Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.785.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.130,190
LQ45 620,397
Srikehati 308,223
JII 381,928
USD/IDR 17.785

Darurat Tekstil Nasional! Banjir Impor Murah Ancam 3,7 Juta Pekerja

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Kamis, 09 Oktober 2025 | 08:19 WIB
Darurat Tekstil Nasional! Banjir Impor Murah Ancam 3,7 Juta Pekerja
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional kini berada di ambang krisis. Foto Suara.com
  • Industri TPT nasional kini berada di ambang krisis.
  • Lonjakan impor, baik legal maupun ilegal, telah membuat neraca perdagangan anjlok tajam.
  • Sekretaris Jenderal APSyFI Farhan Aqil Syauqi mengungkapkan pertumbuhan impor produk tekstil terkini jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. 

Suara.com - Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional kini berada di ambang krisis. Lonjakan impor, baik legal maupun ilegal, telah membuat neraca perdagangan anjlok tajam dan mengancam 3,7 juta tenaga kerja di sektor ini.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) pun mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan penyelamatan.

Sekretaris Jenderal APSyFI Farhan Aqil Syauqi mengungkapkan pertumbuhan impor produk tekstil terkini jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Akibatnya, neraca perdagangan tekstil dan produk tekstil (TPT) anjlok tajam dari sekitar USD6 miliar menjadi hanya USD2,4 miliar per 2024 lalu.

“Banyak fasilitas impor bahan baku seperti KITE, PLB, KB, hingga GB disalahgunakan untuk memasukkan barang jadi (finished goods). Akibatnya, pasar dalam negeri kini dibanjiri produk impor murah, terutama dari Tiongkok,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (9/10/2025).

Ia menambahkan, perjanjian perdagangan bebas seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) juga menjadi tantangan besar karena membuat produk asal Tiongkok masuk dengan harga jauh lebih murah, yang tentunya menekan daya saing produk lokal.

Menurutnya, kondisi ini telah menyebabkan pasar domestik dikuasai produk impor, sementara pertumbuhan impor justru tidak mendorong ekspor, melainkan menurunkan minat investasi di sektor TPT. Struktur industri pun menjadi timpang, karena barang hilir seperti kain jadi dan pakaian lebih banyak dipasok dari luar negeri, sedangkan industri hulu di dalam negeri kehilangan pasar.

Padahal industri TPT memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional, karena mampu menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja langsung dengan nilai pasar domestik mencapai USD17 miliar dan perputaran bisnis hingga USD35 miliar. Secara global, Indonesia bahkan menduduki peringkat ke-5 dunia untuk kapasitas produksi polyester dan peringkat ke-2 untuk rayon, menandakan potensi besar jika dikelola dengan baik.

“Kalau kebijakan impor tetap longgar sementara industri hulu kita mati, tidak ada lagi masa depan bagi tekstil nasional,” tegas Farhan.

Oleh karenanya, pihaknya memaparkan strategi penguatan integrasi industri TPT sebagai langkah penyelamatan dan pembangunan berkelanjutan sektor ini. Terdapat tiga arah kebijakan utama, yakni penguatan regulasi perdagangan, peningkatan daya saing industri, dan kebijakan jangka menengah untuk kemandirian bahan baku.

Terkait dengan penguatan regulasi perdagangan, APSyFI meminta agar seluruh produk TPT (HS 50-63) wajib memiliki izin impor (PI) dari Kementerian Perdagangan berdasarkan pertimbangan teknis (Pertek) dari Kementerian Perindustrian.

Namun APSyFI menekankan agar pemberian kuota impor pada Pertek dilakukan evaluasi secara menyeluruh, guna menghindari permainan dengan para importir, dengan pelaksanaannya dilakukan secara transparan. Selain itu, pengawasan SNI, K3L, dan label Bahasa Indonesia perlu dikembalikan ke border untuk memperkuat kontrol.

"Pemerintah juga diminta menegakkan aturan Anti Dumping, Anti Subsidi, dan Safeguard, serta memberantas impor ilegal dan menolak segala bentuk relaksasi impor," tutur dia.

Lalu untuk peningkatan daya saing dan integrasi industri, pihaknya mengusulkan harga gas industri maksimal USD6 per MMBTU, agar setara dengan kompetitor seperti India. Selain itu, APSyFI mendorong insentif pajak final bagi produk pakaian jadi, serta pembiayaan hijau dan murah bagi industri yang menggunakan bahan baku lokal atau daur ulang. "Langkah ini diharapkan memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir," jelasnya.

Sementara perihal kebijakan jangka menengah, ia menekankan pentingnya kewajiban TKDN dan penerapan SNI di pasar domestik, penguatan merek lokal dan platform e-commerce nasional bagi IKM, serta percepatan transformasi hijau dan digital (industri 4.0).

"Upaya ini harus diiringi efisiensi logistik nasional, terutama di transportasi kereta dan pelabuhan, serta pengembangan industri petrokimia domestik untuk menjamin pasokan bahan baku strategis," terangnya.

Dengan strategi yang menyeluruh tersebut, APSyFI berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menata ulang kebijakan impor, memperkuat industri dari hulu ke hilir, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Pihaknya juga optimistis 85% pasar domestik akan dikuasai produk lokal, dengan kontribusi terhadap PDB naik dari 1,1% menjadi 2,6%, serta penyerapan tenaga kerja meningkat hingga 5,5% per tahun.

"Kami menargetkan pertumbuhan industri TPT sebesar 16,5% per tahun hingga 2035, dengan ekspor meningkat 9,7% per tahun dan impor ditekan hingga turun 26% dalam satu dekade," pungkas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

ESDM Gandeng P2MI, Ciptakan Pekerja Migran Energi yang TerlindungidanKompeten

ESDM Gandeng P2MI, Ciptakan Pekerja Migran Energi yang TerlindungidanKompeten

Bisnis | Kamis, 09 Oktober 2025 | 07:56 WIB

Harapan Akhir Tahun Pekerja Online, Rieke Minta Kado Spesial Perpres Perlindungan dari Prabowo

Harapan Akhir Tahun Pekerja Online, Rieke Minta Kado Spesial Perpres Perlindungan dari Prabowo

News | Rabu, 08 Oktober 2025 | 20:34 WIB

Revisi UU Ketenagakerjaan Jadi Kunci Nasib Pekerja Digital, Rieke Diah Pitaloka: Mari Kawal Bersama

Revisi UU Ketenagakerjaan Jadi Kunci Nasib Pekerja Digital, Rieke Diah Pitaloka: Mari Kawal Bersama

News | Rabu, 08 Oktober 2025 | 20:00 WIB

Terkini

Penutupan Alfamart Dikaikan dengan KDMP, Perang Ritel Mulai Terjadi?

Penutupan Alfamart Dikaikan dengan KDMP, Perang Ritel Mulai Terjadi?

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 12:08 WIB

Bank Investasi China Berikan Pinjaman Rp71,5 Triliun untuk Indonesia, Mau Buat Apa?

Bank Investasi China Berikan Pinjaman Rp71,5 Triliun untuk Indonesia, Mau Buat Apa?

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:59 WIB

BUMN Dana Pensiun Perluas Bantuan Hunian ke Pensiunan

BUMN Dana Pensiun Perluas Bantuan Hunian ke Pensiunan

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:50 WIB

Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban untuk Masyarakat pada hari raya Iduladha 2026

Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban untuk Masyarakat pada hari raya Iduladha 2026

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:46 WIB

Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp 3,96 Triliun dalam Dua Hari, BBCA Jadi Bulan-bulanan

Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp 3,96 Triliun dalam Dua Hari, BBCA Jadi Bulan-bulanan

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:39 WIB

Rupiah Anjlok ke Rp17.870 Hari Ini, Cek Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI

Rupiah Anjlok ke Rp17.870 Hari Ini, Cek Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:37 WIB

Cukai Tak Naik Jadi Angin Segar, Kinerja Industri Rokok Disebut Masih Tinggi

Cukai Tak Naik Jadi Angin Segar, Kinerja Industri Rokok Disebut Masih Tinggi

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:28 WIB

Iduladha 2026, Pertamina Trans Kontinental Jaga Operasional & Berbagi Berkah Kurban pada Masyarakat

Iduladha 2026, Pertamina Trans Kontinental Jaga Operasional & Berbagi Berkah Kurban pada Masyarakat

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:24 WIB

Harga Minyak Dunia Naik Turun, Berikut Daftar Harga BBM di Pertamina dan SPBU Swasta!

Harga Minyak Dunia Naik Turun, Berikut Daftar Harga BBM di Pertamina dan SPBU Swasta!

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:22 WIB

Menkeu Purbaya Tegaskan Kurban Pakai Uang Pribadi Bukan APBN

Menkeu Purbaya Tegaskan Kurban Pakai Uang Pribadi Bukan APBN

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:19 WIB