Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.535.000
IHSG 6.101,333
LQ45 598,429
Srikehati 292,525
JII 363,372
USD/IDR 17.863

Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara

Dicky Prastya

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:52 WIB
Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara
Ilustrasi Makanan Vegetarian (Pexels/Alesia Kozik)
baca 10 detik
  • Indonesia menempati peringkat ketiga prevalensi obesitas tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan data World Obesity Atlas tahun 2022.
  • Kondisi obesitas dipicu oleh food noise, yakni dorongan pikiran berlebih terhadap makanan akibat gangguan mekanisme neuroendokrin tubuh.
  • Penanganan obesitas kini beralih dari sekadar diet menuju pendekatan medis komprehensif seperti penggunaan terapi GLP-1 receptor agonist.

Suara.com - Berdasarkan World Obesity Atlas 2022, Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi.

Di balik angka tersebut, food noise menjadi faktor yang sering tidak disadari. Meski terdengar seperti istilah baru, konsep ini telah lama dikenal dan kini semakin didukung oleh literatur ilmiah.

Berbeda dengan rasa lapar yang merupakan sinyal alami tubuh, food noise adalah dorongan pikiran yang terus-menerus tentang makanan, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan. Dorongan pikiran Food noise bukan sekadar keinginan makan biasa, tetapi mencerminkan bagaimana otak merespons makanan, stres, kebiasaan, dan lingkungan.

Kondisi ini tidak hanya memicu makan berlebihan (overeating), tetapi juga menimbulkan beban mental seperti rasa bersalah dan kecemasan, serta menyulitkan individu menjaga pola makan secara konsisten.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval menyebut banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks.

Menurutnya, memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi. Saat ini, paradigma penanganan obesitas telah bergeser dari sekadar ‘hitung kalori’ menjadi ‘perbaiki biologi’.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval.
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval.

"Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi (complementary) untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja. Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien," katanya, dikutip dari siaran pers, Minggu (10/5/2026).

Obesitas sering disalahpahami sebagai masalah perilaku atau gaya hidup semata, padahal melibatkan gangguan pada mekanisme neuroendokrin yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

Akibatnya, penanganan kerap hanya berfokus pada perubahan gaya hidup, bahkan pada kasus yang sudah berat. Sehingga membatasi akses terhadap terapi medis yang diperlukan.

baca juga

Padahal, meski pola makan penting untuk pencegahan, pendekatan tersebut tidak cukup untuk mengatasi aspek biologis obesitas. Sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif dan berbasis sains.

Pemahaman ini mendorong pergeseran pendekatan dalam penanganan obesitas, dari sekadar pembatasan kalori menuju pendekatan berbasis biologi yang menargetkan mekanisme penyakit.  

Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis tidak lagi dipandang sebagai pilihan yang terpisah, melainkan sebagai komponen yang saling melengkapi dalam pengelolaan obesitas.

Inovasi medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) berperan dalam membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak.

Dengan bekerja pada jalur biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, inovasi ini terbukti secara klinis dapat memperbaiki kontrol makan melalui penurunan rasa lapar, pengurangan keinginan makan, serta peningkatan rasa kenyang.

Hal ini secara langsung membantu mengurangi asupan kalori dan meredakan dorongan makan berlebih, termasuk food noise. Kehadiran inovasi ini memberikan harapan yang meringankan bagi individu yang berjuang menghadapi gangguan pikiran terkait makanan, sekaligus melengkapi perubahan gaya hidup sebagai bagian dari penanganan yang lebih komprehensif.

Secara klinis, terapi GLP-1 RA Novo Nordisk telah menunjukkan manfaat dalam mendukung penurunan berat badan yang signifikan. Sehingga 1 dari 3 pasien dapat kehilangan lebih dari 20% berat badan.

Lebih dari itu, pendekatan ini mengedepankan konsep penurunan berat badan yang berkualitas (quality weight loss), yaitu penurunan massa lemak secara efektif sambil mempertahankan massa otot. Terapi ini juga berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20%.

“Penting bagi individu dengan obesitas untuk beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional dalam mengelola berat badan. Dengan memahami bahwa obesitas adalah penyakit kompleks, kita dapat mendorong penanganan yang lebih tepat dan berbasis sains,” ujar Riyanny Meisha Tarliman selaku Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jadwal Lengkap Grup F Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Tantang Jepang Hingga Thailand

Jadwal Lengkap Grup F Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Tantang Jepang Hingga Thailand

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 09:09 WIB

Jadwal Timnas Indonesia di Grup Neraka Piala Asia 2027: Langsung Hadapi Jepang di Laga Perdana

Jadwal Timnas Indonesia di Grup Neraka Piala Asia 2027: Langsung Hadapi Jepang di Laga Perdana

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:55 WIB

Jadwal Lengkap ARRC Buriram 2026 Pekan Ini: Pembuktian Nyali Andalan Baru Garuda

Jadwal Lengkap ARRC Buriram 2026 Pekan Ini: Pembuktian Nyali Andalan Baru Garuda

Otomotif | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:33 WIB

Masuk Grup Neraka Piala Asia 2027, John Herdman Minta Timnas Indonesia Nikmati Status Underdog

Masuk Grup Neraka Piala Asia 2027, John Herdman Minta Timnas Indonesia Nikmati Status Underdog

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:20 WIB

Drawing Piala Asia 2027: Timnas Indonesia Masuk Grup Neraka Bareng Jepang dan Juara Bertahan

Drawing Piala Asia 2027: Timnas Indonesia Masuk Grup Neraka Bareng Jepang dan Juara Bertahan

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:33 WIB

Ketua KOI Soroti Krisis Anggaran, Sebut Kondisi Olahraga Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Ketua KOI Soroti Krisis Anggaran, Sebut Kondisi Olahraga Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Sport | Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:54 WIB

Terkini

Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal

Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:14 WIB

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:37 WIB

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:35 WIB

Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan

Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:26 WIB

Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor

Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:18 WIB

Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS

Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:49 WIB

Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I

Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:32 WIB

Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!

Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:08 WIB

IHSG Ambrol Nyaris ke Level 5.900, TPIA Jadi Beban

IHSG Ambrol Nyaris ke Level 5.900, TPIA Jadi Beban

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:37 WIB

Status TMS PPPK Bisa Jadi MS: Ini Cara Sanggah dan Contoh Kalimat Resminya

Status TMS PPPK Bisa Jadi MS: Ini Cara Sanggah dan Contoh Kalimat Resminya

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:36 WIB