Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Tapi Dinilai Rapuh karena Bergantung Konsumsi

Dythia Novianty, Fakhri Fuadi Muflih

Kamis, 07 Mei 2026 | 11:18 WIB
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Tapi Dinilai Rapuh karena Bergantung Konsumsi
Ilustrasi diskon (pexels/Artem Beliaikin)
baca 10 detik
  • Pengamat Ibrahim Assuaibi mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026 yang lalu.
  • Capaian ekonomi tersebut didorong oleh stimulus pemerintah dan peningkatan konsumsi masyarakat selama momentum Ramadan serta Lebaran.
  • Pertumbuhan berbasis konsumsi dinilai kurang mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat dibandingkan jika didukung oleh investasi produktif.

Suara.com - Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional.

Menurut dia, capaian tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat yang didorong stimulus pemerintah dan momentum musiman Ramadan-Lebaran, bukan oleh investasi produktif jangka panjang yang menciptakan basis ekonomi lebih kuat.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama cukup bagus, 5,61 persen. Apa sih yang menopang pertumbuhan ekonomi kuartal pertama? Oh, lebaran, ya, kemarin bulan puasa dan lebaran. Itu yang menopang,” kata Ibrahim kepada Suara.com, Kamis (7/4/2026).

Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga memang menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi struktur seperti ini dinilai lebih rentan jika tidak diimbangi penguatan investasi.

“Kemudian harus diingat bahwa yang menopang PDB itu adalah konsumsi masyarakat, daya beli, ya kan? Pemerintah melakukan ini, melakukan stimulus, ya, intervensi berupa BLT, ya, dana BOS, dan lain-lain, ya. Sehingga apa? Sehingga kita pertumbuhan ekonominya bagus, di 5,61 persen,” terangnya.

Ibrahim menilai, pertumbuhan berbasis konsumsi bisa terdongkrak cepat melalui bantuan sosial, subsidi, atau diskon, tetapi tidak otomatis menandakan ekonomi berada dalam kondisi sehat secara struktural.

Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Ilustrasi ekonomi Indonesia, suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

“Tapi 5,61 persen itu tidak berarti bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja, gitu lho. Karena kita dari daya belinya, dari daya beli masyarakat, bukan dari investasi,” katanya.

Ia membandingkan dengan model pertumbuhan yang lebih bertumpu pada investasi seperti era pembangunan industri padat karya, ketika modal masuk menciptakan pabrik, lapangan kerja, dan kapasitas produksi baru.

“Orde Baru itu kan 60 persen itu kan dari investasi, kan? Kayak di Tiongkok itu 60 persen. Sehingga apa? Padat karya. Jadi modal masuk, kemudian membikin satu perusahaan, kemudian masyarakat bekerja,” jelas Ibrahim.

baca juga

Menurut dia, kondisi saat ini berbeda karena konsumsi masyarakat menjadi instrumen paling mudah untuk mendorong angka pertumbuhan jangka pendek.

“Nah, sehingga kalau konsumsi masyarakat, pemerintah bisa mengatrol, dengan cara apa? Dengan cara BLT, ya kan? Bantuan tunai, ya kan? Semakin banyak bantuan tunai, semakin banyak intervensi,” katanya.

Ia juga menyoroti berbagai stimulus pemerintah selama Ramadan dan Lebaran, mulai dari bantuan tunai, hingga insentif transportasi, sebagai faktor yang memperkuat daya beli sementara.

“Kemudian bonus untuk kemarin adalah untuk transportasi udara, ya kemudian darat, laut, kan pada saat lebaran,” tutur Ibrahim.

Menurut dia, pola ini efektif menjaga konsumsi jangka pendek, tetapi belum tentu memperkuat fondasi ekonomi jika investasi, industri, dan penciptaan lapangan kerja produktif tidak menjadi motor utama.

“Pembentukan PDB dari gaya masyarakat itu paling mudah. Tinggal stimulus saja, tinggal dibagi-bagi saja, ya sehingga akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di 5,61 persen,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia

Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 19:34 WIB

Dongkrak Daya Beli, Indodana Finance dan Sharp Perkuat Ekosistem Cicilan Digital

Dongkrak Daya Beli, Indodana Finance dan Sharp Perkuat Ekosistem Cicilan Digital

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 10:30 WIB

Rupiah Anjlok, Emas Logam Mulia Diramal Bisa Tembus Rp3 Juta per Gram

Rupiah Anjlok, Emas Logam Mulia Diramal Bisa Tembus Rp3 Juta per Gram

Bisnis | Senin, 06 April 2026 | 08:08 WIB

Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.100 Triliun, OJK: Bisa Bantu Ekonomi Indonesia

Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.100 Triliun, OJK: Bisa Bantu Ekonomi Indonesia

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 11:09 WIB

Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk

Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk

Bisnis | Selasa, 31 Maret 2026 | 08:10 WIB

Geopolitik Memanas, Pemerintah Klaim Ekonomi RI Tetap Tangguh

Geopolitik Memanas, Pemerintah Klaim Ekonomi RI Tetap Tangguh

Bisnis | Kamis, 26 Maret 2026 | 19:36 WIB

Terkini

Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah

Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:25 WIB

Heran Eks Dirjen PHU Tak Akui BAP di Sidang Kasus Haji, Hakim: Mungkin Penyidiknya Halu

Heran Eks Dirjen PHU Tak Akui BAP di Sidang Kasus Haji, Hakim: Mungkin Penyidiknya Halu

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:22 WIB

Jokowi Jawab Gugatan Pendidikan Gibran di MK: Mengapa Singgung Paket C?

Jokowi Jawab Gugatan Pendidikan Gibran di MK: Mengapa Singgung Paket C?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 18:19 WIB

Cegah Spekulasi Liar, DPR Minta Imipas Buka-bukaan Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

Cegah Spekulasi Liar, DPR Minta Imipas Buka-bukaan Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:18 WIB

Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk

Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:15 WIB

Kuliah Gratis di PTN Dinilai Bisa Bikin PTS Kolaps, Pemerintah Diminta Siap-siap

Kuliah Gratis di PTN Dinilai Bisa Bikin PTS Kolaps, Pemerintah Diminta Siap-siap

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:14 WIB

REDMI Note 17 Pro Max 5G Bawa Baterai 10.000mAh, Bonus Kuota XL 1.000GB

REDMI Note 17 Pro Max 5G Bawa Baterai 10.000mAh, Bonus Kuota XL 1.000GB

Tekno | Kamis, 24 September 2026 | 18:14 WIB

Gerah Dikloning, Piaggio Patenkan Bentuk 3D Vespa: Pabrikan Lain Gak Boleh Bikin Motor Mirip Lagi?

Gerah Dikloning, Piaggio Patenkan Bentuk 3D Vespa: Pabrikan Lain Gak Boleh Bikin Motor Mirip Lagi?

Otomotif | Kamis, 24 September 2026 | 18:12 WIB

Bebas Kilap! 4 Physical Sunscreen Silica untuk Kontrol Sebum Kulit Sensitif

Bebas Kilap! 4 Physical Sunscreen Silica untuk Kontrol Sebum Kulit Sensitif

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:10 WIB

KPA: Jangan Lagi Kriminalisasi Petani dan Masyarakat Adat yang Perjuangkan Tanah

KPA: Jangan Lagi Kriminalisasi Petani dan Masyarakat Adat yang Perjuangkan Tanah

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:09 WIB

×