Dua Program Flagship Prabowo Bayangi Keseimbangan APBN 2026 dan Stabilitas Fiskal

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 26 November 2025 | 11:42 WIB
Dua Program Flagship Prabowo Bayangi Keseimbangan APBN 2026 dan Stabilitas Fiskal
CORE Economic Outlook 2026. Foto Fadil-Suara.com
baca 10 detik
  • APBN 2026 bergeser ke program baru, MBG dan Kopdes melonjak drastis.

  • Belanja barang naik tajam, belanja modal turun sehingga investasi publik melemah.

  • Target pajak ambisius dan beban bunga utang makin mempersempit ruang fiskal.

Suara.com - APBN 2026 menunjukkan perubahan besar dalam komposisi belanja pemerintah, terutama melalui ekspansi anggaran pada dua program flagship Presiden Prabowo Subianto yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Program Koperasi Desa (Kopdes).

Anggaran MBG melonjak hingga Rp337 triliun atau naik 372%, sementara Kopdes meningkat 419% menjadi Rp83 triliun.

Menurut Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia Akhmad Akbar Susamto, lonjakan ini menandakan pergeseran fokus pemerintah.

“Pergeseran alokasi yang sangat masif ini menunjukkan orientasi baru belanja pemerintah pusat ke program-program berskala besar yang sifatnya sangat tersentralisasi. Namun implementasinya menghadapi tantangan besar, terutama kesiapan daerah dan rantai pasokan,” ujarnya dalam acara CORE Economic Outlook di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Akbar menyoroti dominasi anggaran MBG dalam pos pendidikan yang mencapai sekitar 44%, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan prioritas sektor tersebut.

“Di saat kebutuhan dasar sektor pendidikan seperti kualitas guru dan fasilitas sekolah masih mendesak, porsi MBG yang sangat besar perlu dipertimbangkan kembali dari perspektif efektivitas,” kata Akbar.

Efek implementasi MBG turut mendorong belanja barang naik 47,5% dan belanja pegawai tumbuh 11,6%. Keduanya berpotensi mengerek konsumsi ASN dan memperbesar porsi belanja operasional. Sebaliknya, belanja modal turun 20,4%, mengindikasikan peralihan belanja dari investasi jangka panjang menuju program jangka pendek.

Akbar menilai penurunan belanja modal berpotensi menekan momentum pemulihan dan produktivitas ekonomi. “Belanja modal memiliki multiplier tertinggi. Penurunannya, ditambah rendahnya realisasi belanja modal daerah yang baru 38% hingga November 2025, membuat kapasitas pemerintah menopang investasi publik semakin terbatas,” jelasnya.

Penurunan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 19,8% mempertegas perubahan struktur fiskal antara pusat dan daerah. Ruang belanja daerah menyempit, sementara program-program pusat semakin dominan.

baca juga

“Kita melihat pola baru: belanja pusat diperluas melalui program tersentralisasi, tapi fleksibilitas fiskal daerah justru semakin menyempit. Ini menjurus pada resentralisasi prioritas fiskal tanpa transfer dana yang memadai,” ungkap Akbar.

Mekanisme substitusi berupa pinjaman daerah yang difasilitasi PP 38/2025 juga tidak efektif karena hanya tiga provinsi memanfaatkannya dalam dua tahun terakhir.

Pemerintah menyediakan Rp4,06 triliun insentif perpajakan dan iuran, namun efektivitasnya diperkirakan terbatas. Keringanan PPh 21 tidak sepenuhnya diteruskan ke pekerja, program magang berbayar minim dampak lanjutan, dan padat karya terkonsentrasi pada sektor konstruksi.

Target penerimaan negara 2026 dipatok Rp3.153 triliun, naik 10% dari proyeksi realisasi 2025. Target penerimaan pajak mencapai Rp2.357 triliun. Namun hingga September 2025, pertumbuhan pajak riil masih terkontraksi –4%.

Menurut Akbar dengan basis penerimaan yang melemah, pelemahan harga komoditas, dan tekanan eksternal dari perang dagang serta tarif resiprokal AS, mengejar pertumbuhan penerimaan dua digit akan sangat berat. "Risiko shortfall sangat nyata.” katanya.

Gangguan transisi administrasi melalui CORETax dan integrasi single data user juga dapat menekan efektivitas ekstensifikasi dan intensifikasi pajak.

Pembayaran bunga utang diproyeksikan mencapai Rp599 triliun pada 2026, naik 8,6%. Dengan rasio penerimaan terhadap PDB hanya sekitar 10–11%, kenaikan beban bunga mempersempit ruang belanja produktif.

Yield SBN yang meningkat dan depresiasi rupiah sepanjang 2025 juga mendorong naiknya biaya penerbitan dan refinancing.

“Dalam kondisi pasar global yang volatil, kredibilitas konsolidasi fiskal menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor. Risiko pembiayaan bisa meningkat tajam jika target penerimaan meleset,” kata Akbar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kejagung Periksa Eks Dirjen Pajak Suryo Utomo dalam Kasus Dugaan Manipulasi Pajak 20162020

Kejagung Periksa Eks Dirjen Pajak Suryo Utomo dalam Kasus Dugaan Manipulasi Pajak 20162020

News | Rabu, 26 November 2025 | 10:11 WIB

Wajib Bekerjasama! Mitra dan Ka-SPPG Kunci Sukses Program MBG

Wajib Bekerjasama! Mitra dan Ka-SPPG Kunci Sukses Program MBG

News | Selasa, 25 November 2025 | 16:20 WIB

Kasus Pajak Seret Eks Dirjen dan Bos Djarum, Kejagung Sita Sejumlah Kendaraan hingga Dokumen

Kasus Pajak Seret Eks Dirjen dan Bos Djarum, Kejagung Sita Sejumlah Kendaraan hingga Dokumen

News | Selasa, 25 November 2025 | 16:15 WIB

Terkini

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

News | Jum'at, 04 September 2026 | 00:32 WIB

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 00:24 WIB

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 23:14 WIB

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

Bola | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Video | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Sumut | Kamis, 03 September 2026 | 22:58 WIB

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 22:52 WIB

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Jatim | Kamis, 03 September 2026 | 22:49 WIB

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Jabar | Kamis, 03 September 2026 | 22:42 WIB

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Bogor | Kamis, 03 September 2026 | 22:38 WIB

×