Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.655.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Lesu! Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025 di Bawah 5 Persen

Mohammad Fadil Djailani

Senin, 05 Mei 2025 | 11:59 WIB
Lesu! Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025 di Bawah 5 Persen
Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun 2025 menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini (5/5/2025) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tanah Air pada kuartal I 2025 tercatat sebesar 4,87 persen secara year on year (yoy).

Angka ini berada di bawah ekspektasi dan menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2024 yang mencapai 5,11 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi persnya menjelaskan bahwa berdasarkan data Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.665,9 triliun, sementara atas dasar harga konstan adalah Rp 3.264,5 triliun.

"Secara year on year ekonomi kuartal I 2025 yang tumbuh sebesar 4,87 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan ini relatif lebih rendah dibandingkan kuartal I 2024 yang tumbuh 5,11 persen," ungkap Amalia dalam konfrensi persnya di Jakarta, Senin (5/5/2025).

Lebih lanjut, BPS juga mencatat adanya kontraksi sebesar -0,98 persen jika dibandingkan dengan kuartal IV 2024 (quarter to quarter atau q-to-q). Amalia menjelaskan bahwa kontraksi ini sejalan dengan pola historis di mana pertumbuhan ekonomi pada kuartal I cenderung lebih rendah dibandingkan kuartal IV tahun sebelumnya. Hal ini seringkali disebabkan oleh faktor musiman dan berakhirnya momentum belanja akhir tahun.

Meskipun terjadi perlambatan secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa dari sisi pengeluaran, hampir seluruh komponen mencatatkan pertumbuhan positif secara year on year. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB dengan pangsa mencapai 54,53 persen dan pertumbuhan sebesar 4,89 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini didorong oleh adanya momen liburan serta perayaan Ramadan dan menjelang Idul Fitri yang jatuh pada akhir Maret 2025, memicu peningkatan belanja masyarakat.

Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, yang memiliki kontribusi signifikan sebesar 28,03 persen, justru menunjukkan perlambatan pertumbuhan yang cukup tajam, hanya sebesar 2,12 persen. Perlambatan investasi ini menjadi perhatian tersendiri karena investasi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Kabar baik datang dari sektor ekspor, yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara komponen pengeluaran, yakni sebesar 6,78 persen. Pertumbuhan ekspor ini didorong oleh peningkatan nilai ekspor nonmigas serta peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, menunjukkan bahwa kinerja perdagangan luar negeri masih cukup solid.

Namun, konsumsi pemerintah menjadi satu-satunya komponen pengeluaran yang mengalami kontraksi signifikan sebesar -1,38 persen secara year on year. Amalia menjelaskan bahwa kontraksi ini terutama disebabkan oleh perbedaan basis perbandingan dengan kuartal I tahun sebelumnya, di mana terdapat belanja pemerintah yang cukup besar terkait dengan penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu). Dengan tidak adanya agenda Pemilu pada kuartal I 2025, belanja pemerintah mengalami penurunan.

baca juga

Dari sisi sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar, yaitu sebesar 2,61 persen. Diikuti oleh PMTB dengan sumber pertumbuhan 0,65 persen dan net ekspor (selisih antara ekspor dan impor) dengan sumber pertumbuhan 0,83 persen. Sementara itu, konsumsi pemerintah justru memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sebesar -0,08 persen.

Angka pertumbuhan ekonomi kuartal I 2025 yang berada di bawah 5 persen ini menjadi sinyal perlunya kewaspadaan dan evaluasi lebih lanjut. Meskipun konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, perlambatan investasi menjadi perhatian serius yang perlu diatasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.

Kontraksi pada konsumsi pemerintah juga perlu dianalisis lebih dalam untuk memahami dampaknya terhadap berbagai sektor. Pemerintah perlu mengoptimalkan belanja yang produktif dan tepat sasaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertumbuhan ekspor yang solid menjadi modal penting, namun pemerintah perlu terus berupaya untuk meningkatkan daya saing produk ekspor dan memperluas pasar tujuan ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BI Yakin Inflasi Tetap Terjaga, Apa Faktornya?

BI Yakin Inflasi Tetap Terjaga, Apa Faktornya?

Bisnis | Minggu, 04 Mei 2025 | 07:22 WIB

Bos BPS Buka-bukaan Standar Miskin Orang Indonesia

Bos BPS Buka-bukaan Standar Miskin Orang Indonesia

Bisnis | Sabtu, 03 Mei 2025 | 16:41 WIB

BPS Catat Kenaikan Signifikan Produksi Beras Nasional di Paruh Pertama 2025

BPS Catat Kenaikan Signifikan Produksi Beras Nasional di Paruh Pertama 2025

Bisnis | Jum'at, 02 Mei 2025 | 12:53 WIB

Terkini

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:03 WIB

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:54 WIB

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:40 WIB

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:11 WIB

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:49 WIB

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:12 WIB

Harga Emas Pegadaian: Antam Detaki Rp2,8 Juta per Gram, Disusul UBS dan Galeri24

Harga Emas Pegadaian: Antam Detaki Rp2,8 Juta per Gram, Disusul UBS dan Galeri24

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:57 WIB

Perundingan Damai AS-Iran Alot, Harga Minyak Dunia Naik Kembali ke USD80

Perundingan Damai AS-Iran Alot, Harga Minyak Dunia Naik Kembali ke USD80

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:22 WIB

IHSG Menghijau di Senin Pagi, Cek Saham yang Cuan

IHSG Menghijau di Senin Pagi, Cek Saham yang Cuan

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:16 WIB

Pembangunan PLTS Koperasi Pertama di Indonesia Capai 80 Persen

Pembangunan PLTS Koperasi Pertama di Indonesia Capai 80 Persen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 08:56 WIB