Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Nasib Proyek Kereta Gantung Feeder LRT Jabodebek-MRT Masih Dikaji

Chandra Iswinarno, Achmad Fauzi

Kamis, 12 Juni 2025 | 14:11 WIB
Nasib Proyek Kereta Gantung Feeder LRT Jabodebek-MRT Masih Dikaji
Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana. Ia mengungkapkan progres pembuatan kereta gantung atau skytrain untuk feeder transportasi massal. [Dok Polda Lampung]

Suara.com - Proyek penyediaan kendaraan pengumpan atau feeder untuk integrasi sistem transportasi massal LRT Jabodebek dan MRT Jakarta masih dalam tahap pengkajian oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub). 

Salah satu opsi yang tengah dikaji secara serius adalah penggunaan teknologi kereta gantung sebagai moda transportasi penghubung antarsimpul tersebut.

Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana mengungkapkan, kekinian prosesnya telah memasuki tahap Detail Engineering Design (DED) untuk menentukan jenis feeder yang paling sesuai dengan kondisi geografis, kebutuhan teknis, serta ketersediaan lahan di kawasan Jabodetabek.

"Ada yang pakai kereta yang di atas, seperti MRT yang itu. Nanti juga ada yang di bawah, tergantung semuanya ketersediaan tanah ya," ," ujar Suntana, dalam acara International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), yang ditulis Kamis 12 Juni 2025.

Selain itu, ia juga mengungkapkan dalam proyek tersebut juga akan ada penggunaan teknologi baru di dalamnya.

"Termasuk ini ada teknologi yang baru pakai kayak kereta api gantung gitu, seperti kereta gantung (skytrain)," ujarnya.

Lebih lanjut, Suntana menekankan, pemilihan bentuk feeder akan memperhitungkan sejumlah aspek, antara lain efisiensi biaya, ketersediaan lahan, dan terutama dampaknya terhadap lingkungan sekitar. 

Ia menyatakan pentingnya menghadirkan moda transportasi umum yang ramah lingkungan dan bisa menarik minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi.

"Nanti kita lihat yang efisien, yang biayanya yang tidak terlalu mahal, dan yang penting kesediaan tanah. Dan yang paling penting tidak merusak lingkungan. Itu perlu kita lakukan agar masyarakat tertarik menggunakan sarana kendaraan umum," katanya.

baca juga

Kemenhub berencana untuk membangun skytrain atau kereta gantung sebagai angkutan pengumpan transportasi lainnya.

Terdapat dua jalur skytrain yang akan dibangun, Serpong-Lebak Bulus (MRT Jakarta), dan Sentul-Harjamukti (LRT Jabodebek).

Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwanghandi mengatakan, kedua pembangunan skytrain ini seluruhnya akan dibiayai oleh investor.

"Ini kedua ini saya menekankan kepada pijen kereta api bahwa tidak boleh menggunakan anggaran APBN. Jadi kita terbuka siapa saja yang masuk," ujar Menhub di Jakarta seperti yang dikutip, Kamis 6 Maret 2025.

Ilustrasi Skytrain di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Nantinya, skytrain akan dibuat sebagai feeder transportasi massal di Kawasan Jabodetabek. [Antara]
Ilustrasi Skytrain di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Nantinya, skytrain akan dibuat sebagai feeder transportasi massal di Kawasan Jabodetabek. [Antara]

Nantinya, angkutan skytrain ini akan menjadi jembatan transportasi masyarakat dari wilayah Sentul maupun Serpong yang ingin kembali melanjutkan perjalanan dengan LRT Jabodebek ataupun MRT Jakarta.

"Kita sudah punya gambar-gambarnya dan mereka kemungkinan akan menyampaikan kepada kita proposalnya dan saya buka kepada siapa saja," ucap dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Risal Wasal menjelaskan, setidaknya ada empat investor yang berminat untuk menjadi investor pembangunan skytrain tersebut.

Empat Investor tersebut diantaranya, Belarusia, Jerman, dan dua investor dari China.

"Kami tengah minta kajian dari mereka nanti kita buat investor gathering," kata dia.

Risal menambahkan, pembangunan skytrain ini memakan biaya hingga Rp200 miliar per kilometer.

Sayangnya, dia tidak membeberkan kapan pembangunan skytrain tersebut akan dibangun.

"Pembangunan ini juga hanya memakan waktu 6 bulan," katanya.

Untuk diketahui, skytrain sebagai feeder transportasi massal menawarkan berbagai keunggulan dibanding moda lain. 

Moda transportasi tersebut beroperasi otomatis di jalur layang, skytrain bebas dari kemacetan dan memiliki ketepatan waktu tinggi.

Selain itu, ramah lingkungan karena menggunakan listrik, serta menjamin keamanan dan kenyamanan dengan sistem tertutup dan bebas hambatan. 

Skytrain dinilai cocok sebagai penghubung antar simpul transportasi seperti MRT, LRT, bandara, terminal bus, hingga kawasan perumahan atau bisnis.

Meski investasi awalnya tinggi, biaya operasional jangka panjang lebih efisien karena minim awak dan hemat energi. 

Selain mendukung integrasi transportasi, skytrain juga mendorong pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) serta meningkatkan nilai ekonomi lahan sekitarnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Punya Rencana Bangun Skytrain Rute Sentul-Harjamukti dan Serpong-Lebak Bulus

Pemerintah Punya Rencana Bangun Skytrain Rute Sentul-Harjamukti dan Serpong-Lebak Bulus

Bisnis | Kamis, 06 Maret 2025 | 15:53 WIB

Mulai Februari Pemerintah Sediakan Bus Bersubsidi, Kurangi Kepadatan ke Puncak

Mulai Februari Pemerintah Sediakan Bus Bersubsidi, Kurangi Kepadatan ke Puncak

News | Kamis, 26 Desember 2024 | 05:00 WIB

Setelah Dihitung, Wamenhub Bilang Harga Tiket Pesawat Bisa Turun di Libur Nataru

Setelah Dihitung, Wamenhub Bilang Harga Tiket Pesawat Bisa Turun di Libur Nataru

Bisnis | Kamis, 14 November 2024 | 19:30 WIB

Terkini

Saham BBCA Diserbu Asing, Target Harganya Bisa Capai Segini

Saham BBCA Diserbu Asing, Target Harganya Bisa Capai Segini

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 19:08 WIB

4 Perusahaan Ini Bakal Lakukan PHK, Lebih dari 5.000 Pekerja Terdampak

4 Perusahaan Ini Bakal Lakukan PHK, Lebih dari 5.000 Pekerja Terdampak

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:50 WIB

IHSG Diprediksi di Zona Hijau, Ini 3 Saham Pilihan yang Wajib Dipantau Pekan Ini

IHSG Diprediksi di Zona Hijau, Ini 3 Saham Pilihan yang Wajib Dipantau Pekan Ini

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:46 WIB

Bisnis Kedai Kopi Makin Ketat, Konsep 'Rumah Kedua' Jadi Senjata Bertahan

Bisnis Kedai Kopi Makin Ketat, Konsep 'Rumah Kedua' Jadi Senjata Bertahan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:41 WIB

Rupiah Terus Melemah, Bank Mega Syariah Jamin Kinerja Kredit Komersial Tak Kendur

Rupiah Terus Melemah, Bank Mega Syariah Jamin Kinerja Kredit Komersial Tak Kendur

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:32 WIB

PTPN Investasi di Kesehatan Karyawan, Bidik SDM Lebih Produktif

PTPN Investasi di Kesehatan Karyawan, Bidik SDM Lebih Produktif

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:29 WIB

Tak Mau Kalah dari Changi dan KLIA, Bandara Minangkabau Bidik Jadi Hub Penerbangan

Tak Mau Kalah dari Changi dan KLIA, Bandara Minangkabau Bidik Jadi Hub Penerbangan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:23 WIB

Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara

Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 17:14 WIB

IHSG Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Cek Rekomendasi Saham Senin Ini!

IHSG Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Cek Rekomendasi Saham Senin Ini!

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 17:11 WIB

Pemadaman Listrik PLN Sampai Kapan? Ini Penjelasannya

Pemadaman Listrik PLN Sampai Kapan? Ini Penjelasannya

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 16:44 WIB