- Harga emas spot terkoreksi 0,3% menjadi US$ 4.924,89 per ons akibat penguatan dolar AS dan aksi ambil untung investor.
- Pasar mencermati dinamika politik, termasuk dialog AS-Iran dan hubungan AS-China, serta data ketenagakerjaan yang tertunda.
- Prospek jangka panjang emas tetap cerah seiring proyeksi pemangkasan suku bunga dan target Goldman Sachs US$ 5.400.
Suara.com - Setelah sempat menikmati reli tajam, harga emas dunia terpantau berbalik arah ke zona merah. Pelemahan ini dipicu oleh kembalinya keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan langkah para investor yang mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Berdasarkan data Reuters, harga emas di pasar spot terkoreksi 0,3% menjadi US$ 4.924,89 per ons. Padahal, pada sesi yang sama, harga sempat meroket hingga 3,1%.
Kontras dengan pasar spot, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April masih mampu bertahan dengan kenaikan tipis 0,3% di level US$ 4.950,80 per ons.
Penguatan indeks dolar ke level tertinggi dalam sepekan terakhir menjadi penghalang utama bagi laju emas. Karena emas dihargai dalam dolar, apresiasi mata uang Paman Sam membuat logam mulia ini terasa lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan permintaan.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menjelaskan bahwa saat ini pasar emas sedang memasuki fase konsolidasi.
"Bangkitnya dolar memberikan tekanan nyata pada emas setelah aset ini mencapai rekor tertingginya," ungkapnya.
Sebagai catatan, emas sempat mencapai puncak sejarah di level US$ 5.594,82 per ons pada akhir Januari lalu sebelum akhirnya mengalami koreksi tajam.
Fokus pasar saat ini tidak hanya tertuju pada angka ekonomi, tetapi juga pada dinamika politik luar negeri yang melibatkan Presiden Donald Trump. Terdapat dua agenda besar yang dicermati investor:
Rencana Dialog AS-Iran: Pertemuan yang dijadwalkan pada hari Jumat ini diharapkan memberikan kepastian terkait stabilitas di Timur Tengah.
Baca Juga: WNI Bisa Tenang, Harga Emas Lokal Stabil saat Emas Dunia Terkoreksi Parah
Hubungan AS-China: Presiden Trump telah melakukan komunikasi intensif dengan Presiden Xi Jinping sebagai persiapan kunjungan ke China pada April mendatang. Diplomasi ini terjadi di tengah konsolidasi antara China dan Rusia.
Ketidakpastian ekonomi AS turut membayangi pergerakan harga. Laporan tenaga kerja versi ADP menunjukkan pertumbuhan sektor swasta Januari hanya di angka 22.000, jauh di bawah prediksi pasar sebesar 48.000.
Kondisi ini diperumit dengan tertundanya rilis laporan resmi dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) hingga 11 Februari akibat dampak government shutdown yang baru saja berakhir.
Namun, di balik fluktuasi jangka pendek, prospek emas jangka panjang dinilai tetap cerah. Berikut beberapa poin optimisme pasar:
Pemangkasan Suku Bunga: Investor memproyeksikan setidaknya dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026. Suku bunga rendah biasanya membuat emas lebih menarik karena biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tanpa bunga menjadi lebih kecil.
Target Goldman Sachs: Bank investasi raksasa Goldman Sachs tetap mempertahankan target harga emas di level US$ 5.400 per ons hingga Desember 2026.
Harga Perak, Platinum dan Palladium
Berbeda dengan emas yang tertekan, beberapa logam mulia lainnya justru mencatatkan performa positif pada perdagangan yang sama:
Perak: Menguat 1,3% ke level US$ 86,08 per ons.
Platinum: Naik 0,6% ke level US$ 2.221,76 per ons.
Palladium: Melonjak 1,3% ke harga US$ 1.756,18 per ons.
Di pasar domestik, harga emas Antam justru mencatatkan lonjakan signifikan sebesar Rp27.000, membuat harganya bertengger di angka Rp2.973.000 per gram pada Rabu malam.