- Energi hidrogen jadi bagian utama strategi transisi energi dan dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.
- Kunjungan Vietnam Electricity (EVN) menunjukkan meningkatnya minat dan kolaborasi regional dalam pengembangan energi hidrogen.
- Hydrogen Center Senayan berperan sebagai pusat inovasi dan pertukaran teknologi untuk mendorong efisiensi pembangkit dan energi berkelanjutan.
Suara.com - Indonesia mulai kembangkan energi bersih berbasis hidrogen. Salah satunya lewat pengembangan Hydrogen Center Senayan, Jakarta yang dilakukan oleh PT PLN Indonesia Power.
Pengembangan energi hidrogen ini mulai dilirik oleh negara lain, seperti Vietnam. Hal ini setelah Vietnam Electricity (EVN) mengunjungi fasilitas energi hidrogen tersebut.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program pertukaran dan pembelajaran antara EVN dan PLN Group yang berfokus pada peningkatan efisiensi pembangkit listrik, khususnya di tengah tuntutan dekarbonisasi sektor energi.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan bahwa hidrogen menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan untuk menjawab tantangan transisi energi.
![Ilustrasi pembangkit listrik energi hidrogen. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/08/65381-ilustrasi-energi-bersih-hidrogen.jpg)
"Kolaborasi dengan mitra internasional seperti EVN merupakan langkah penting untuk mempercepat adopsi inovasi, meningkatkan kapabilitas, serta memperkuat peran Indonesia dalam ekosistem energi berkelanjutan di tingkat global," ujar Bernadus seperti dikutip, Rabu (8/4/2026)..
Sementara, Vice President Pengembangan Bisnis Dekarbonisasi dan Manajemen Energi PT PLN (Persero), Ricky Cahya Andrian, menyebut hidrogen kini menjadi salah satu fokus utama dalam strategi dekarbonisasi ketenagalistrikan.
"PLN terus mendorong pengembangan ekosistem hidrogen sebagai salah satu solusi energi masa depan yang bersih dan efisien, sekaligus membuka peluang kolaborasi global untuk mempercepat implementasinya di Indonesia," kata Ricky.
Manager Engineering PLN Indonesia Power UBP Priok, Ary Rachmat, menilai kolaborasi ini akan mempercepat adopsi teknologi baru di sektor pembangkit.
"Melalui benchmarking ini, kami berharap dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman, sekaligus mendorong akselerasi implementasi teknologi hidrogen sebagai bagian dari transformasi pembangkit menuju sistem energi yang lebih efisien dan berkelanjutan," jelas Ary.
Kunjungan delegasi EVN ini sekaligus menegaskan bahwa pengembangan energi hidrogen tak hanya menjadi agenda nasional, tetapi juga mulai menjadi perhatian regional di Asia Tenggara.