Pasar China Menggoda, Tapi RI Mesti Waspada

Rabu, 01 Oktober 2025 | 17:51 WIB
Pasar China Menggoda, Tapi RI Mesti Waspada
Ilustrasi. Foto Prabowo Subianto tampil di koran China (Threads @andreeasyara)
Baca 10 detik
  • Hubungan China-Asia Tenggara berada dalam persimpangan kritis.
  • Negara-negara Asia Tenggara semakin bergantung pada China sebagai mitra dagang dan sumber investasi terbesar.
  •  Ekspansi pengaruh China, baik melalui inisiatif infrastruktur maupun klaim teritorial, memicu kekhawatiran serius tentang kedaulatan dan stabilitas regional.

Suara.com - Hubungan China dengan Asia Tenggara kini memasuki babak paling kompleks, membawa dilema antara keuntungan ekonomi yang masif dan risiko geopolitik

Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), mengungkap strategi cerdik China. Sejak era Presiden Xi Jinping, China meningkatkan inisiatif ekonomi, politik, dan diplomasi untuk memperkuat klaim teritorialnya di Laut China Selatan (LCS) dan Selat Taiwan.

Johanes menyoroti temuan riset FSI yang menyebut China sengaja mendekati negara yang sedang menjabat sebagai Ketua ASEAN. "Hal ini karena posisi sebagai ketua ASEAN merupakan posisi yang sangat strategis, khususnya dalam membangun konsensus, mempersiapkan agenda, dan melakukan resolusi konflik," jelas Johanes.

Contohnya, kedekatan Malaysia dengan RRC disebut menjadi kunci keberhasilan Malaysia sebagai ketua ASEAN tahun ini dalam memediasi konflik antara Thailand dan Kamboja. Namun, Johanes memperingatkan bahwa kedekatan berlebihan berpotensi melumpuhkan ASEAN dalam ketegangan yang melibatkan RRC secara langsung, seperti ketika China melakukan tindakan agresif terhadap Filipina.

Profesor Ian Chong dari National University of Singapore (hadir secara daring) mengingatkan bahwa RRC yang dihadapi Asia Tenggara saat ini berbeda dari era 1990-an; RRC kini jauh lebih kuat dan ambisius. Salah satu isu paling kompleks adalah sengketa di LCS.

Ian menyoroti masalah fundamental: keputusan China untuk tidak menghargai hasil keputusan Arbitrase Internasional tahun 2016, meskipun China adalah penandatangan UNCLOS. "Ini menimbulkan permasalahan karena bagi negara-negara Asia Tenggara, kepastian dan kejelasan hukum merupakan salah satu kunci yang diandalkan untuk memaksa negara-negara besar lebih menahan diri," tegas Ian.

Sementara itu, Broto Wardoyo dari Universitas Indonesia memiliki pandangan yang lebih santai, menyebut kompleksitas pengambilan keputusan di ASEAN akan menghalangi China untuk memaksa keputusan bulat. Ia berpendapat, strategi paling tepat bagi China adalah menjaga status quo.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI