- KSOP Tanjung Wangi mewaspadai cuaca ekstrem di Selat Bali antara bulan Mei hingga Agustus mengancam keselamatan pelayaran.
- Meski penyeberangan Ketapang-Gilimanuk pendek, Widodo menegaskan risiko kecelakaan laut tinggi akibat gelombang dan angin ekstrem.
- KSOP menerapkan sistem buka-tutup pelayaran secara rutin sebagai mitigasi risiko, memprioritaskan penutupan daripada operasi berbahaya.
Suara.com - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Wangi, mengingatkan risiko cuaca ekstrem yang kerap terjadi di Selat Bali, khususnya pada periode Mei hingga Agustus.
Kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi keselamatan pelayaran, meski jarak penyeberangan Ketapang – Gilimanuk tergolong pendek.
Kepala Seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Widodo, mengatakan Selat Bali memiliki karakter cuaca yang tidak bisa diremehkan.
Dalam catatan KSOP, sejumlah kecelakaan laut di lintasan tersebut kerap terjadi pada bulan-bulan dengan cuaca ekstrem.
“Kejadian-kejadian yang sudah ada yang telah terjadi dari yang saya sebutkan tahun-tahun itu disarankan kalau enggak bulan Juni, Juli, Agustus, itu yang sering terjadi di Selat Bali,” kata Widodo di Banyuwangi, Senin (10/2/2026).
Ia menjelaskan, meski jarak penyeberangan Ketapang – Gilimanuk hanya sekitar tiga mil laut, tingkat risiko pelayaran tetap tinggi ketika cuaca memburuk.
![Pelabuhan Gilimanuk [asdp.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/06/18537-gilimanuk.jpg)
Kondisi gelombang dan angin ekstrem dapat berdampak langsung terhadap keselamatan kapal dan penumpang.
“Benar bahwa Selat Bali ini hanya 3 mil. Tapi risikonya sangat luar biasa,” ujarnya.
Widodo menambahkan, tingginya frekuensi kapal yang beroperasi di lintasan tersebut turut meningkatkan potensi risiko. Pada periode padat, terutama menjelang Lebaran, aktivitas pelayaran di Selat Bali berlangsung nyaris tanpa jeda.
Baca Juga: Antisipasi Mudik Lebaran 2026, KSOP Tanjung Wangi Siagakan 55 Kapal di Selat Bali
“Semakin banyak kapal yang perlu operasi, berarti risikonya semakin besar, semakin tinggi,” ucapnya.
Untuk memitigasi risiko cuaca ekstrem, KSOP bersama pemangku kepentingan di pelabuhan menerapkan sistem buka-tutup pelayaran apabila kondisi cuaca tidak mendukung.
Kebijakan tersebut, menurut Widodo, telah menjadi prosedur rutin yang diterapkan selama puluhan tahun.
“Apabila cuaca tidak mendukung sistem buka-tutup, walaupun seandainya 1 jam 2 jam tidak bersama, apabila cuaca tidak mau, kita tutup,” kata Widodo.
Ia menegaskan, penutupan sementara pelabuhan lebih dipilih dibanding memaksakan operasi kapal dalam kondisi berbahaya. Langkah tersebut diambil untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut yang berpotensi menimbulkan korban.
“Apapun yang terjadi, lebih baik ditutup daripada ada masalah, ada korban, ada kejadian yang tidak diharapkan,” pungkasnya.