Imajinasi Iklim dari Pinggiran: Cerita yang Tak Terdengar di Forum-forum Megah Pemerintah

Fabiola Febrinastri, RR Ukirsari Manggalani

Selasa, 14 Oktober 2025 | 19:10 WIB
Imajinasi Iklim dari Pinggiran: Cerita yang Tak Terdengar di Forum-forum Megah Pemerintah
Staff ASRI memberikan pelayanan medis di atas perahu (Dok: ISF)

Suara.com - Indonesia Sustainability Forum (ISF) yang ketiga baru saja berlangsung pada 10-11 Oktober 2025 di Jakarta. Pemerintah Indonesia menegaskan target menjadi pusat investasi hijau di Asia Tenggara dengan adanya forum tersebut. Tahun lalu ISF dalam klaimnya menghasilkan 12 kesepakatan termasuk di antaranya kesepakatan ekspor 3,4 gigawatt energi terbarukan ke Singapura senilai USD 25-30juta. Bisa dapat dipastikan kalau tahun ini pemerintah akan menargetkan lebih banyak komitmen investasi berkelanjutan dengan mengundang perwakilan dari dunia usaha, filantropi, dan family office untuk berinvestasi di Indonesia.

Konferensi megah seperti ISF dengan berbagai narasumber nasional dan global kerap membahas keberlanjutan dengan bahasa kebijakan tingkat tinggi, inovasi teknologi , dan investasi jutaan dolar. Di sana, kata-kata seperti “investasi hijau”, “pembiayaan campuran”, dan “kolaborasi lintas sektor” akan memenuhi panggung. Nyatanya jauh dari pembahasan panggung ISF, perwakilan masyarakat sipil di berbagai daerah secara hening mengerjakan imajinasi aksi iklim dengan menggabungkan inovasi teknologi dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

Mengambil cerita dari tiga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bekasi, Yogyakarta, dan Kalimantan, kita dapat melihat bagaimana hujan, hutan, dan bahkan tinja dapat membantu mengatasi permasalahan iklim.

Inovasi Berkelanjutan dari Hujan, Hutan, dan Tinja

Di Gunung Kidul, Yogyakarta, kekeringan sudah lama dianggap takdir. Setiap musim kemarau, sumur mengering, tanaman mati, dan banyak petani memilih pergi ke kota menjadi buruh bangunan.

“Kalau tidak ada air, hidup berhenti,” ujar seorang warga mengingat masa itu.

Namun kelompok tani di Dusun Temon Kabupaten Gunung Kidu menolak menyerah. Bersama Yakkum Emergency Unit (YEU), sebuah organisasi kemanusiaan yang kini aktif dalam inisiasi adaptasi iklim, mereka membangun sistem sederhana untuk menampung hujan dan menyalurkannya kembali ke ladang melalui pipa-pipa bertekanan rendah yang diatur teknologi IoT. Mengandalkan gravitasi, panel surya, dan sensor murah yang mereka rakit sendiri, sistem ini berjalan tanpa pompa listrik.

Kini enam tandon besar berdiri di puncak bukit, menampung ribuan liter air setiap musim hujan. Dari situ, sprinkler kecil memercikkan embun buatan yang menghidupkan lahan di bawahnya. Ladang yang dulu gersang kini hijau sepanjang tahun. Panen meningkat, anak-anak muda kembali bertani. Bagi mereka, menampung hujan bukan hanya urusan teknologi, tapi juga soal martabat dan kemampuan untuk bertahan di tanah sendiri.

Dari tanah kering di selatan Jawa, kita bergeser ke jantung Kalimantan Barat, tempat hutan hujan yang dulu penuh suara burung pernah nyaris hilang.

baca juga

Sekitar tahun 2000, masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Palung banyak yang menebang pohon, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun juga untuk membiayai kesehatan. Harga berobat tinggi karena jauhnya jarak ke layanan kesehatan yang memadai. Pada 2007, Alam Sehat Lestari (ASRI) membawa ide yang tampak sederhana tapi revolusioner: siapa pun bisa berobat, dan pembayaran bisa dilakukan tidak harus dengan uang, tapi juga dengan bibit pohon. Masyarakat diberikan diskon biaya berobat yang semakin besar jika masyarakat terus menjaga hutan.

Lebih dari 1 dekade setelah program dijalankan, jumlah masyarakat yang terlibat penebangan ilegal turun signifikan. Ratusan hektar hutan kembali hijau, dan puluhan spesies yang terusir karena hilangnya hutan kini kembali ke rumahnya. ASRI menyebutnya aksi planetary health: ketika manusia dan hutan dapat pulih bersama.

“Dulu kami menebang untuk hidup,” kata seorang warga, “sekarang kami menanam untuk masa depan anak kami.”

Jika ASRI memulihkan hubungan antara manusia dan hutan, Gringgo Indonesia menantang sesuatu yang bahkan lebih tabu: tinja. Di Bekasi, mereka melihat tumpukan limbah domestik yang selama ini dianggap masalah, dan bertanya: mengapa tidak dijadikan sumber energi? Dari pertanyaan itu lahir Biocore, inovasi yang mengubah lumpur tinja menjadi briket bahan bakar bersih.

Pabrik mini mereka ditempatkan dekat instalasi pengolahan limbah agar biaya logistik rendah dan produksi bisa dikontrol secara digital. Dengan sensor IoT, mereka memantau suhu dan tekanan pembakaran, menghasilkan briket dengan emisi karbon lebih rendah daripada batu bara maupun kayu.

“Masalahnya bukan di teknologi,” ujar Febriadi Pratama salah satu pendiri Gringgo Indonesia, “tapi di cara kita memandang kotoran. Kalau cara pandang bisa diubah, nilainya ikut berubah.” Dari sesuatu yang menjijikkan lahir bahan bakar bersih; dari yang dibuang, tercipta kehidupan baru.

Imajinasi dan Investasi Hijau

Pendekatan seperti yang dilakukan YEU, ASRI, dan Gringgo – yang berangkat dari keberanian membayangkan ulang relasi manusia dan alam – sering kali tidak mendapat tempat dalam sistem pembiayaan iklim yang kaku. Investasi hijau besar masih lebih suka membangun pembangkit atau kawasan industri, bukan menanam gagasan di tingkat akar rumput. Padahal justru di sanalah daya tahan dan inovasi tumbuh di antara masyarakat yang bertemu langsung dengan krisis air, udara, dan tanah.

ISF akhir pekan ini menegaskan upaya pemerintah untuk merealisasikan potensi investasi hijau sebesar USD 200 miliar hingga 2030. Selain itu filantropi dan family office yang mulai kerap dilibatkan oleh pemerintah dalam skema pembiayaan hijau, memiliki ruang penting daripada sekedar ikut menambahkan besaran nominal pada komitmen tingkat tinggi di konferensi tersebut. Dengan karakter pembiayaan filantropi yang fleksibel, semestinya filantropis dapat memperkuat imajinasi perubahan seperti apa yang layak didanai. Filantropi dapat menyalakan percikan di tempat yang belum dijangkau pasar, membiayai risiko yang terlalu kecil untuk investasi hijau, tetapi terlalu besar untuk diabaikan.

Hujan, hutan, dan tinja – tiga hal yang kerap kita anggap sepele – telah menunjukkan bahwa imajinasi yang didukung dapat membawa perubahan pada masyarakat. Dan mungkin, banyak imajinasi sejenis dan lebih besar lahir di luar sana jauh dari panggung konferensi dan target pembiayaan investasi hijau.***

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BCA Syariah Dorong Pemberdayaan UMKM Lewat Semangat Keberagaman di Bali Mester

BCA Syariah Dorong Pemberdayaan UMKM Lewat Semangat Keberagaman di Bali Mester

Bisnis | Selasa, 14 Oktober 2025 | 12:29 WIB

PNM Tantang Anak Muda Ciptakan Ide Kreatif untuk Majukan UMKM

PNM Tantang Anak Muda Ciptakan Ide Kreatif untuk Majukan UMKM

Bisnis | Sabtu, 11 Oktober 2025 | 19:00 WIB

Kebijakan Hapus Utang UMKM di Bank Himbara Perlu Diperpanjang

Kebijakan Hapus Utang UMKM di Bank Himbara Perlu Diperpanjang

Bisnis | Sabtu, 11 Oktober 2025 | 14:08 WIB

Shopee Jagoan UMKM Naik Kelas Ditonton Hingga 25 Juta Kali, Banyak yang Penasaran!

Shopee Jagoan UMKM Naik Kelas Ditonton Hingga 25 Juta Kali, Banyak yang Penasaran!

News | Sabtu, 11 Oktober 2025 | 08:20 WIB

Raup Rp 288 Juta, UMKM Disabilitas Sukabumi Tembus Pasar Brunei dengan Keripik Singkong

Raup Rp 288 Juta, UMKM Disabilitas Sukabumi Tembus Pasar Brunei dengan Keripik Singkong

Bisnis | Jum'at, 10 Oktober 2025 | 13:08 WIB

BRI Dorong UMKM Kuliner Padang Perkuat Branding dan Tembus Pasar Global Lewat Program Pengusaha Muda

BRI Dorong UMKM Kuliner Padang Perkuat Branding dan Tembus Pasar Global Lewat Program Pengusaha Muda

Bisnis | Minggu, 05 Oktober 2025 | 18:09 WIB

Terkini

Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini di Tengah Aksi Jual Asing

Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini di Tengah Aksi Jual Asing

Bisnis | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 08:42 WIB

Arah Meja Kerja Pembawa Rezeki Berdasarkan Shio, Cek Panduan dan Tips Menatanya

Arah Meja Kerja Pembawa Rezeki Berdasarkan Shio, Cek Panduan dan Tips Menatanya

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 08:35 WIB

Pemprov DKI Kaji TransJakarta Laut, DPRD: Jangan Cuma Jadi Etalase

Pemprov DKI Kaji TransJakarta Laut, DPRD: Jangan Cuma Jadi Etalase

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 08:29 WIB

KPK Periksa Ketua DPRD Kuansing dan 2 Pejabat Pemkab Terkait Suhardiman Amby

KPK Periksa Ketua DPRD Kuansing dan 2 Pejabat Pemkab Terkait Suhardiman Amby

Riau | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Buntut Sel Mewah! Bebas Bersyarat Dicabut, Indra Kenz Kembali Ditahan di Lapas Tangerang

Buntut Sel Mewah! Bebas Bersyarat Dicabut, Indra Kenz Kembali Ditahan di Lapas Tangerang

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Jelang Balapan, Para Pembalap MotoGP Cek Lintasan Mandalika

Jelang Balapan, Para Pembalap MotoGP Cek Lintasan Mandalika

Foto | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Menperin Minta Penerapan SNI Dievaluasi, Biar Tak Jadi Beban Industri Ekspor

Menperin Minta Penerapan SNI Dievaluasi, Biar Tak Jadi Beban Industri Ekspor

Bisnis | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 07:59 WIB

Selama Ini Petani Cuma Kebagian Ampas, Gubernur Lampung Rombak Rantai Pasok Kakao Rp150 T

Selama Ini Petani Cuma Kebagian Ampas, Gubernur Lampung Rombak Rantai Pasok Kakao Rp150 T

Lampung | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 07:50 WIB

Merck Perkuat Bisnis Obat Resep di Tengah Berakhirnya Kontrak dengan P&G

Merck Perkuat Bisnis Obat Resep di Tengah Berakhirnya Kontrak dengan P&G

Bisnis | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 07:46 WIB

388 Warga Terdampak! Kebakaran di Kramat Pulo Senen Hanguskan 83 Rumah Tinggal

388 Warga Terdampak! Kebakaran di Kramat Pulo Senen Hanguskan 83 Rumah Tinggal

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 07:45 WIB

×