Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara

Dicky Prastya

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:52 WIB
Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara
Ilustrasi Makanan Vegetarian (Pexels/Alesia Kozik)
baca 10 detik
  • Indonesia menempati peringkat ketiga prevalensi obesitas tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan data World Obesity Atlas tahun 2022.
  • Kondisi obesitas dipicu oleh food noise, yakni dorongan pikiran berlebih terhadap makanan akibat gangguan mekanisme neuroendokrin tubuh.
  • Penanganan obesitas kini beralih dari sekadar diet menuju pendekatan medis komprehensif seperti penggunaan terapi GLP-1 receptor agonist.

Suara.com - Berdasarkan World Obesity Atlas 2022, Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi.

Di balik angka tersebut, food noise menjadi faktor yang sering tidak disadari. Meski terdengar seperti istilah baru, konsep ini telah lama dikenal dan kini semakin didukung oleh literatur ilmiah.

Berbeda dengan rasa lapar yang merupakan sinyal alami tubuh, food noise adalah dorongan pikiran yang terus-menerus tentang makanan, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan. Dorongan pikiran Food noise bukan sekadar keinginan makan biasa, tetapi mencerminkan bagaimana otak merespons makanan, stres, kebiasaan, dan lingkungan.

Kondisi ini tidak hanya memicu makan berlebihan (overeating), tetapi juga menimbulkan beban mental seperti rasa bersalah dan kecemasan, serta menyulitkan individu menjaga pola makan secara konsisten.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval menyebut banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks.

Menurutnya, memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi. Saat ini, paradigma penanganan obesitas telah bergeser dari sekadar ‘hitung kalori’ menjadi ‘perbaiki biologi’.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval.
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval.

"Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi (complementary) untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja. Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien," katanya, dikutip dari siaran pers, Minggu (10/5/2026).

Obesitas sering disalahpahami sebagai masalah perilaku atau gaya hidup semata, padahal melibatkan gangguan pada mekanisme neuroendokrin yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

Akibatnya, penanganan kerap hanya berfokus pada perubahan gaya hidup, bahkan pada kasus yang sudah berat. Sehingga membatasi akses terhadap terapi medis yang diperlukan.

baca juga

Padahal, meski pola makan penting untuk pencegahan, pendekatan tersebut tidak cukup untuk mengatasi aspek biologis obesitas. Sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif dan berbasis sains.

Pemahaman ini mendorong pergeseran pendekatan dalam penanganan obesitas, dari sekadar pembatasan kalori menuju pendekatan berbasis biologi yang menargetkan mekanisme penyakit.  

Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis tidak lagi dipandang sebagai pilihan yang terpisah, melainkan sebagai komponen yang saling melengkapi dalam pengelolaan obesitas.

Inovasi medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) berperan dalam membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak.

Dengan bekerja pada jalur biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, inovasi ini terbukti secara klinis dapat memperbaiki kontrol makan melalui penurunan rasa lapar, pengurangan keinginan makan, serta peningkatan rasa kenyang.

Hal ini secara langsung membantu mengurangi asupan kalori dan meredakan dorongan makan berlebih, termasuk food noise. Kehadiran inovasi ini memberikan harapan yang meringankan bagi individu yang berjuang menghadapi gangguan pikiran terkait makanan, sekaligus melengkapi perubahan gaya hidup sebagai bagian dari penanganan yang lebih komprehensif.

Secara klinis, terapi GLP-1 RA Novo Nordisk telah menunjukkan manfaat dalam mendukung penurunan berat badan yang signifikan. Sehingga 1 dari 3 pasien dapat kehilangan lebih dari 20% berat badan.

Lebih dari itu, pendekatan ini mengedepankan konsep penurunan berat badan yang berkualitas (quality weight loss), yaitu penurunan massa lemak secara efektif sambil mempertahankan massa otot. Terapi ini juga berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20%.

“Penting bagi individu dengan obesitas untuk beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional dalam mengelola berat badan. Dengan memahami bahwa obesitas adalah penyakit kompleks, kita dapat mendorong penanganan yang lebih tepat dan berbasis sains,” ujar Riyanny Meisha Tarliman selaku Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jadwal Lengkap Grup F Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Tantang Jepang Hingga Thailand

Jadwal Lengkap Grup F Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Tantang Jepang Hingga Thailand

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 09:09 WIB

Jadwal Timnas Indonesia di Grup Neraka Piala Asia 2027: Langsung Hadapi Jepang di Laga Perdana

Jadwal Timnas Indonesia di Grup Neraka Piala Asia 2027: Langsung Hadapi Jepang di Laga Perdana

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:55 WIB

Jadwal Lengkap ARRC Buriram 2026 Pekan Ini: Pembuktian Nyali Andalan Baru Garuda

Jadwal Lengkap ARRC Buriram 2026 Pekan Ini: Pembuktian Nyali Andalan Baru Garuda

Otomotif | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:33 WIB

Masuk Grup Neraka Piala Asia 2027, John Herdman Minta Timnas Indonesia Nikmati Status Underdog

Masuk Grup Neraka Piala Asia 2027, John Herdman Minta Timnas Indonesia Nikmati Status Underdog

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:20 WIB

Drawing Piala Asia 2027: Timnas Indonesia Masuk Grup Neraka Bareng Jepang dan Juara Bertahan

Drawing Piala Asia 2027: Timnas Indonesia Masuk Grup Neraka Bareng Jepang dan Juara Bertahan

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:33 WIB

Ketua KOI Soroti Krisis Anggaran, Sebut Kondisi Olahraga Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Ketua KOI Soroti Krisis Anggaran, Sebut Kondisi Olahraga Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Sport | Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:54 WIB

Terkini

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 00:01 WIB

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

News | Sabtu, 26 September 2026 | 23:28 WIB

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 23:20 WIB

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:44 WIB

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:34 WIB

Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD

Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:20 WIB

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 22:14 WIB

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 21:59 WIB

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 21:25 WIB

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Otomotif | Sabtu, 26 September 2026 | 20:54 WIB

×