Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.655.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?

Mohammad Fadil Djailani, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:04 WIB
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
Pemerintah kini melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah pengembangan yang tengah digarap oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan terhadap impor LPG. Desain Suara.com/AI
baca 10 detik
  • Pemerintah mau ganti LPG ke CNG demi kurangi impor.
  • Berdasarkan data porsi impor LPG nasional pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan.
  • CNG memiliki tekanan yang cukup tinggi membuat CNG lebih rawan meledak.

Suara.com - Pemerintah kini melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah pengembangan yang tengah digarap oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan terhadap impor LPG.

Berdasarkan data Kementerian ESDM dalam rapat dengar pendapat bersama DPR pada 8 April lalu, porsi impor LPG nasional pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan. Angka ketergantungan ini diproyeksikan melonjak hingga 83,97 persen pada 2026.

Secara rinci, kebutuhan LPG pada 2025 tercatat sebesar 25.000 metrik ton per hari. Memasuki periode Januari–Februari 2026, angka tersebut naik 1.000 metrik ton menjadi 26.000 metrik ton per hari. Hingga akhir Februari 2026, total impor LPG bahkan telah menembus 1,31 juta ton. Jumlah ini berbanding terbalik dengan volume produksi nasional yang hanya mampu menyuplai 0,13 juta ton.

Kebutuhan untuk mengurangi impor LPG kian mendesak di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik diketahui telah  mengganggu rantai pasok energi dunia dan mendongkrak harga komoditas ke level yang lebih tinggi.

Atas berbagai pertimbangan itu, pemerintah melirik CNG sebagai alternatif pengganti LPG. Apalagi, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyebut bahan baku CNG di Indonesia sangat melimpah dibanding LPG yang terbatas.

Apa itu CNG?

Mengutip dari laman Perusahaan Gas Negara (PGN), CNG atau Compressed Natural Gas adalah gas alam yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi. Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal menjelaskan  CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG. Tekanan CNG mencapai 200–250 bar, sementara LPG hanya 5–10 bar.

CNG terdiri dari campuran hidrokarbon, seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, kandungan metana menjadi yang paling dominan, bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen. Berbeda dengan LPG yang berbentuk cair di bawah tekanan sedang, CNG tetap berbentuk gas yang dikompresi  dengan tekanan sangat tinggi.

Apa tantangan pengembangan CNG jadi pengganti LPG?

baca juga

Karena memiliki tekanan yang cukup tinggi membuat CNG lebih rawan meledak dibanding LPG. Ketua Aspermigas Moshe Rizal bahkan menyebut daya ledaknya jauh lebih besar dibanding LPG.

"Kebayangkan. Sedangkan LPG sering kita  dengar kan, banyak kecelakaan, tabung yang meledak dan lain sebagainya. Ini bayangkan, tekanannya itu setidak-tidaknya itu bisa 25 kali lipat daripada LPG," kata Moshe saat dihubungi Suara.com pada Kamis (7/4/2026).

Faktor keamanan inilah yang menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan LPG. Hal itu pula yang membuat pemerintah lebih memilih LPG sebagai pengganti minyak tanah pada program konversi energi tahun 2007 lalu.

Ukuran Tabung jadi Lebih Besar

Selain faktor risiko ledakan, tantangan lain terletak pada dimensi fisik kemasan jika CNG dikemas dalam ukuran 3 kilogram. Moshe menjelaskan bahwa densitas energi CNG 2,5 kali lebih rendah dibanding LPG. Konsekuensinya, untuk menghasilkan kapasitas energi yang sama, ukuran tabung CNG 3 kg diprediksi akan lebih besar daripada tabung LPG 12 kg.

Tabung CNG juga harus dibuat jauh lebih tebal untuk menahan tekanan tinggi agar tidak mudah meledak, sehingga bobot tabung bisa lebih berat daripada isinya sendiri.

Memang ada solusi menggunakan bahan carbon fiber agar tabung lebih ringan dan kuat, namun harganya diperkirakan bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal.

Di samping itu, perbedaan karakteristik kalori antara CNG dan LPG membuat masyarakat harus memodifikasi atau menggunakan kompor khusus agar gas bisa digunakan.

Apakah CNG Efektif gantikan LPG bagi Rumah Tangga?

Dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan dimensi tabung, Moshe tidak menganjurkan penggunaan CNG untuk sektor rumah tangga. Menurutnya, pemanfaatan CNG lebih efektif jika didorong secara masif untuk kebutuhan industri, seperti perhotelan dan restoran.

"Untuk industri sebenarnya sudah lama. Industri juga sudah didorong oleh pemerintah untuk menggunakan CNG, menggantikan LPG. Tapi kalau untuk masyarakat, apalagi rumah tangga, saya sih tidak begitu menganjurkan ya. Karena masalah risiko safety ini sangat-sangat besar," ujar Moshe.

Moshe menilai industri perhotelan dan restoran, memiliki kapasitas untuk menerapkan prosedur keamanan dan penempatan tabung yang ketat.

"Di hotel misalnya, tabung CNG bisa diletakkan di luar ruangan atau di area khusus untuk meminimalkan risiko. Namun, untuk skala rumah tangga hal ini sulit dilakukan karena tekanan CNG bisa 25 kali lipat lebih tinggi (dibanding LPG)," jelasnya.

Pemerintah kini melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah pengembangan yang tengah digarap oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan terhadap impor LPG. Desain Suara.com/AI
Pemerintah kini melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah pengembangan yang tengah digarap oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan terhadap impor LPG. Desain Suara.com/AI

Namun, , jika program pemanfaatan gas alam ini akan tetap dijalankan untuk masyarakat, Moshe menyarankan agar pendistribusiannya tidak menggunakan tabung eceran, melainkan melalui Jaringan Gas (Jargas) skala lokal yang dikelola pihak swasta.

Skema ini bisa diterapkan di kawasan padat hunian seperti rumah susun, apartemen, atau kompleks perumahan. CNG dapat ditempatkan di satu titik penyimpanan pusat, lalu dialirkan ke rumah-rumah melalui pipa gas. Model penyaluran melalui pipa ini juga sudah lazim diterapkan di berbagai negara.

"Jargas itu kenapa lebih aman? Karena dari sisi tekanan palingan cuma 2-3 bar untuk mengalirkan. Jadi, kalau misalkan ada kebocoran, dampaknya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan tabung CNG," jelas Moshe.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siap-siap Transisi LPG ke CNG! Ini 4 Pilihan Kompor 2 Tungku yang Awet dan Aman

Siap-siap Transisi LPG ke CNG! Ini 4 Pilihan Kompor 2 Tungku yang Awet dan Aman

Lifestyle | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:33 WIB

Insentif Kendaraan Listrik Dinilai Investasi Fiskal Jangka Panjang

Insentif Kendaraan Listrik Dinilai Investasi Fiskal Jangka Panjang

Otomotif | Jum'at, 08 Mei 2026 | 14:43 WIB

Ini yang Perlu Diketahui Soal Subsidi Motor Listrik 2026: Syaratnya Apa dan Mulai Kapan?

Ini yang Perlu Diketahui Soal Subsidi Motor Listrik 2026: Syaratnya Apa dan Mulai Kapan?

Otomotif | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:05 WIB

Terkini

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:11 WIB

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:49 WIB

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:12 WIB

Harga Emas Pegadaian: Antam Detaki Rp2,8 Juta per Gram, Disusul UBS dan Galeri24

Harga Emas Pegadaian: Antam Detaki Rp2,8 Juta per Gram, Disusul UBS dan Galeri24

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:57 WIB

Perundingan Damai AS-Iran Alot, Harga Minyak Dunia Naik Kembali ke USD80

Perundingan Damai AS-Iran Alot, Harga Minyak Dunia Naik Kembali ke USD80

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:22 WIB

IHSG Menghijau di Senin Pagi, Cek Saham yang Cuan

IHSG Menghijau di Senin Pagi, Cek Saham yang Cuan

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:16 WIB

Pembangunan PLTS Koperasi Pertama di Indonesia Capai 80 Persen

Pembangunan PLTS Koperasi Pertama di Indonesia Capai 80 Persen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 08:56 WIB

Punya Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Stagnan Dibanderol Rp2.668.000/Gram

Punya Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Stagnan Dibanderol Rp2.668.000/Gram

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 08:36 WIB

Harga Minyak Dunia Terus Naik Sejak Selat Hormuz Kembali Diblokir

Harga Minyak Dunia Terus Naik Sejak Selat Hormuz Kembali Diblokir

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 08:14 WIB

IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidatif Sepekan, Sentimen Timur Tengah hingga MSCI Jadi Sorotan

IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidatif Sepekan, Sentimen Timur Tengah hingga MSCI Jadi Sorotan

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 08:01 WIB