Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.630.000
Beli Rp2.525.000
IHSG 5.875,780
LQ45 581,783
Srikehati 287,931
JII 348,084
USD/IDR 17.955

Bank Indonesia Diramal Naikkan Suku Bunga Jadi 5 Persen Hari Ini

Dythia Novianty, Rina Anggraeni

Rabu, 20 Mei 2026 | 07:33 WIB
Bank Indonesia Diramal Naikkan Suku Bunga Jadi 5 Persen Hari Ini
Ilustrasi Bank Indonesia. [Suara.com]
baca 10 detik
  • Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 20 Mei 2026 demi menjaga stabilitas moneter.
  • Pelemahan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.700 per dolar AS akibat tingginya harga minyak dunia dan tekanan eksternal lainnya.
  • Otoritas perlu memperkuat kebijakan moneter karena penggunaan cadangan devisa sebesar 10 miliar dolar AS dinilai belum cukup efektif.

Suara.com - Peluang Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga BI dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada hari ini. Hal ini seiring dengan tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5,00 persen kini jauh lebih besar dibandingkan opsi mempertahankan suku bunga, demi menjaga stabilitas moneter dari guncangan eksternal.

"BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 5,00 persen karena rupiah telah menyentuh sekitar Rp17.700 per dolar AS dan BI sudah menggunakan lebih dari 10 miliar dolar AS cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk stabilisasi rupiah," katanya saat dihubungi Suara.com, Rabu (20/5/2026).

Menurut Josua, urgensi kenaikan suku bunga BI didorong oleh kondisi realitas pasar di mana rupiah telah menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS).

Meskipun inflasi pada April 2026 tercatat masih terkendali di level 2,42 persen, risiko depresiasi mata uang terhadap harga barang impor, biaya energi, hingga biaya produksi menjadi alasan utama bagi kebijakan moneter BI untuk bertindak lebih agresif guna melindungi ekspektasi pasar.

Josua menjelaskan bahwa penurunan suku bunga hampir mustahil dilakukan saat ini. Pasalnya, rupiah tengah menghadapi tekanan berat akibat tingginya harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang bertengger di level 4,60 persen.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Kondisi ini diperparah dengan terkoreksinya pasar obligasi dan saham domestik dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data yang ada, Bank Indonesia tercatat telah menggelontorkan lebih dari 10 miliar dolar AS cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk stabilisasi nilai tukar.

Posisi cadangan devisa pada Maret yang mencapai 148,2 miliar dolar AS menyusut menjadi 146,2 miliar dolar AS pada bulan berikutnya, yang salah satunya dipicu oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi pasar valas.

baca juga

"Jika BI hanya mengandalkan intervensi valas, SRBI, DNDF, dan operasi moneter tanpa menaikkan suku bunga, pasar bisa menilai bahwa respons kebijakan belum cukup kuat," ujar Josua.

Meski demikian, opsi untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen bukannya tertutup sama sekali. Langkah ini mungkin diambil jika BI ingin menghindari beban tambahan terhadap sektor kredit, konsumsi masyarakat, UMKM, serta biaya pembiayaan pemerintah.

Namun, Josua memperingatkan bahwa tanpa sinyal yang kuat, pasar berisiko kehilangan kepercayaan karena kondisi fundamental global saat ini sedang memburuk, termasuk harga minyak Brent yang menyentuh 110 dolar AS per barel.

Kenaikan suku bunga memang diakui bukan satu-satunya solusi instan untuk memperkuat rupiah di tengah konflik Timur Tengah dan arus modal keluar.

Namun, langkah ini dianggap krusial sebagai pesan bahwa otoritas moneter tidak akan membiarkan pelemahan mata uang merusak stabilitas pasar keuangan nasional.

"BI harus menyampaikan pesan yang sangat tegas bahwa kenaikan suku bunga tetap terbuka jika rupiah terus melemah, sambil memperkuat operasi pasar valas, SRBI, dan stabilisasi SBN. Jadi, pilihan paling kredibel besok adalah menaikkan secara terbatas; pilihan kedua adalah menahan dengan sikap sangat tegas; sedangkan menurunkan suku bunga belum tepat dalam situasi saat ini," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Saham Ini Paling Banyak Dijual Investor Asing di Sesi I

5 Saham Ini Paling Banyak Dijual Investor Asing di Sesi I

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 13:33 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.649 Triliun di Bulan Mei

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.649 Triliun di Bulan Mei

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 11:48 WIB

Dolar AS Menggila, Rupiah Tersungkur ke Level Rp17.658

Dolar AS Menggila, Rupiah Tersungkur ke Level Rp17.658

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 09:25 WIB

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 11:15 WIB

Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?

Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 09:41 WIB

Terkini

Ekspor Indonesia Terancam Melambat, Tarif AS dan Harga Komoditas Bayangi Semester II 2026

Ekspor Indonesia Terancam Melambat, Tarif AS dan Harga Komoditas Bayangi Semester II 2026

Bisnis | Sabtu, 04 Juli 2026 | 09:44 WIB

Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda

Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 22:12 WIB

Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax

Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 22:04 WIB

Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap

Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:35 WIB

Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City

Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:27 WIB

Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh

Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:20 WIB

Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru

Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:05 WIB

Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050

Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:51 WIB

Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026

Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:29 WIB

Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?

Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:17 WIB

×