CORE: Ekonomi Indonesia 2026 Resilien, Tapi Akselerasi Tertahan

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 26 November 2025 | 14:53 WIB
CORE: Ekonomi Indonesia 2026 Resilien, Tapi Akselerasi Tertahan
Diskusi Core Economic Outlook 2026. Foto Fadil-Suara.com
baca 10 detik
  • Ketidakpastian global menekan ekspor Indonesia sejak tarif Trump diberlakukan,” ujar Faisal.

  • Faisal menilai investor wait and see akibat tarif dan gejolak geopolitik 2025.

  • Menurut Faisal, bauran kebijakan fiskal–moneter jadi penopang utama ekonomi 2025–2026.

Suara.com - Dalam setahun terakhir, perekonomian Indonesia berada dalam pusaran ketidakpastian global. Sumber turbulensi terbesar datang dari kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mulai mengguncang sejak 2 April 2025.

Indonesia memang berhasil menekan tarif produk ekspornya ke pasar AS dari 32% menjadi 19% setelah negosiasi panjang. Namun sejumlah negara lain seperti Vietnam dan Taiwan mampu mengamankan targeted negotiation sehingga mendapatkan tarif istimewa 0% untuk produk unggulan mereka. Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang kompetitif di pasar Amerika.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai kebijakan perdagangan AS telah membentuk persepsi negatif di mata investor global.

“Tarif resiprokal ini menyasar produk-produk unggulan Indonesia seperti pakaian dan mesin/peralatan listrik. Dampaknya besar karena investor kini cenderung wait and see untuk ekspansi,” ujarnya dalam CORE Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Selain gejolak tarif, turbulensi geopolitik sepanjang 2025 turut menekan kepercayaan investor terhadap pasar domestik Indonesia. Harga komoditas pun menjadi lebih bergejolak.

CORE mencatat, bauran kebijakan investasi nasional belum selaras dengan harapan pelaku usaha. Alhasil, arus investasi asing langsung (FDI) tahun ini diperkirakan menurun. Perubahan arah kebijakan fiskal pada paruh kedua 2025 untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) juga belum efektif menyentuh sektor riil.

“Kebijakan fiskal dan moneter sebenarnya mulai ekspansif di paruh kedua 2025. Ini akan menjadi bantalan utama perekonomian tahun ini,” kata Faisal.

CORE memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 5,0%–5,1%.

Pada 2026, CORE memperkirakan ekonomi Indonesia tetap cukup resilien, meski mesin pertumbuhan dinilai masih tertahan. Dengan dorongan bauran kebijakan fiskal, moneter, serta proyek investasi pemerintah, proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun depan berada pada kisaran 4,9%–5,1%.

baca juga

Lebarnya rentang proyeksi tersebut mencerminkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tahun depan akan sangat ditentukan oleh ketepatan orkestrasi kebijakan pemerintah. Stimulus konsumsi dan investasi menjadi faktor kunci.

Secara global, tahun 2026 diperkirakan menjadi periode yang lebih berat. Tarif resiprokal AS yang efektif sejak 7 Agustus 2025 akan berlaku penuh sepanjang 2026. Ini membuat transaksi barang ke pasar AS semakin mahal, memukul rantai pasok global, khususnya eksportir dari Tiongkok, ASEAN, dan Amerika Latin.

IMF dalam laporan Oktober memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,2% pada 2025, lebih tinggi dari proyeksi Juli (3,0%) karena adanya aktivitas front-loading sebelum tarif diumumkan. Namun pada 2026, pertumbuhan global diprediksi melemah menjadi 3,1% seiring ketiadaan front-loading dan implementasi tarif penuh.

Polanya berbeda antarnegara. UE dan India mencatat lonjakan ekspor hanya pada Maret. Indonesia mengikuti pola serupa, namun dengan puncak tambahan pada Juli—satu bulan sebelum tarif resmi berlaku. Taiwan dan Vietnam justru mencatat ekspor yang terus naik hingga September.

Perbedaan tersebut menandakan dampak yang sangat dinamis dari kebijakan tarif AS. Di tengah tekanan inflasi domestik, AS bahkan mulai mengendurkan tekanannya kepada sejumlah mitra dagang.

Di dalam negeri, perubahan kebijakan pemerintah sejak awal tahun turut mempengaruhi konsumsi rumah tangga, investasi, dan fiskal negara. Realokasi anggaran pada awal 2025 menekan aktivitas sektor riil pada kuartal I. Namun kebijakan stimulus yang digulirkan setelahnya membantu menopang konsumsi rumah tangga.

Faisal menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah pada 2026 menjadi faktor penentu. “Yang krusial adalah bagaimana pemerintah mampu menyinergikan kebijakan fiskal, moneter, dan investasi agar pertumbuhan dapat kembali mengakselerasi,” ujarnya.

Dengan seluruh dinamika tersebut, arah perekonomian Indonesia di 2026 akan sangat ditentukan oleh strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas serta mendorong aktivitas konsumsi dan investasi di sektor riil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dua Program Flagship Prabowo Bayangi Keseimbangan APBN 2026 dan Stabilitas Fiskal

Dua Program Flagship Prabowo Bayangi Keseimbangan APBN 2026 dan Stabilitas Fiskal

Bisnis | Rabu, 26 November 2025 | 11:42 WIB

Menggunakan Sistem Perdagangan Otomatis dengan Filter Risiko Cerdas untuk Berdagang Lebih Aman

Menggunakan Sistem Perdagangan Otomatis dengan Filter Risiko Cerdas untuk Berdagang Lebih Aman

Bisnis | Selasa, 25 November 2025 | 18:41 WIB

Perusahaan Pembiayaan Ini Klaim Sudah Gelontorkan Rp1,62 T ke Sektor Ekonomi Hijau

Perusahaan Pembiayaan Ini Klaim Sudah Gelontorkan Rp1,62 T ke Sektor Ekonomi Hijau

Bisnis | Selasa, 25 November 2025 | 13:44 WIB

Terkini

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

News | Jum'at, 04 September 2026 | 00:32 WIB

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 00:24 WIB

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 23:14 WIB

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

Bola | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Video | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Sumut | Kamis, 03 September 2026 | 22:58 WIB

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 22:52 WIB

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Jatim | Kamis, 03 September 2026 | 22:49 WIB

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Jabar | Kamis, 03 September 2026 | 22:42 WIB

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Bogor | Kamis, 03 September 2026 | 22:38 WIB

×