- Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mendorong BUMN bertransformasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
- Penerapan AI diperkirakan mampu memangkas biaya operasional BUMN besar seperti Pertamina dan PLN 20 hingga 30 persen.
- Keberhasilan transformasi ini bergantung pada komitmen bersama dan upaya meminimalkan konflik kepentingan dalam kebijakan.
Suara.com - Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mendorong transformasi badan usaha milik negara (BUMN) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia meyakini penerapan teknologi tersebut mampu memangkas biaya operasional perusahaan pelat merah hingga 20 sampai 30 persen.
Luhut mengatakan, pengembangan government technology atau GovTech yang kini tengah berjalan secara bertahap di berbagai daerah. Menurutnya, digitalisasi tidak hanya berhenti di birokrasi, tetapi harus merambah korporasi negara.
“Nanti pikiran saya, kita coba bikin, kita exercise. Bukan omong-omong aja, kita bikin semacam apa, start up. Saya coba berapa perusahaan, they can save like 20 percent to 30 percent efficiency,” kata Luhut dalam acara peluncuran website DEN di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Ia menilai angka efisiensi tersebut sangat besar jika diterapkan pada BUMN skala raksasa. Apalagi perusahaan seperti Pertamina dan PLN memiliki beban operasional dan belanja yang tinggi setiap tahunnya.
“Jadi Anda bayangkan nanti BUMN kita, Pertamina, PLN, semua berbasis AI, itu saya pikir efisiensinya akan 20 persen, let’s say 20 (persen), let’s say 10 persen, 15 persen. Jadi itu angka ini angka sangat besar,” ujarnya.

Luhut menjelaskan, penerapan AI memungkinkan perusahaan mengambil keputusan berbasis data yang lebih presisi.
Proses pengadaan, manajemen aset, hingga perencanaan bisnis dapat dipantau secara real time sehingga potensi kebocoran dan pemborosan bisa ditekan.
Ia menekankan, transformasi ini bukan sekadar konsep. Tim teknis yang mengerjakan GovTech disebut sudah berpengalaman membangun berbagai sistem digital sebelumnya.
Baca Juga: Garuda Indonesia Pimpin Holding BUMN Maskapai Penerbangan
“Kalau apa yang sekarang sedang saya kerjakan dengan government technology di mana saya jadi Chair-nya, saya lihat enggak ada masalah itu. Ya bukan maksudnya tidak ada masalah, ada masalah yang kita mampu identify dan kita akan mampu menyelesaikan,” ucapnya.
Meski begitu, ia mengingatkan keberhasilan digitalisasi sangat bergantung pada komitmen bersama dan integritas para pemimpin. Tanpa itu, efisiensi yang ditargetkan sulit tercapai.
“Tapi itu semua tergantung kita. Kalau kita sepakat,” kata Luhut.
Ia juga menyoroti pentingnya meminimalkan konflik kepentingan dalam setiap kebijakan transformasi. Menurutnya, persoalan conflict of interest harus ditekan seminimal mungkin agar sistem berbasis AI berjalan objektif dan transparan.
“Once kita conflict of interest itu kita bisa seminimal mungkin, saya ndak bilang 100 persen, kau di surga aja nanti 100 persen, sepanjang kau di bumi pasti saja ada, ya sudahlah, pasti jalan,” pungkasnya.