- Saham PT Bank Central Asia (BBCA) anjlok 5,84 persen ke Rp6.050 pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026.
- Penurunan harga dipicu aksi jual asing senilai Rp2 triliun setelah Fitch Ratings menurunkan outlook kredit perbankan nasional.
- Sentimen negatif global akibat kenaikan harga energi menyebabkan IHSG melemah 3,38 persen di akhir sesi perdagangan Jumat.
Suara.com - Saham PT Bank Central Asia (BBCA) anjlok tajam pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), turun 5,84 persen ke Rp6.050 per lembar. Ini merupakan nilai terendah saham BBCA sejak 2021, ketika wabah Covid-19 masih melanda dan memicu krisis ekonomi global.
Karenanya saham BCA turun dinilai sebagai anomali dan jadi pembahasan yang ramai di media sosial pada akhir pekan ini.
Meski demikian, turunnya saham BBCA secara teknis disebabkan oleh aksi jual asing (net sell) yang masif pada Jumat kemarin. Diketahui para investor asing menjual saham BBCA senilai Rp2 triliun, sementara nett sell di pasar reguler pada hari yang sama mencapai 3,02 triliun.
Dengan demikian BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas asing pada perdagangan kemarin, diikuti oleh:
- Saham Bank Mandiri (BMRI) yang senilai Rp618,9 miliar,
- Saham Bank BRI (BBRI) sebesar Rp447,3 miliar,
- Saham PT Impack Pratama Industri (IMPC) Rp106,8 miliar
- Saham Telkom (TLKM) sebanyak Rp92 miliar,
Jika dilihat saham-saham yang mengalami penurunan paling besar adalah bank-bank utama di Tanah Air. Ini adalah pola yang saling berhubungan.
Rantai penghubungnya adalah penilain terbaru dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings. Lembaga ini pada awal pekan menurunkan outlook kredit Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Negara Indonesia (BBNI), dari stabil menjadi negatif.
Tidak heran jika banyak investor asing yang kemudian melihat peringatan ini sebagai sinyal untuk melepas saham mereka.
Tapi selain dua faktor di atas, analis menilai BBCA anjlok bersamaan dengan turunnya IHSG akibat kekhawatiran terhadap pasokan energi di tingkat global.
IHSG ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76.
"Bursa regional Asia sebagian besar melemah pada hari Jumat seiring kenaikan harga minyak yang menekan sentimen, di tengah mandeknya negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta berlanjutnya gangguan di Selat Hormuz," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (25/4/2026).
Dari mancanegara, ketidakpastian pasokan yang masih berlangsung membuat harga energi tetap tinggi, sehingga memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan global.
Sementara itu, pekan depan, pelaku pasar akan menantikan FOMC Meeting oleh The Fed, yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,53- 3,75 persen.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah menjelang penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang konsumen nonprimer turun paling dalam minus sebesar 4,14 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang energi yang turun masing-masing 4,03 persen dan 3,82 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu PSDN, BNBA, BRNA, CTTH, dan SMMT. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni AMIN, SKBM, LPPF, KRYA, HOPE.