- PT Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 15 perusahaan sedang mengantre untuk melakukan penawaran umum perdana hingga April 2026.
- Mayoritas calon emiten tersebut merupakan perusahaan dengan aset skala besar yang bergerak di berbagai sektor industri strategis.
- BEI menargetkan 50 perusahaan melantai di bursa tahun 2026 guna menambah total emiten yang saat ini berjumlah 957.
Suara.com - Aktivitas di pasar modal Indonesia menunjukkan tren yang terjaga dengan adanya belasan perusahaan yang tengah bersiap melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Hingga 30 April 2026, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 15 perusahaan telah masuk dalam daftar antrean (pipeline) pencatatan saham.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, merinci bahwa mayoritas calon emiten tersebut merupakan perusahaan dengan aset skala besar. Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017, kriteria aset besar ditujukan bagi perusahaan dengan nilai aset di atas Rp250 miliar.
"Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ungkap Nyoman dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Rincian Sektor dan Klasifikasi Aset
Dari total 15 perusahaan tersebut, 11 di antaranya masuk dalam kategori aset skala besar, sementara 4 perusahaan lainnya memiliki aset skala menengah (rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar). Sektor-sektor yang akan meramaikan bursa kali ini cukup beragam, dengan rincian sebagai berikut:
- Sektor Kesehatan: 3 perusahaan
- Barang Konsumen Primer: 3 perusahaan
- Barang Konsumen Nonprimer: 3 perusahaan
- Infrastruktur: 2 perusahaan
- Teknologi: 2 perusahaan
- Energi: 1 perusahaan
- Keuangan: 1 perusahaan
Target dan Capaian Pasar Modal 2026
Sepanjang tahun 2026, BEI mematok target sebanyak 50 perusahaan dapat melantai di bursa. Hingga akhir April, baru tercatat satu perusahaan yang resmi melakukan IPO dengan dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp302,4 miliar.
Dengan tambahan tersebut, total emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia kini berjumlah 957 perusahaan.
Selain instrumen saham, aktivitas di sektor Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) juga menunjukkan angka yang signifikan. Per 30 April 2026, telah terbit 54 emisi dari 35 penerbit EBUS dengan total penghimpunan dana mencapai Rp58,90 triliun.
Saat ini, masih terdapat 47 emisi dari 33 penerbit yang berada dalam antrean penerbitan EBUS.
Di sisi lain, perkembangan aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue juga terus berjalan.
Tercatat sudah ada tiga perusahaan yang merampungkan aksi ini dengan total nilai transaksi sebesar Rp3,75 triliun. Dalam pipeline mendatang, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang dijadwalkan akan melaksanakan aksi korporasi serupa.