurita di Pesisir Konawe Selatan, Siapa Pemiliknya? Foto @rudyworldpacker
baca 10 detik
  • Pantai Kartika rusak akibat ekspansi tambang batu gamping.
  • Ekowisata warga lumpuh, ekonomi lokal ikut terpuruk.
  • Tambang didorong kebutuhan industri smelter nikel Sultra.

Suara.com - Gelombang kemarahan publik pecah setelah video udara yang memperlihatkan kerusakan parah Pantai Kartika di Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, viral di media sosial.

Kawasan pesisir yang dulu dikenal sebagai surga wisata eksotis dengan panorama karst bak “Raja Ampat mini” kini berubah menjadi lanskap gersang akibat kepungan aktivitas tambang batu gamping.

Pantai Kartika atau Tanjung Kartika bersama Pulau Senja di Desa Wawatu sebelumnya menjadi magnet wisata alam Sulawesi Tenggara. Tebing-tebing karst Formasi Laonti yang berdiri megah di tepian Selat Wawonii menawarkan panorama laut jernih, lokasi snorkeling, hingga spot menyelam favorit wisatawan.

Namun keindahan yang terbentuk selama ribuan tahun itu kini perlahan hilang. Bukit-bukit karst dikupas alat berat demi memenuhi kebutuhan industri pengolahan nikel pirometalurgi yang terus tumbuh di Sulawesi Tenggara. Pulau Senja bahkan disebut telah rata dengan tanah akibat eksploitasi batu gamping yang masif.

Kondisi tersebut kini membayangi Pantai Kartika yang berada berdampingan dengan area tambang. Aktivitas pengerukan terus mengikis tebing pelindung alami pantai, sementara limpasan material tambang yang terbawa hujan memicu sedimentasi lumpur tebal di kawasan pesisir.

Akibat sedimentasi itu, terumbu karang tertutup endapan lumpur sehingga merusak ekosistem laut dan mematikan aktivitas wisata bahari. Warga menyebut kawasan yang dulunya ramai wisatawan kini semakin sepi karena air laut keruh dan kerusakan lingkungan makin meluas.

Kerusakan ekologis tersebut berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat Desa Wawatu. Sejak viral pada 2017, Pantai Kartika dan Pulau Senja sempat menjadi sumber penghasilan baru bagi warga pesisir yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Warga memperoleh pemasukan dari jasa perahu wisata, penyewaan alat snorkeling, penjualan hasil laut, hingga usaha kuliner. Namun seiring meredupnya daya tarik wisata akibat tambang, roda ekonomi lokal perlahan lumpuh.

Ironisnya, sektor pertambangan disebut tidak memberikan efek ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Sebagian warga hanya terserap sebagai pekerja kasar dengan pendapatan terbatas, sementara keuntungan terbesar mengalir keluar daerah melalui aktivitas industri tambang dan rantai pasok smelter nikel.

baca juga

Aktivitas tambang batu gamping di pesisir Moramo diketahui didorong tingginya kebutuhan industri peleburan nikel. Batu gamping digunakan sebagai bahan fluks untuk membantu proses pemurnian logam dan mengikat zat pengotor dalam pembakaran bersuhu tinggi.

Sejumlah perusahaan tercatat menguasai konsesi pertambangan di kawasan tersebut. PT Citra Khusuma Sultra (CKS) memiliki izin operasi produksi batu gamping seluas 122 hektare dengan kuota produksi mencapai 1,04 juta ton per tahun dan izin berlaku hingga 2030.

Selain itu terdapat CV Ramadhan Moramo dengan konsesi awal 11 hektare di kawasan Pulau Senja, PT Hoffmen Energi Perkasa dengan dua konsesi seluas 19,56 hektare dan 18 hektare, serta PT Ramadhan Moramo Raya dan CV Ilyas Karya yang juga mengantongi kuota produksi besar.

Berdasarkan profil perizinan, PT Citra Khusuma Sultra beroperasi di Kabupaten Konawe Selatan dengan IUP operasi produksi batu gamping melalui WIUP 2474055442015004. Perusahaan tersebut memiliki area konsesi seluas 122,60 hektare dengan alamat kantor di Kendari.

Masifnya ekspansi tambang di kawasan pesisir Moramo kini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah pembangunan daerah. Di satu sisi, industri tambang dan hilirisasi nikel menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. Namun di sisi lain, kerusakan lingkungan dan matinya sektor ekowisata berbasis komunitas memunculkan biaya sosial dan ekologis yang tidak kecil bagi masyarakat lokal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Saham Diborong, Smelter Dibangun: Inilah Tentakel Nikel Haji Isam

Saham Diborong, Smelter Dibangun: Inilah Tentakel Nikel Haji Isam

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 13:24 WIB

IBC Fokus Riset Kembangkan Paten Baterai EV yang Sesuai dengan Kebutuhan Indonesia

IBC Fokus Riset Kembangkan Paten Baterai EV yang Sesuai dengan Kebutuhan Indonesia

Otomotif | Jum'at, 22 Mei 2026 | 17:53 WIB

Perusahaan Tambang Tiarap Akibat Ketidakpastian Kebijakan, Astra UD Trucks Fokus ke Pasar Logistik

Perusahaan Tambang Tiarap Akibat Ketidakpastian Kebijakan, Astra UD Trucks Fokus ke Pasar Logistik

Otomotif | Jum'at, 22 Mei 2026 | 15:04 WIB

Terkini

Purbaya Ajak Investor Negara Islam Kembangkan Industri Halal di Indonesia

Purbaya Ajak Investor Negara Islam Kembangkan Industri Halal di Indonesia

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:56 WIB

TikTok Donasi 200 Ribu Dolar AS untuk Sektor Pangan RI

TikTok Donasi 200 Ribu Dolar AS untuk Sektor Pangan RI

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:52 WIB

Indonesia Dihantam 4 Tekanan Ekonomi Sekaligus, Apa Saja?

Indonesia Dihantam 4 Tekanan Ekonomi Sekaligus, Apa Saja?

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:14 WIB

Program AURA BRI Peduli Cetak UMKM Perempuan Tangguh Dengan Peluang Ekonomi Olahan Pala

Program AURA BRI Peduli Cetak UMKM Perempuan Tangguh Dengan Peluang Ekonomi Olahan Pala

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:55 WIB

B50 Mulai Mengalir ke 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Transisi Tuntas dalam Dua Bulan

B50 Mulai Mengalir ke 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Transisi Tuntas dalam Dua Bulan

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:45 WIB

Bahlil Akan Preteli RKAB Perusahaan Tambang yang Ogah Pakai Solar B50

Bahlil Akan Preteli RKAB Perusahaan Tambang yang Ogah Pakai Solar B50

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:21 WIB

Polemik Pajak JHT, Kenapa Tabungan Hari Tua Bisa Dipotong Pajak hingga 30 Persen?

Polemik Pajak JHT, Kenapa Tabungan Hari Tua Bisa Dipotong Pajak hingga 30 Persen?

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:51 WIB

Konsumen Makin Pesimis, Penjualan Ritel Anjlok, Rupiah Ambruk ke Rp18.128 per Dolar AS

Konsumen Makin Pesimis, Penjualan Ritel Anjlok, Rupiah Ambruk ke Rp18.128 per Dolar AS

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:50 WIB

MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat

MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:09 WIB

Siap-siap! Tarif 52 Ruas Tol Berpotensi Naik Tahun Ini

Siap-siap! Tarif 52 Ruas Tol Berpotensi Naik Tahun Ini

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 17:59 WIB

×