- Wamen Pertanian Sudaryono memastikan stok daging sapi nasional aman menjelang Idul Adha 2026 melalui perhitungan neraca komoditas yang matang.
- Pemerintah mengendalikan impor secara ketat dan memantau rantai distribusi untuk menjaga kestabilan harga daging sesuai harga eceran tertinggi.
- Pemerintah daerah di Jawa Tengah meluncurkan layanan kesehatan hewan keliling guna menjamin kesehatan ternak serta mencegah penyebaran penyakit menular.
Suara.com - Stok daging sapi nasional dipastikan memadai menghadapi Idul Adha 2026, demikian disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Ia mengatakan pemerintah telah menghitung kebutuhan melalui mekanisme neraca komoditas sehingga kebijakan impor tetap terkendali dan tidak merugikan peternak lokal.
"Saya kira kita tidak ada masalah. Kita sudah hitung melalui neraca komoditas, termasuk kebutuhan impor daging segar, sapi bakalan, serta populasi sapi dalam negeri," katanya saat menghadiri kontes sapi nasional di Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (25/4/2026).
Ia menyampaikan, pemerintah tidak akan melakukan impor secara berlebihan. Seluruh kebijakan dilakukan berdasarkan perhitungan yang matang agar keseimbangan antara pasokan dan perlindungan peternak tetap terjaga.
"Tidak mungkin impor daging ugal-ugalan. Semua dikontrol agar tidak merugikan peternak lokal," katanya.
Selain daging sapi, skema neraca komoditas juga diterapkan pada sejumlah komoditas lain yang masih bergantung pada impor, seperti bawang putih. Dengan sistem ini, pemerintah berharap masyarakat tidak terpengaruh isu atau provokasi yang tidak berdasar terkait ketersediaan pangan.
Ia memastikan harga daging tetap dikendalikan sesuai harga eceran tertinggi (HET). Ia mengakui sempat terjadi kenaikan harga, namun pemerintah langsung melakukan penelusuran dari hulu ke hilir.
"Kita cek dari feedlot, penyembelihan, hingga pedagang. Kalau ada kenaikan, harus segera ditindak. Presiden menekankan kebutuhan pokok harus sesuai harga yang ditetapkan," katanya.
Di tingkat daerah, Jawa Tengah mencatat perkembangan populasi ternak yang cukup besar, yang hingga saat ini jumlah ternak mencapai sekitar 6,3 juta ekor, dengan sapi sekitar 1,2 juta ekor. Jumlah tersebut masih kalah dibandingkan kambing yang mencapai 3 juta ekor, serta domba dan kerbau.
Ia menyampaikan, untuk menjaga kesehatan hewan ternak, pemerintah daerah menginisiasi program "healing" atau layanan kesehatan hewan keliling.
Program healing ini melibatkan dokter hewan yang memberikan vaksinasi, pemeriksaan penyakit menular, serta layanan jemput bola ke kelompok tani dan pelaku usaha tanpa biaya.
Menurut dia, program tersebut diharapkan mampu memutus rantai penyebaran penyakit sekaligus memastikan hewan ternak dalam kondisi sehat menjelang Idul Adha.