- Bursa saham Wall Street melemah serentak pada perdagangan 19 Mei 2026 akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
- Lonjakan imbal hasil dipicu kekhawatiran inflasi akibat harga energi, sehingga menekan saham teknologi serta sektor semikonduktor secara signifikan.
- Pelaku pasar merespons ketidakpastian kebijakan moneter menjelang pelantikan ketua baru Federal Reserve serta situasi geopolitik di Timur Tengah.
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Tekanan datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli pasar saham.
Mengutip laporan CNBC, semua indeks utama Wall Street merosot,s seperti indeks S&P 500 turun 0,67 persen ke level 7.353,61 dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot 322,24 poin atau 0,65 persen ke posisi 49.363,88.
Di sisi lain, Nasdaq Composite ditutup melemah 0,84 persen di level 25.870,71.
Pelaku pasar menyoroti lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun yang sempat menembus 5,19 persen, level tertinggi dalam hampir 19 tahun. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek juga naik hingga 4,687 persen, tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan yield obligasi tersebut dipicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik Iran. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan menekan konsumsi masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.
"Para pengawas pasar obligasi sedang beraksi saat ini," kata Kepala Investasi Prime Capital Financial, Will McGough.
"Semua orang memperkirakan harga energi akan tetap tinggi, yang dapat menyebabkan inflasi yang ikut melonjak," lanjut dia.
McGough menyebut investor obligasi tampaknya mulai mengirim sinyal bahwa bank sentral AS atau The Fed dianggap terlambat mengendalikan inflasi, terutama menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua baru Federal Reserve pada Jumat mendatang.
"Ada narasi bahwa ketua Fed yang baru cenderung diuji oleh pasar," ujarnya kepada CNBC.
"Anda bisa melihat para pengawas pasar obligasi jelas sedang mengujinya di sini, jika Anda mempercayai tema tersebut," tambah McGough.
Dari pasar energi, harga minyak mentah dunia sedikit turun setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Keputusan itu diambil usai adanya permintaan dari tiga kekuatan regional Timur Tengah agar AS menunda langkah militer tersebut.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni turun 0,82 persen menjadi 107,77 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah Brent pengiriman Juli melemah 0,73 persen ke level 111,28 dolar AS per barel.
Meski begitu, sentimen geopolitik masih membayangi pasar setelah laporan The Wall Street Journal menyebut AS menyita kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran di Samudra Hindia.
Tekanan juga terjadi pada saham-saham teknologi dan chip semikonduktor. Saham NVIDIA anjlok hampir 4 persen, sedangkan Broadcom turun 2 persen.
Sementara itu, saham Qualcomm melemah hampir 1 persen menjelang laporan kinerja kuartalan perusahaan yang akan dirilis setelah penutupan pasar Rabu waktu setempat.
"Ini adalah jeda yang pantas setelah reli epik," kata Manajer Portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, kepada CNBC.
Menurut dia, koreksi ini terjadi di waktu yang menarik karena hanya berselang beberapa hari sebelum perusahaan chip terbesar dunia melaporkan kinerja dan proyeksi bisnis terbaru mereka.
Sebelumnya, Wall Street sempat mencatat reli kuat dengan S&P 500 dan Nasdaq menyentuh rekor tertinggi baru pekan lalu. Bahkan, Dow Jones juga sempat kembali menembus level psikologis 50.000.