- SKK Migas dan Conrad Asia Energy memulai implementasi Final Investment Decision Lapangan Gas Mako di Perairan Kepulauan Riau.
- Implementasi FID ditandai di Jakarta pada Senin (2/3) dan melibatkan WNEL, Arsari Group, serta PLN EPI sebagai pembeli gas.
- Proyek Lapangan Gas Mako ditargetkan mencapai produksi awal (First Gas) pada Kuartal IV tahun 2027 untuk energi nasional.
Suara.com - Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) kembali menunjukkan geliat positif. SKK Migas bersama Conrad Asia Energy resmi memulai tahap implementasi Final Investment Decision (FID) untuk Pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja Duyung, lepas pantai Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.
Dimulainya fase pasca-FID ini menjadi sinyal kuat bahwa proyek telah matang secara teknis dan finansial, sekaligus menandai komitmen investasi jangka panjang di tengah tantangan global sektor energi.
Acara penandaan dimulainya implementasi FID digelar di Kantor SKK Migas, Jakarta, Senin (2/3), dan dihadiri Kepala SKK Migas Djoko Siswanto serta pengusaha Hashim S Djojohadikusumo. Turut hadir perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Bank Negara Indonesia (BNI), serta jajaran manajemen SKK Migas.

Lapangan Gas Mako dioperasikan oleh West Natuna Exploration Limited (WNEL) dan dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, WNEL sebagai operator, serta PT Nations Natuna Barat yang berada di bawah Arsari Group dan akan menjadi pemegang mayoritas hak partisipasi di Blok Duyung.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan dimulainya tahap implementasi FID merupakan langkah strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan energi nasional.
"Keputusan investasi ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan KKKS untuk mempercepat pengembangan lapangan gas potensial. Lapangan Gas Mako diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi gas nasional serta mendukung kebutuhan energi dalam negeri," ujarnya seperti dikutip Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan, SKK Migas akan terus mengawal pelaksanaan proyek agar berjalan sesuai rencana, tepat waktu, tepat biaya, serta mengedepankan aspek keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap regulasi.
Sebagai bagian dari kepastian komersialisasi, WNEL telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (Gas Sales Agreement/GSA) dengan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sebagai offtaker.
Kesepakatan ini menjadi fondasi penting dalam memastikan penyerapan produksi gas Lapangan Mako untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional.
Baca Juga: Tionghoa Indonesia Diminta Perkuat Identitas Nasional di Tengah Arus Investasi Asing
Chairman Conrad Asia Energy, Peter Botten, menyampaikan bahwa FID proyek Gas Mako dapat terwujud berkat kolaborasi antara para KKKS Wilayah Kerja Duyung, SKK Migas dan instansi pemerintah terkait, PLN EPI sebagai offtaker, serta mitra nasional yang turut memperkuat struktur proyek.
Sementara itu, CEO Arsari Group, Hashim S Djojohadikusumo menyatakan komitmen pihaknya dalam mendukung pengembangan proyek strategis tersebut.
"Dengan pengalaman panjang dan teruji sektor migas serta dukungan pembiayaan yang solid, kami optimistis proyek ini dapat dijalankan secara profesional, tepat waktu, dan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara serta penguatan ketahanan energi Indonesia," ujar Hashim.
Proyek Mako akan memasuki rangkaian fase utama mulai dari engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, instalasi offshore, hingga commissioning dan start-up. Lapangan Gas Mako ditargetkan mencapai First Gas pada kuartal IV 2027.