- Harga bawang merah dan putih meroket hingga 20%, bebani kantong rumah tangga.
- Beras dan telur ayam ikut naik tajam, cabai rawit merah tembus Rp62.300 per kg.
- Minyak goreng dan gula pasir kompak naik, tekan daya beli masyarakat di awal pekan.
Suara.com - Sejumlah harga komoditas pangan pokok dilaporkan mengalami lonjakan tajam pada Senin (27/4/2026). Kelompok bumbu dapur seperti bawang dan cabai menjadi "juara" kenaikan yang paling menguras kantong konsumen.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), lonjakan paling signifikan terjadi pada duo bawang. Harga bawang merah ukuran sedang kini dibanderol Rp55.400 per kg, melesat 19,78 persen. Tak mau ketinggalan, bawang putih ukuran sedang juga meroket 20,15 persen ke level Rp47.700 per kg.
Beralih ke komoditas "pedas", harga cabai rawit merah terpantau menembus Rp62.300 per kg atau naik 8,78 persen. Setali tiga uang, cabai merah besar melonjak 13,11 persen menjadi Rp53.950 per kg, sementara cabai merah keriting mengintai di harga Rp48.050 per kg. Namun, ada sedikit angin segar bagi pecinta pedas hijau, di mana cabai rawit hijau justru anjlok 27,23 persen ke posisi Rp35.350 per kg.
Tekanan inflasi pangan tidak hanya datang dari bumbu dapur. Makanan pokok sejuta umat, beras, juga menunjukkan tren kenaikan di seluruh lini kualitas:
- Beras Kualitas Bawah: Dibanderol Rp15.450 – Rp15.600 per kg (naik sekitar 6-7%).
- Beras Kualitas Medium: Menyentuh kisaran Rp16.750 – Rp17.000 per kg.
- Beras Kualitas Super: Menembus angka Rp18.250 per kg.
Komoditas protein seperti telur ayam ras kini harus ditebus seharga Rp35.150 per kg setelah naik 9,16 persen. Sementara itu, daging sapi kualitas II mengalami kenaikan 4,01 persen menjadi Rp145.400 per kg, disusul daging ayam yang merangkak tipis ke Rp40.050 per kg.
Sektor pemanis dan minyak goreng pun tak luput dari tren "hijau". Gula pasir premium kini bertengger di Rp22.200 per kg (naik 9,63%), sedangkan minyak goreng kemasan bermerek I melompat 9,34 persen menjadi Rp25.750 per kg.
Kenaikan serentak ini tentu menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera melakukan intervensi pasar guna menjaga daya beli masyarakat yang kian terhimpit di tengah fluktuasi harga pangan global dan domestik.