Tionghoa Indonesia Diminta Perkuat Identitas Nasional di Tengah Arus Investasi Asing

Mohammad Fadil Djailani

Senin, 02 Maret 2026 | 08:27 WIB
Tionghoa Indonesia Diminta Perkuat Identitas Nasional di Tengah Arus Investasi Asing
Umat Konghucu beribadah malam perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Wihara Boen San Bio, Kota Tangerang, Banten, Senin (16/2/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Tionghoa Indonesia wajib utamakan identitas nasional di tengah arus budaya asing.
  • Identitas Tionghoa RI adalah pilihan politik dan budaya yang khas Indonesia.
  • Generasi muda diminta tidak menjiplak budaya luar demi menjaga jati diri bangsa.

Suara.com - Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi kekuatan ekonomi baru dari daratan Tiongkok, masyarakat Tionghoa di Indonesia diingatkan untuk tetap teguh memegang identitas keindonesiaan. Bukan sekadar soal budaya, pilihan ini merupakan komitmen politik yang krusial dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi menyambut Imlek bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” yang digelar secara kolaboratif oleh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), dan Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta.

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto, menekankan bahwa Tionghoa Indonesia memiliki keunikan yang tidak bisa disamakan dengan masyarakat di daratan Tiongkok maupun negara Asia Tenggara lainnya.

"Tionghoa di luar Tiongkok memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tionghoa Indonesia perlu memosisikan diri sebagai Indonesia dalam hubungan dengan pihak luar," ujar Johanes mengutip pakar Singapura, Prof. Wang Gungwu.

Senada dengan itu, perwakilan IPTI, Septeven Huang, memberikan pesan menohok bagi generasi muda. Ia meminta agar kaum muda Tionghoa tidak terjebak dalam krisis identitas dengan menjiplak mentah-mentah budaya asing, baik itu Barat, Korea, maupun Tiongkok daratan.

"Jangan larut dalam krisis identitas. Hindari menjiplak langsung kebudayaan Tiongkok tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang berbingkai keindonesiaan. Kami Tionghoa, dan kami Indonesia," tegas alumni Hukum UI tersebut.

Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Thung Julan, menyoroti bahwa identitas nasional adalah sebuah keputusan politik. Di tengah kompleksitas sejarah—mulai dari kelompok peranakan yang berbaur sejak zaman Banten hingga kelompok "totok"—pilihan untuk menjadi Indonesia adalah harga mati.

"Dalam hubungan dengan Tiongkok, etnis Tionghoa harus memandang posisinya sebagai warga negara Indonesia, alih-alih sebagai bagian dari Tiongkok," kata Julan.

Menariknya, Direktur Gentala Institute, Christine Susanna Tjhin, membedah fenomena ini dari sudut pandang sosiopolitik yang lebih luas. Ia menjelaskan perbedaan status antara Huayi/Huaren (bukan warga negara Tiongkok) dan Huaqiao (pemegang paspor Tiongkok).

baca juga

Di era ekonomi saat ini, tantangan baru muncul seiring masifnya investasi Tiongkok ke Indonesia. Christine mencatat munculnya kategori "pendatang baru" yang baru, yakni para ekspatriat atau migran yang hadir seiring dengan proyek-proyek investasi luar negeri.

"Muncul kategori baru yang bersifat sangat kompleks. Relevansi dualisme antara 'totok' dan 'peranakan' yang dulu dikenal, kini perlu dipertanyakan kembali efektivitasnya dalam memetakan identitas saat ini," papar Christine.

Sekretaris Aspertina, Budiman Tanah Djaya, melihat fenomena istilah Chindo (Chinese Indonesia) di media sosial sebagai upaya generasi muda memaknai identitas secara lebih cair dan progresif. Namun, ia mengingatkan agar sejarah pahit masa lalu tetap diingat sebagai fondasi.

"Generasi tua harus menjadi pengarah agar anak cucu tidak melupakan sejarah pahit sebagai konteks penting dalam membangun identitas Tionghoa dalam bingkai Keindonesiaan," tutup Budiman.

Acara yang dipandu oleh dosen Hubungan Internasional President University, Muhammad Farid, ini menjadi pengingat penting: bahwa di tengah persaingan ekonomi global, nasionalisme tetap menjadi kompas utama bagi seluruh elemen bangsa, termasuk masyarakat Tionghoa Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gandeng BDO, Kawasan Rebana Disiapkan Jadi Magnet Investasi Global Berbasis ESG

Gandeng BDO, Kawasan Rebana Disiapkan Jadi Magnet Investasi Global Berbasis ESG

Bisnis | Minggu, 01 Maret 2026 | 11:09 WIB

Pemerintah Gandeng AS Kembangkan Ekosistem Semikonduktor, Potensi Investasi Rp 530 Triliun

Pemerintah Gandeng AS Kembangkan Ekosistem Semikonduktor, Potensi Investasi Rp 530 Triliun

Bisnis | Jum'at, 27 Februari 2026 | 19:31 WIB

Bank Emas Pegadaian Genap Berusia Satu Tahun, Bertekad Menata Masa Depan Investasi Emas Indonesia

Bank Emas Pegadaian Genap Berusia Satu Tahun, Bertekad Menata Masa Depan Investasi Emas Indonesia

Bisnis | Jum'at, 27 Februari 2026 | 18:07 WIB

Terkini

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 19:03 WIB

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:55 WIB

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:54 WIB

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:50 WIB

Tutorial Menghitung Volume dan Luas Permukaan Tabung Tanpa Tutup

Tutorial Menghitung Volume dan Luas Permukaan Tabung Tanpa Tutup

Tekno | Minggu, 13 September 2026 | 18:48 WIB

Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?

Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 18:45 WIB

Cara Merawat Kulit Berjerawat agar Tetap Sehat dan Skin Barrier Terjaga

Cara Merawat Kulit Berjerawat agar Tetap Sehat dan Skin Barrier Terjaga

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:42 WIB

Logam Mulia Masih Berpeluang Naik, Harganya Diramal Capai Rp2,75 Juta

Logam Mulia Masih Berpeluang Naik, Harganya Diramal Capai Rp2,75 Juta

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:37 WIB

Tumbuh 7,28 Persen, Ekonomi Batam Melesat Lampaui Angka Nasional

Tumbuh 7,28 Persen, Ekonomi Batam Melesat Lampaui Angka Nasional

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:30 WIB

Purbaya Akui RI Tak Bisa Turunkan Pajak ala Jepang: Nanti Ribut Utang Terus

Purbaya Akui RI Tak Bisa Turunkan Pajak ala Jepang: Nanti Ribut Utang Terus

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:28 WIB

×