- IHSG pada Selasa, 27 Januari 2026, awal perdagangan mengalami kemerosotan signifikan hingga mencapai level 8.888 pada pukul 09.11 WIB.
- Pada waktu tersebut, terjadi dominasi saham penurunan (407) dibandingkan kenaikan (179), dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,23 triliun.
- Proyeksi IHSG diprediksi bergerak terbatas atau *sideways* karena menunggu keputusan suku bunga The Fed dan rebalancing MSCI.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), merosot pada awal perdagangan, Selasa, 27 Januari 2026. IHSG meloyo ke level 8.974.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.11 WIB, IHSG terus anjlok 0,97 persen ke level 8.888.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 5,60 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 3,23 triliun, serta frekuensi sebanyak 416.100 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 179 saham bergerak naik, sedangkan 407 saham mengalami penurunan, dan 372 saham tidak mengalami pergerakan.
![Pengunjung melintas dibawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (18/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/18/69769-ihsg-ihsg-anjlok-bursa-efek-indeks-harga-saham-ilustrasi-bursa-ilustrasi-ihsg.jpg)
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, ALKA, LMPI, SMAR, MPIX, CTTH, AKSI, JAST, INAI, BOGA, SCCO, STAR.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, RMKO, AMAN, INTD, LPCK, KPIG, CASH, AIMS, PACK, ESTI, MEJA, ELSA.
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan hari ini, seiring sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), serta rencana rebalancing MSCI awal Februari 2026.
Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, sentimen global cenderung positif setelah bursa Wall Street ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: BEI Gembok Dua Saham dan Buka Lagi Emiten Ini, Siapa Saja?
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,64 persen ke level 49.412,40, S&P 500 menguat 0,50 persen ke posisi 6.950,23, dan Nasdaq bertambah 0,43 persen ke level 23.601,36.
Sementara itu, IHSG pada penutupan perdagangan terakhir menguat tipis 0,27% ke level 8.975. Meski demikian, penguatan tersebut masih dibayangi aksi jual investor asing dengan catatan net foreign sell mencapai Rp 1,01 triliun.
Pergerakan indeks terpantau cenderung terbatas dan tertekan, seiring pelemahan saham-saham konglomerasi menjelang pengumuman rebalancing MSCI dengan metodologi terbaru.
Tekanan eksternal juga datang dari ketidakpastian geopolitik global serta kehati-hatian investor menantikan arah kebijakan moneter The Fed pekan ini.
Di tengah kondisi tersebut, penguatan IHSG ditopang oleh kinerja saham-saham komoditas, khususnya sektor emas. Lonjakan harga emas dunia yang menembus level USD 5.000 per troy ounce menjadi katalis positif bagi saham-saham berbasis logam mulia.
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak sideways dengan area support di level 8.922 dan resistance di kisaran 9.035. Dalam kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global, sektor komoditas—terutama emas—dinilai tetap menjadi pilihan defensif utama bagi investor.
Adapun saham-saham yang direkomendasikan untuk dicermati pada perdagangan hari ini antara lain ADRO, AKRA, dan MDKA.