- Saluran berita Israel melaporkan korban luka di dekat Tel Aviv setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone gelombang ke-37.
- Ancaman Iran menutup Selat Hormuz dapat meningkat jika ranjau laut mulai ditebar, melumpuhkan lalu lintas kargo dan minyak.
- Negara-negara GCC kini mengalihkan rasa frustrasi dari Iran menuju AS dan Israel akibat dampak ekonomi dan fisik serangan tersebut.
Suara.com - Situasi di Timur Tengah semakin mencekam setelah saluran berita Israel, Channel 12, melaporkan adanya sejumlah korban luka akibat serangan rudal Iran yang menghantam wilayah dekat Tel Aviv.
Serangan ini menandai eskalasi baru dalam konflik terbuka yang sedang berlangsung.
Garda Revolusi Iran mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan gelombang ke-37 yang terdiri dari kombinasi rudal dan pesawat tak berawak (drone).
Sementara itu, pertahanan udara di Arab Saudi juga dilaporkan tengah sibuk menghalau proyektil-proyektil yang memasuki ruang udara mereka.
Jason Campbell, pakar dari Middle East Institute, memberikan analisis mengenai ancaman Iran terhadap Selat Hormuz.
Menurutnya, selama sepekan terakhir ancaman penutupan jalur tersebut masih bersifat tekanan psikologis. Namun, situasi akan berubah drastis jika Iran mulai menebar ranjau laut di perairan tersebut.
"Jika ranjau mulai ditebar, kapal-kapal tanker minyak dan kargo yang saat ini tertahan di Hormuz tidak akan bisa bergerak dalam waktu yang tidak ditentukan. Hal ini dikarenakan Amerika Serikat memiliki kapasitas terbatas untuk membersihkan ranjau secara fisik dari selat tersebut," jelas Campbell.
Dampak dari serangan AS-Israel ke Iran kini mulai memicu kemarahan luas di antara negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Campbell menambahkan bahwa fokus kemarahan negara-negara kawasan kini mulai bergeser.
"Awalnya, kekesalan mereka ditujukan kepada Iran. Namun sekarang, rasa frustrasi mulai menyasar Israel dan Amerika Serikat. Hal ini terjadi karena negara-negara tetangga tersebut mulai merasakan dampak kerugian yang nyata, baik secara fisik akibat serangan maupun secara ekonomi akibat lumpuhnya jalur perdagangan," ungkapnya kepada Al Jazeera.
Baca Juga: Tampang Insinyur India Diduga Agen Mossad, Bocorkan Lokasi Strategis Negara Sekutu AS