- Pasar saham Indonesia berjuang pulih sejak akhir Januari 2026 akibat sentimen negatif lembaga pemeringkat internasional.
- Investor ritel mengalami kerugian besar, bahkan ada yang mencatat minus portofolio hingga 50 persen akibat aksi jual.
- Analis menyarankan investor fokus memilih saham undervalue serta melakukan diversifikasi portofolio untuk manajemen risiko.
Suara.com - Pasar saham Indonesia tengah berjuang bangkit setelah diterpa sentimen negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional sejak akhir Januari 2026.
Memang sih, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda rebound. Namun, levelnya belum kembali seperti awal Januari yang sempat menembus angka 9.000.
Koreksi tajam sebelumnya sempat memicu kepanikan di kalangan investor. Aksi jual pun tak terelakkan. Bahkan saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid yang tergabung dalam indeks LQ45 ikut tumbang.
Mengutip Stream Stockbit, banyak investor ritel mencurahkan pengalaman pahitnya karena terpaksa menjual saham dalam kondisi rugi atau cut loss. Kerugiannya pun tidak main-main, bukan hanya 1–2 persen, tetapi ada yang mencatatkan portofolio minus hingga 50 persen.
Situasi semakin pelik setelah lembaga pemeringkat lain turut memberikan outlook negatif terhadap perekonomian Indonesia. Sentimen tersebut mendorong investor asing menarik dananya dari pasar domestik.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), setelah MSCI menunda penilaiannya, aliran modal asing tercatat keluar sebesar Rp12,40 triliun pada minggu kelima Januari 2026.
Jangan Panik
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, investor ritel diimbau untuk tidak panik. Kesabaran menjadi kunci sembari menunggu peluang rebound.
Sejumlah analis pun membagikan strategi agar investor tetap bisa bertahan di tengah gejolak pasar.
Baca Juga: IHSG Merana Imbas Ambil Cuan Para Investor di Jumat Pagi, 372 Saham Merah
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyarankan investor tetap fokus dan jeli dalam memilih saham yang berpotensi menguat.
Ia mengungkapkan, investor bisa memprioritaskan saham yang berpeluang rebound cepat. Selain itu, investor juga dapat mencermati saham-saham yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya (undervalue).
"Jadi, fokus pada saham-saham yang undervalue. Ketiga, jangan lupa lakukan manajemen risiko," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Diversifikasi Portofolio
Tak hanya itu, Nafan juga menyarankan diversifikasi ke instrumen yang relatif lebih tahan terhadap koreksi pasar, seperti emas.
"Selanjutnya, juga bisa melakukan diversifikasi seperti reksa dana," bebernya.
Sementara itu, Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai koreksi pasar saat ini seharusnya menjadi momentum untuk memfilter risiko, bukan alasan untuk membeli saham secara serampangan.
"Hindari saham dengan konsentrasi kepemilikan kurang dari 80 persen oleh segelintir pihak. Fokus pada saham dengan distribusi kepemilikan publik yang lebih merata," tegasnya.
Dengan kondisi yang masih fluktuatif, investor diharapkan tetap tenang dan memiliki strategi yang matang. Meski peluang cuan selalu ada, keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor.